
Hara dan Donghyuk menikmati semua makanan yang mereka pesan dengan lahap. Bahkan Hara sampai melupakan harga makanan yang ia makan karena terlalu menikmatinya. Beberapa kali Donghyuk benar-benar mengurusnya dengan sangat baik. Seperti menuangkan pasta ke dalam piringnya, memberikan potongan daging ke dalam piringnya hingga memudahkan Hara untuk makan.
“Makannya yang banyak … jangan sampai nggak habis …,” ucap Donghyuk sambil memberikan selembar tisu pada Hara. “Lap dulu mulut lo!” ucapnya yang tak sengaja melihat betapa kotornya mulut Hara yang hanya terkekeh dengan mulut yang penuh.
“Thank you …”
Hara mencoba menelan makan yang ada di dalam mulutnya sebelum ia ingin mengatakan, “Wah … disinis makannya enak benget, pantesan antriannya panjang.” ucap Hara.
“Iya … rasanya enak.” ucap Donghyuk.
“Tempat yang cocok buat pergi kencan, ya ‘kan?” tanya Hara secara tak sadar mengatakannya.
Donghyuk sempat terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan itu dan berpikir. “Lalu yang mereka lakukan, apa sama dengan berkencan?” tanya Donghyuk dalam pikirannya.
“Lo harus bawa pacar lo ke tempat ini juga. Pasti dia bakal senang …,” ucap Arin.
“Gue nggak punya pacar.” ucap Donghyuk sedikit merasa kesal akan kenyataan jika ternyata Hara mengatakan hal itu bukan mengaitkan moment saat ini.
“Serius?? Gue kira lo punya pacar. Terus yang sering ngobrol sama lo, anak kelas 12.4 itu bukannya pacar lo?” tanya Hara terkejut sekaligus bingung mendengar jawaban Donghyuk.
“Cuman temen …,” jawab Donghyuk.
“Ey … jangan bodong. Anak kecil aja bisa lihat kalau kalian pacaran. Kenapa? Kamu sama dia backstreet?” tanya Hara.
“Serius, dia bukan pacar gue. Tapi dia yang suka sama gue …” ucap Donghyuk.
Sontak Hara pun terdiam beberapa saat.
“Jadi ternyata bukan. Gue kira dia pacar lo … ternyata salah ya …” gumam Hara.
“Kalau dia pacar gue, kenapa gue harus makan sama lo, dasar bodoh!” ucap Donghyuk.
“Ah … iya juga yah … hehe …,” Hara terkekeh dengan polosnya tanpa menyadari maksud terselip dari perkataan Donghyuk dan semua perhatian yang dia dapatkan saat ini.
***
__ADS_1
Keesokkan harinya, setelah jam pelajaran olah raga berakhir, Arin dan Eunsun duduk santai di pinggir lapangan melihat kedua temannya yang sedang bermain di lapangan bersama teman kelas yang lainnya.
“Eunsun …” sahut Hara.
“Kenapa …?”
“Lo tau nggak restoran pasta baru, kemarin gue di traktir Donghyuk makan disana …” ucap Hara.
“WHAT?!!”
Sontak Eunsun terkejut mendengar hal itu dari mulut Hara yang begitu polos.
“Serius? Cuman kalian berdua?” tanya Eunsun.
“Emm …”
“Kalian pacaran ya …?” tanya Eunsun.
“EH …?!! NGGAK TUH!!! Kenapa tiba-tiba lo ngomong kayak gitu?” tanya Hara yang sontak terkejut akan ucap Eunsun yang tak masuk akal.
“Donghyuk, traktir gue sebagai permintaan maafnya dia. Udah itu doang …,” ucap Arin.
“Dia pasti sudah gila, atau memang lo nya aja yang nggak peka …” ucap Eunsun terheran-heran sambil menggelengkan kepalanya.
Hara terdiam karena tak mengerti maksud dari perkataan Eunsun yang sungguh tidak masuk akal.
“Udah ah … gue mau ikut main ya …,” ucap Eunsun yang tiba-tiba berlari pergi ke tengah lapangan meninggalkan Hara yang masih tampak kebingungan.
