Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Ulang Tahun Donghyuk


__ADS_3

Jadi ia mencoba untuk membuat temannya itu memiliki aroma yang sesuai dengan umur, karakter dan penampilannya.


“Tolong di bungkus yang cantik ya …” ucap Arin.


“Apa ini untuk kado?” tanya pegawai kasir tersebut.


“Iya.”


“Baiklah … saya akan buat secantik mungkin. Mau dikasih surat ucapan?”.


“Boleh …,”


“Silakan …” ucapnya sambil memberikan Hara beberapa pilihan stiker surat.


Setelah memilih yang paling simple, Hara langsung memberikannya pada pegawai kasir yang sedang membungkus parfum tersebut dengan sangat cantik.


“Ini dia … sudah selesai,”


“Terima kasih, banyak ..” ucap Hara sambil menerimanya, lalu berjalan keluar toko.


Kini hanya tinggal satu lagi sebagai pelengkap yaitu cake ulang tahun. Hara berjalan ke arah toko cake yang beberapa saat yang lalu ia lewati.


Saat ia sudah naik bus, ia teringat, kalau ia harus menghubungi lagi Donghyuk agar tidak lupa datang ketempat yang sudah dijanjikan yaitu Namsan Tower. Hara memilih untuk mengirimkan pesan saja. Namun Hara terdiam bingung karena Donghyuk tak menjawab pesannya walau dengan online.


“Apa dia lupa?” tanya Hara dalam pikirannya. Namun Hara mencoba untuk tetap berpikir realistis. Mungkin saja Donghyuk sedang melakukan sesuatu hingga belum sempat membalas pesannya. Akan tetapi pesannya benar-benar terabaikan hingga bus sampai di dekat Namsan Tower. Hara memutuskan untuk duduk di halte bus terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi situasi Donghyuk saat ini yang masih belum membalas pesannya.


Karen khawatir Hara memilih untuk menelepon Donghyuk. Namun tetap saja Donghyuk masih tidak menjawab panggilannya sebagai lima kali secara berturut-turut.


***

__ADS_1


Tanpa Hara ketahui. Disisi lain yang menjadi alasan Donghyuk tak membalas pesannya atau menjawab panggilan darinya itu semua dikarenakan karena saat ini Donghyuk sedang bermain bola bersama dengan teman-teman di lapangan. Ia sangat bersemangat hingga ia lupa dengan janji yang sudah ia buat dengan Hara malam ini. Ia tidak tahu bawah Hara menghubunginya, karena memang ia meninggalkan ponselnya di tas yang terbuka.


Karena merasa lelah, Jongin berhenti bermain dan duduk dibangku sambil menenguk sebotol air, sedangkan teman-teman yang lainnya melanjutkan permainan. Jongin merasa mendengar ada suara ponsel yang sedang bordering, ia memeriksa ponselnya, tapi tidak bordering.


“Ponsel siapa ya …?” tanya Hara sambil mencari-cari keberadaan ponsel yang sedang berdering itu. Setelah dicari-cari ternyata suara itu berasal dari ponsel milik Donghyuk. “Eh?! Bocah kecil …? Siapa ? Perasaan dia nggak punya ade. Tapi kenapa nama kontaknya, Bocah kecil?” ucap Jongin yang merasa bingung saat membaca nama yang menelepon Donghyuk.


“HYA ..,! Dong Hyuk!! Kim Donghyuk!! Ada yang nelpon lo!!” saut Jongin sambil berteriak agar terdengar oleh Donghyuk yang sontak menoleh dan berlari ke arahnya.


“Kenapa?!!”. sambil mengambil handuk di atas bangku untuk mengelap keringat yang membasahi kepalanya.


“Ada 15 panggil tidak terjawab dari Bocah kecil.” jawab Jongin sambil memberikan ponsel tersebut pada pemiliknya.


“HAH!!” Sontak membuat Donghyuk terkejut hingga hampir menjatuhkan ponselnya karena ia baru mengingat hal yang ia lupakan. Tentang janjinya dengan Hara bertemu di Namsan Tower.


Jongil yang duduk di hadapan Donghyuk sontak ikut terkejut dan bingung saat melihat temannya yang tampak terburu-buru, berlari meninggalkan lapangan tanpa mengatakan apapun..


