Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Kecanggungan


__ADS_3

Tiba-tiba Donghyuk datang dan langsung duduk disampingnya. “Gimana? Udah baikkan?” tanya Donghyuk sambil memberikan sebuah es krim pada Hara yang terdiam beberapa saat dan hanya memandangi es krim tersebut di tangannya. “Kenapa cuman diliatin saja? Cepat ambil, nanti keburu melelah!” ucap Donghyuk.


Hara pun menerimanya, pandangannya kembali kedepan. Sesungguhnya saat ini ia sedang menahan rasa malu karena dengan bodohnya menangis di depan Donghyuk. Tak ingin es krim yang ada di tangannya meleleh, Hara segera memakannya.


Mereka hanya diam dalam keheningan malam menikmati pemandangan malam sambil memakan es krim. Walau ini sudah mulai masuk musim dingin tetap saja es krim paling enak dimakan saat perasaan tidak baik-baik saja.


"Gue nggak mau tanya, kenapa tiba-tiba gue nangis?” tanya Hara memberanikan diri memulai percakapan setelah begitu lama ia terdiam.


“Emangnya nggak apa-apa kalau gue tanya? Kalau itu sulit buat diceritakan, nggak apa. Bahkan lo udah melewati masa sulit, kalau lo membicarakannya lagi itu sama saja membuka luka yang belum mengering,” ungkap Donghyuk.


Perkataan Donghyuk yang terdengar begitu bijak membuat Hara tersenyum. Tidak disangka orang seperti Donghyuk bisa mengatakan kalimat bijak.


“Lo nggak laper? Kalau gue laper. Ayo kita cari makan!” ajak Donghyuk sambil meloncat ke bawah.


Hara menganggukkan kepalanya. Mencoba memutar tubuhnya, tak disangka tempatnya lebih tinggi dibandingkan ia ia kira membuat Hara sedikit takut.


“Mau gue bantu?” tanya Donghyuk.


“Em!” angguk Hara sambil mengulurkan tangannya pada Donghyuk.


Kedua mata Donghyuk bergetar saat melihat tangan Hara yang diulurkan padanya. Dengan sigap Donghyuk menggapainya dan membantu Hara agar bisa turun. Setelah berhasil, mereka berjalan bersama untuk mencari restoran terdekat untuk mengisi perut yang lapar.


***


Di sebuah pertigaan jalan yang dipenuhi rumah-rumah warga. Menghentikan langkahnya tepat di bawah lampu jalan yang tampak sedikit redup dan beberapa kali berkedip-kedip. Begitu juga dengan Donghyuk, ia berdiri berhadapan dengan Hara.


“Sudah sampai! Rumah gue ada di ujung sana,” ucap Hara sambil menunjuk ke arah rumahnya yang hanya tinggal beberapa meter lagi.


Setelah menghabiskan waktu bersama membuat Hara merasa canggung dengan situasi saat ini. Sosoknya yang tidak pernah diperlihat pada siapapun akhirnya harus terlihat oleh sosok Donghyuk yang selalu menjahilinya. Sedikit ada perasaan khawatir bagaimana hari esok dirinya malah menjadi bahan candaan Donghyuk.


“Tolong lupain kejadian hari ini,” pinta Hara.

__ADS_1


Donghyuk hanya terdiam menatap Hara dengan begitu intens membuat Hara yang menyadarinya langsung menjadi salah tingkah. Hal ini lantaran, Donghyuk merasa jika gadis polos sudah salah paham akan dirinya. Perkataan itu terdengar jika dirinya begitu menakutkan bagi Hara.


“Jangan menatap dengan tatapan seperti itu!” ucap Hara mencoba sebisa mungkin mengalihkan pandangannya.


“Iya. Gue udah lupa kok. Jangan khawatir,” ucap Donghyuk sambil mengalihkan pandangannya, perih rasanya melihat Hara salah paham akan dirinya.


“Dan juga, makasih buat semuanya,” ucap Hara.


“Em.” Donghyuk mengangguk dan tanpa sadar tangannya membelai rambut Hara dengan lembut.