Tidak berselang lama Eunsun pergi, tiba-tiba Hara melihat dari kejauhan Taeil berjalan mendekatinya dan terlihat kelelahan setelah bermain basket. Nafasnya terengah-engah di hadapan Hara yang kemudian memberikan air untuk Taeil.
“Thank you …” ucap Taeil — meminum air tersebut hingga tak tersisakan.
“Kenapa kau tidak ikut main ?” tanya Taeil sambil duduk disamping Hara, tapi Taeil berusaha memberikan jarak lantaran dirinya yang terlalu berkeringat akan membuat Hara merasa tidak nyaman..
“Nggak apa-apa, cuman nggak ada yang bisa aku lakukan. Aku nggak bisa olahraga,” ucap Hara.
__ADS_1
“Hara … kamu masih ingat janji waktu itu ‘kan?” tanya Taeil.
“Nonton film bareng? Tentu saja … kenapa?” tanya Hara.
“Kita nonton yuk! Kayaknya ada film bagus, ” ajak Taeil.
“Emm … ayo!”.
“Kita ketemuannya di sana saja, sekitar jam 8 malam. Aku masih ada les soalnya,” ucap Taeil.
“Oke …,”.
***
Hara sudah di bioskop sampai beberapa menit yang lalu, ia duduk disebuah bangku untuk menunggu Taeil yang belum datang. Waktu sudah berjalan 20 menit, Taeil tak kunjung datang dan Hara terus menunggu dan menunggu hingga semua orang masuk untuk menonton karena film akan segera dimulai. Hara mulai merasa khawatir akan keterlambatan Taeil.Hara terus mengirim pesan pada Taeil dan juga menghubunginya tapi Taeil tak menjawabnya.
Hara sangat cemas, karena Taeil tak datang dan juga tak menghubunginya. Hingga filim selesai dan semua orang keluar dari dalam bioskop. Jika dihitung Hara sudah menunggu sekitar 3 jam. Kemudian Hara memutuskan untuk kembali menghubungi Taeil.
Tapi yang ia dengangar hanya.
“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif —” kemudian Hara pun mematikan ponselnya — menghela nafas sedih lantaran Taeil tampaknya benar-benar mengabaikan dirinya, entah apa yang terjadi pada Taeil saat ini. Akhirnya Hara memilih untuk pergi meninggalkan gedung bioskop.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Hara berjalan menuju halte bus. Wajahnya masih murung, karena ia sangat kecewa pada Taeil yang telah mengingkari janjinya. Ia sangat marah tapi ia tidak bisa marah pada temannya. Langkahnya sungguh tak bersemangat. Bahkan ia belum sempat makan malam. Ia sangat merasa lapar, tapi Hara bingung apa yang ingin ia makan karena ia juga merasa malas makan.
Cuaca semakin dingin dimalam hari. Hara tidak mengenakkan baju hangat. Hara merasa sangat kedinginan. Bulan ini sudah masuk musim dingin. asap putih yang keluar dari mulutnya. Mungkin saat ini suhu berada di 2 derajat. Hara mulai merasa jari-jari membeku begitu juga dengan bibirnya saat ia menunggu bus yang tak kunjung datang.
Kluruk kluruk …
suara perutnya yang berbunyi sebagai pertanda ia butuh asupan makanan. “ Ahh … aku lapar …!!” dengan suara tinggi karena kesal sambil melihat ke perutnya. Kemudian ia menegakkan kepalanya — berpikir apa yang ingin ia makan.
Namun tiba-tiba ekspresi wajah Hara berubah, kedua matanya terbelalak terkejut saat melihat seseorang yang tiba-tiba muncul di depan.
“HYA!!! LO NGAPAIN SIH?! BIKIN ORANG KHAWATIR TAU NGGAK!!” bentak Donghyuk dengan nafas yang terengah-engah — tatapan yang penuh dengan kekhawatiran membuat Hara hanya bisa terdiam.
“Kenapa bentak aku!!” ucap Hara yang kesal dirinya tiba-tiba dibentak di tempat umum seperti ini.
__ADS_1
“Kenapa di telepon nggak bisa??” tanya Donghyuk.