
“Seru! Tapi tadi aku jatuh, pas main bola,” ucap Dokson sontak membuat Hara panik.
“Apa? Jatuh? Ada yang luka nggak?” tanya Hara.
“Sedikit. Tapi tadi Guru Shin udah obati lutut aku, jadi sekarang udah nggak sakit lagi,” ucap Dokson dengan penuh kebanggaan.
‘Wah … Dokson hebat banget, pinter! Ayo kita pergi, Om Donghyuk udah nunggu,” ajak Hara sambil menggandeng tangan kecil Dokson yang tiba-tiba menahannya dengan wajah bingung.
“Om Donghyuk? Siapa?” tanya Dokson — bingung.
“Ah … pasti kamu lupa ya, dia teman dekat mama Eunsun, dia baik kok, kamu nggak usah khawatir … ayo!” ajak Hara sambil menggandeng Dokson yang berjalan bersamanya.
Hara membukakan pintu dan menggendong Dokson masuk kedalam mobil — memakaikannya seatbelt agar aman selama perjalanan. Donghyuk melihat anak laki-laki tersebut dari kaca spion dalam, terakhir kali ia bertemu Dokson masih sangat kecil jadi mungkin dia sudah melupakannya.
“Hai Dokson! Masih ingat Om?” tanya Donghyuk.
“Nggak. Jadi Om yang namanya Donghyuk?” tanya Dokson.
“Yup! Dulu terakhir kali om liat sekitar dua … tiga tahun yang lalu, jadi mungkin kamu lupa …,” ucap Donghyuk bersamaan dengan Hara yang baru saja masuk ke dalam mobil.
“Dokson! Kamu lapar nggak?” tanya Hara mengalihkan pembicaraan.
“Iya.”
“Kamu mau makan apa?” tanya Hara.
__ADS_1
“Aku mau pulang saja, mau makan masakan mama,” tolak Dokson membuat Hara terdiam beberapa saat sambil memikirkan jalan keluar agar Dokson tidak langsung pulang.
Memang tidak ada alasan lain, ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Dokson yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri dan mungkin setelah ini dirinya akan sulit bertemu, lantaran ia akan disibukan dengan pekerjaan.
“Dokson, tante Hara boleh minta waktu kamu hari ini buat pergi sama tante, boleh ya …” ucap Hara mencoba membujuk Dokson. Membuat Donghyuk sedikit merasa heran dengan sikap Hara yang sedikit berbeda.
“Baiklah,” jawab Dokson sontak membuat Hara berteriak senang.
“Oke! Sekarang kita cari makan yang enak ya … Let’s go!” seru Hara sambil menyuruh Donghyuk untuk segera melajukan mobilnya.
***
Di sebuah pusat perbelanjaan. Hara, Donghyuk dan Dokson tampak begitu menikmati setiap langkah mereka melihat-lihat berbagai macam toko. Karena perut mereka lapar, jadi mereka mampir di salah satu restoran yang ada di sana.
Melihat Dokson yang makan begitu lahap membuat Hara merasa sangat senang. Ia harus menyimpan kenangan ini di otaknya. Hara tidak ingin melewatkannya sedetikpun. Begitu juga saat memandang Donghyuk yang begitu lahap memakan makannya.
Di sebuah tempat bermain bernana time zone dimana banyak sekali jenis permainan yang disukai oleh banyak orang begitu juga dengan Dokson yang langsung berlari ke arah permainan yang dia sukai. Hara hanya melihat Dokson dan Donghyuk yang menikmati setiap permainan game disana.
Hingga mereka berhasil mendapatkan banyak kupon yang bisa di tukar dengan berbaikan macam mainan. Wajah bahagia tampak jelas dari wajah Dokson saat berjalan sambil membawa sebuah mainan mobil yang sudah ia incar tapi karena tidak diperboleh oleh ibu dengan alasan mahal dan tidak berguna, tapi kini mainan itu ada di tangannya berkat hasil jerih payahnya memenangkan setiap game bersama dengan Donghyuk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Diperjalanan pulang, terlihat Dokson yang tertidur lepas sambil memeluk mainan karena kelelahan. Begitu juga dengan Hara yang tapak sudah kehilangan banyak energi hingga ikut tertidur di sepanjang jalan. Anehnya Donghyuk merasa ada yang mengganjal dengan sikap Hara hari ini. Namun ia mencoba untuk menunggu walau sedikit resah.
Hampir 15 menit Donghyuk menunggu Hara yang terlihat masih tertidur padahal ini sudah sampai depan rumahnya. Setelah mengantarkan Dokson, Hara masih belum bangun, dia begitu nyenyak seperti orang yang terkena bius. Hingga tiba-tiba matanya mulai terbuka — sontak Hara langsung terkejut — terbangun dengan wajah yang kebingungan.
“Udah bangun?” tanya Donghyuk.
__ADS_1
“Ah … maaf gue ketiduran ya, sorry …,” ucap Hara merasa tak enak hati.
“Nggak apa-apa, sudah sana masuk dan istirahat,” ucap Donghyuk dengan suara yang terdengar begitu lembut.
“Emm … sorry buat hari ini gue ngerepotin lo, padahal lo harus belajar,” ucap Hara.
“Nggak apa. Lo juga udah beliin gue baju. Anggap aja gue lagi kerja part time,” ucap Donghyuk.
“Haha … iya juga. Ya udah gue masuk dulu, lo hati-hati ya di jalan. Kalau udah sampai kabarin gue, thank you,” ucap Hara sambil melangkah keluar mobil — menutup kembali pintu mobil. Namun tiba-tiba Hara teringat akan suatu hal yang ingin disampaikan pada Donghyuk — Hara pun bergegas mendekati pintu mobil dengan kaca yang masih belum di tutup. “Hya! Kim Donghyuk!” saut Hara.
Sontak menoleh. “Eung, kenapa?” tanya Donghyuk.
“Dalam waktu kurang dari satu bulan, gue bakal pergi ke Paris,” ucap Hara dengan begitu santai.
Namun tidak untuk Donghyuk yang sontak terkejut — terdiam tanpa kata. “Maksud lo apa?”.
“Perusahaan gue bakal buka cabang di sana buat kerja sama, jadi beberapa karyawan dikirim untuk mengurusnya, gue salah satunya. Ini juga jadi kesempatan yang bagus buat pengalaman gue di dunia fashion.” ujar Hara yang perlahan membuat Donghyuk bisa memahami alasan Hara yang tiba-tiba bersikap aneh, seolah-olah dia akan pergi jauh. Ternyata dugaannya benar.
“Kalau begitu, itu kesempatan yang baik lah,” ucap Donghyuk mencoba untuk tetap mendukung Hara walau ia masih belum siap menerima kabar tersebut.
“Eung! Ini kesempatan yang baik buat gue. Sebenarnya gue belum kasih tau sama siapapun, lo orang pertama yang pengen gue kasih tau. Tadinya gue mau bilang beberapa hari sebelum berangkat, tapi gue khawatir jika bukan hari ini gue nggak sempat kasih tau sama lo, karena kita sama-sama saling sibuk,” ungkap Hara.
“Oke. Lakukannya dengan baik, oke!” ucap Donghyuk.
“Emm … tentu saja!” ucap Hara.
__ADS_1
“Yaudah, gue pulang ya …,” ucap Donghyuk mulai menyalakan mesin mobilnya.
“Iya. Hati-hati, bye!” sahut Hara sambil melambaikan tangan pada Donghyuk yang mulai melajukan mobilnya.