Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Kembali Berteman


__ADS_3

Hara masih terdiam sambil melihat sorot mata Donghyuk yang sepertinya bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Teman. Kenapa dirinya merasa ada yang mengganjal mendengar kata itu. Seperti ada sebuah penolakkan dalam dirinya. Namun mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa kembali dekat dengan Donghyuk walau benar-benar hanya sebagai seorang teman. Bukankah itu hal biak dibandingkan dirinya menjauh dan menjadi orang asing.


Sambil berusaha untuk tetap tersenyum. “Eung. Kita temenan,” jawab Hara.


Begitu juga dengan Donghyuk yang merasa lega, Hara tidak menolaknya sebagai seorang teman. Berada disisi Hara sebagai teman lebih baik dibandingkan harus menjauh dari Hara.


***


Hara dan Donghyuk saling bersulang dengan segelas bir yang mereka pegang masing-masing di depan Eunsun yang tampak begitu sinis — terheran-heran melihat kelakuan dua temannya yang sudah membuatnya melakukan banyak. Tapi lihat mereka, dengan santainya menikmati segelas bir dengan seporsi chicken.


“Kalian sudah baikkan? Sejak kapan?” tanya Eunsun.


“Kemarin,” jawab Hara.


“Sampai nggak bisa berkata-kata gue liat tingkah kalian bertuan. Entar berantem, terus baikan lagi, berantem lagi, baikan lagi. Awas aja, kalau sampai kalian bertengkar lagi!” ucap Eunsun yang kesulitan melanjutkan kalimatnya karena belum menemukan kata yang tetap untuk menghukum mereka berdua.


“Bakal apa …? Kasih kamu chikkent gratis?” ucap Donghyuk.


“Chicken gratis, pala lo! Enak aja! Bisa bangkrut bisnis gue!” omel Eunsun.


“Permisi, mau pesan!” saut salah satu pengunjung yang baru saja datang yang sotak membuat Eunsun teralihkan.


“Iya! Tunggu sebentar!” sahut Eunsun yang kemudian langsung menghampiri orang tersebut.


Hara dan Donghyuk hanya tertawa kecil, menertawakan Eunsun yang tidak jadi marah pada mereka karena ada pengunjung.


“Gimana kuliah lo …, udah dapat teman baru? Pasti mereka pada masih muda-muda ‘kan?” tanya Hara.


“Betul. Bahkan di hari pertama sudah ada yang ngajak gue ngedate,” ucap Donghyuk.


“Serius? Wah … anak jaman sekarang beda yah …,” ucap Hara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Terus lo terima?” tanya Hara.


“Nggak. Gue lagi nggak tertarik buat pacaran. Ngurusin tugas aja udah pusing.” ucap Donghyuk.


Hingga membuat Hara tanpa sadar tersenyum puas, hanya saja ia menyamarkanya dengan meneguk bir.

__ADS_1


“Lo sendiri, setelah putus dengan Ha Myung, nggak berniat buat pacaran lagi?” tanya Donghyuk.


“Nggak. Hidup gue aja udah sibuk, pacaran itu melelahkan …,” ucap Hara.


“Ahh … kakak gue udah pindah baru saja pindah apartemen, jadi apartemen lamanya buat gue.” ucap Donghyuk.


“Serius? Wah … enak dong!” ucap Hara.


“Lumayan … tapi kayaknya gue harus cari kerja part time, buat tambahan biaya hidup, sekalian cari pengalaman kerja,” ucap Donghyuk.


“Kerja part time? Emm … kira-kira apa yang cocok buat lo, nanti gue coba cariin deh!” ucap Hara.


“Thank you,” ucap Donghyuk.


Tidak lama Eunsun kembali menghampiri mereka.


“Hye! Eunsun! Restoran lo nggak ada lowongan part time?” tanya Donghyuk dengan sedikit pengharapan.


“Nggak ada. Restoran gue aja nggak rame, buat apa pakai pekerja part time,” ucap Eunsun dengan sinis langsung menjatuhkan mental Donghyuk. Tiba-tiba Eunsun teralihkan dengan panggilan masuk di ponselnya. “Oh, sayang. Kenapa?” tanya Eunsun yang berbicara dengan suaminya.