***


Donghyuk terus berlari menuju halte bus, ia terus berkerut karena merasa kesal pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya melupakan suatu hal yang penting. Ia juga merasa khawatir jika di cuaca sedingin ini Hara menunggunya sendirian dengan bodoh.


Saat ia melihat bus yang ingin berhenti, Donghyuk langsung masuk sesaat pintu dibuka. Ia duduk sambil melepaskan rasa lelah setelah berlari. Ia terengah-engah hingga keringatnya bercucuran. Ia masih khawatir pada Hara, ia mencoba menghubunginya tetapi tidak ada jawaban.


Donghyuk pun akhirnya sampai di Namsan Tower, berlari mencari keberadaan Hara di tengah banyaknya pengunjung yang datang. Tapi sesaat ia sampai sana, ia sama sekali tidak melihat Hara. Kepanikkan Donghyuk semakin bertambah, ia pun mulai mencari Hara ke seluruh daerah Namsan Tower. Tapi tetap saja, Hara tidak ada dimana-mana.


Donghyuk menghentikan langkahnya untuk beristirahat. Ia masih terengah-engah karena kelelahan. Ia mengambil ponselnya dan mencoba untuk kembali menghubungi Hara. Tiba-tiba ia mendapatkan panggilan masuk dari Hara. Lantas tanpa berpikir panjang, Donghyuk langsung menjawabnya.


“HYA!! LO DIMANA!! KENAPA NGGAK ANGKAT TELPONNYA?!!” bentak DongHyuk hingga orang-orang disekitarnya melihatnya dengan pandangan aneh.


Hara yang mendengarnya langsung terkejut dengan spontan menjauhkan ponsel dari telinganya, Hara bingung kenapa tiba-tiba Donghyuk malah membentaknya yang bahkan sudah jelas jika ini kesalahan Donghyuk yang tidak datang.

__ADS_1


“Kenapa bentak gue sih?!” tanya Hara yang juga ikut meninggikan suaranya karena kesal.


“Sekarang lo ada dimana? Kenapa gue cari lo dimana-mana nggak ada?!” tanya Donghyuk.


“Lo di Namsan Tower?” tanya Hara bingung. “Sekarang gue di minimarket deket rumah gue, habisnya lo lama. Gue sampe beku kedinginan nungguin lo, jadi gue balik aja. Hp gue juga batrenya habis. Lo sendiri kenapa malah ingkar janji …?!” ujar Hara yang kesal terhadap sikap Donghyuk yang selalu saja menyalahkan dirinya.


“Gue kesana … jangan kemana-mana!”


“Nggak!! Kita nggak usah ketemu!!” ucap Hara yang kemudian langsung mematikan ponselnya karena terlalu kesal.


***


Donghyuk terus berlari menuju rumah Hara tanpa memperdulikan apapun. Namun sekelebat matanya melihat sosok yang tak asing sedang duduk sendirian di taman bermain kanak-kanak. Donghyuk langsung menghentikan langkahnya, menoleh ke arah cewek yang terlihat menatap ke arahnya juga. Tanpa pikir panjang, Donghyuk langsung berlari ke arah ayunan — berdiri di hadapan Hara yang tampak bingung — Donghyuk mencoba mengendalikan nafasnya yang terengah-engah karena kelelahan berlari.


“Maaf … gue terlambat …” ucap Donghyuk dengan nafas yang tersengal-sengal.


“Lo lari …? gue udah bilang nggak usah dateng.” ucap Hara dengan sinis.


“Gue takut lo masih nungguin gue. Maaf … gue bener-bener minta maaf …” ucap Donghyuk.


“Duduk …!” ucap Hara sambil mengedikkan dagu nya ke arah ayunan di sampingnya.


Donghyuk pun langsung menuruti apa yang Hara suruh.


Suasana tiba-tiba menjadi hening saat Hara yang tampak sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam paperback. “Bisa tutup mata dulu nggak?” tanya Hara.


“EH?! Tutup matanya? O—oke …” jawab Donghyuk — bingung tapi dia tetap menutup matanya.


Diam-diam Hara mengeluarkan cake ulang tahun yang ia beli tadi. Menyalakan tiga lilin walau sedikit kesulitan karena hembusan angin malam, tapi akhirnya Hara berhasil membuatnya. Sambil beranjak dari tempat duduk — berdiri di hadapan Donghyuk. “Buka matanya!” ucap Hara yang kemudian mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersamaan dengan Donghyuk yang membuka matanya.

__ADS_1


__ADS_2