“Kamu ini apa-apa sih! Kenapa tiba-tiba ada rapat! Kamu ‘kan udah janji mau jemput, kalau Dokson marah gimana?” ucap Eunsun yang begitu emosi membuat Hara dan Donghyuk terdiam bingung.


“Iya maaf, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. Maaf ya, ya sudah aku tutup. I love you.” ucapnya yang kemudian langsung mematikan telepon tanpa memberikan kesempatan untuk Eunsun mengatakan sesuatu.


“Ah! Dasar dia ini!” gumam kedal Eunsun.


“Ada apa?” tanya Hara — khawatir.


“Hari ini Dokson ada kerja relawan di panti asuhan. Ayahnya janji mau jemput saat pulang kerja. Tapi dia tiba-tiba ada rapat. Siapa coba yang jaga restoran?” ucap Eunsun.


“Biar gue aja, emang dimana tempatnya?” tanya Hara.


“Serius? Lo mau jemput Dokson?”.


“Iya dong. Dokson ‘kan, juga keponakan gue, tentang ada Donghyuk, dia ‘kan bawa mobil,” ucap Hara sambil merangkul Donghyuk yang sontak mencoba menolaknya.

__ADS_1


“Siapa juga yang mau, lo aja sana!” ucap Donghyuk.


Namun Hara tidak memperdulikannya dan malah mengencangkan rangkulannya hingga membuat Donghyuk tak bisa berkutik. “Dimana alamatnya?” tanya Hara.


***


Donghyuk menghentikan mobilnya saat panah map sudah tidak lagi bergerak. Terlihat sebuah rumah putih yang berukuran cukup besar di mana terlihat banyak sekali anak-anak kecil di halaman rumah tersebut. Bukan hanya mobil milik mereka terparkir di sana, namun beberapa orang tua wali yang juga sedang menunggu anaknya.


“Lo tunggu sini aja, gue turun,” ucap Hara sambil melepas seat belt — melangkah keluar mobil.


Rasanya aneh menunggu berada ibu-ibu muda yang tampak mengobrol begitu asik. Hara sama sekali tidak memahami obrolan mereka hanya hanya diam melihat Dokson. Hingga tiba-tiba satu di antara segerombolan ibu-ibu muda itu menghampirinya.


“Saya belum pernah melihat anda. Kalau saya boleh tau anda wali murid salah satu dari mereka?” tanya seorang ibu muda yang bergaya seperti wanita sosialita, seperti ketua dari para sekumpulan ibu muda.


“Bukan. Saya lagi jemput keponakan saya,” jawab Hara.


“Ah … keponakan, pantas saja. Memangnya siapa keponakan kamu?”.


“Yang Dokson,” jawab Hara.


“Ahh … Dokson. Loh! Ibunya memang ke mana?”.


Rasanya benar-benar menyebalkan jika terus di lontarkan pertanyaan. Bagaimana bisa Eunsun sabar dengan orang-orang seperti ini. Sungguh melelahkan. Namun Hara tetap harus tersenyum ramah, demi Dokson dan Eunsun. “Karena nggak bisa, makanya saya yang jemput,” ucap Hara.


Setelah itu mereka kembali dengan obrolan-obrolan mereka dan akhirnya Hara terabaikan. Hanya bisa menghela nafas lega, Hara kembali memperhatikan Dokson yang sedang bermain dengan para anak panti asuhan.


Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya acara sukarela pun telah selesai. Para anak murid diperbolehkan untuk keluar dari panti. Mereka berlarian menghampiri ibu mereka dengan perasaan yang penuh rindu.


“Hya! Yang Dokson!! Di sini!” sahut Hara sambil melambaikan tangan pada Dokson yang terlihat sedang mencari-cari. Terlihat raut wajah tersenyumnya sambil berlari menghampiri Hara. Mereka saling berpelukkan layaknya ibu dan anak.


Sambil melepas pelukannya. “Tante Hara …? Loh! Papa dimana?” tanya Dokson.


“Kenapa? Dokson nggak suka, kalau tante Hara yang jemput?” tanya Hara dengan memasang wajah sedih.


“Bukan begitu. Aku seneng kok,” ucapnya.

__ADS_1


“Gimana tadi? Seru nggak main sama teman-teman?” tanya Hara mencoba mengalihkan pikiran Dokson tentang ibu dan ayahnya yang tidak menjemputnya, agar tidak membuat Dokson merasa patah semangat.


__ADS_2