Sontak membuat kedua mata Hara terbelalak saat ia merasakan rambutnya dielus, sungguh Donghyuk bersikap aneh sepanjang hari ini. Dia menjadi sosok orang yang jauh lebih baik dan perhatian.


Donghyuk yang segera menyadarinya langsung menarik tangannya kembali. Sial.


“Lain kali jangan menangis di sembarang tempat,” ucap Donghyuk mencoba untuk mengalihkan suasana yang semakin canggung ini.


“Cih! Iya gue juga tau!”.


“Em, gue masuk. Bye!” ucap Hara sambil melambaikan tangannya dengan canggung lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Donghyuk yang kemudian ikut berjalan pergi ke arah ke mana ia datang.


***


Di lorong menuju ruang kelasnya, Hara terus berjalan sendiri dengan wajah yang sangat datar. Hingga tanpa ia sadari ada seseorang yang menyapanya dari arah berlawanan, dia adalah seorang lelaki tampan dan tubuhnya tinggi, rambutnya berwarna pirang kecoklatan. Sontak Hara bingung, membalikkan tubuhnya ke arah lelaki tampan itu pergi, sepertinya ia pergi ke arah kantor Guru. Wajahnya tampak tidak asing, tapi juga ia tidak mengenalnya. Tak ingin otaknya digunakan untuk memikirkan hal-hal yang tidak jelas, Hara memilih untuk melanjutkan langkahnya.


Sesampainya ia di kelas yang sudah ramai, Hara masuk lewat pintu depan, ia langsung menghampiri temannya dengan senyum lebar, dan sapaan yang penuh semangat,


“Good morning, semua!” sapa Hara dengan semangat sembari berjalan menghampiri mejanya. Sedangkan teman-temannya hanya memandang Hara dengan pandangan heran dan terdiam karena kebingungan.


“Kenapa kalian memasang wajah kayak gitu? Apa ada yang salah?” tanya Hara bingung.


Namun tiba-tiba Eunsun berdiri, meletakan kedua tangan di wajah Hara, menjepitnya dengan sangat kencang.

__ADS_1


“Lo nggak apa-apa ‘kan, Hara? Apa ada yang sakit? Serius lo nggak apa-apa?” tanya Eunsun yang merasa panik.


Hara yang hanya bisa pasrah saat tubuh terpontang-panting ke kanan dan ke kiri karena Eunsun. Dengan mulut yang terjepit, Hara mencoba mengatakan sesuatu, “Aku nggak apa-apa.”


“HAH! Gue nggak dengar?” tanya Eunsun.


“Ya … lo lepas dululah, tangan lo! Gimana dia mau bisa jawab, bodoh!” ucap Hyerin heran dengan kelakuan teman-temannya.


Eunsun langsung melepaskannya setelah menyadari hal tersenyum dan terkekeh tanpa rasa bersalah. “Ahh … lupa! Sorry, abisnya … lo kemarin tuh, aneh banget tau!!” ucap Eunsun.


“Iya benar, lo kemarin aneh banget. Habis kerasukan apa?” tanya Yongsoo.


“Lo marah sama kita?” tanya Hyerin.


“Nggak! Cuma … emang lagi aneh aja gue, hehe … sekarang udah nggak apa-apa. I’m okay, i’m Hara,” ucap Hara dengan penuh percaya diri.


“Hihh … kalau ada apa-apa setidaknya cerita,” ucap Eunsun sambil merangkul Hara.


“Emangnya kalau cerita, lo bisa menyelesaikan masalahnya dia?” tanya Hyerin begitu realistis membuat Eunsun terdiam.


“Cih!! Sialan ….” Eunsun tak bisa membela dirinya.


Mereka tertawa melihat Eunsun yang terpojok dan salah tingkah karena ucapan Hyerin. Karena kesal Eunsun langsung merangkul Hyerin dan mereka saling bertengkar seperti anak kecil. Namun hal itu membuat mereka tampak sangat lucu, membuat mereka tertawa senang. Akan tetapi tiba-tiba Hara berhenti tertawa saat melihat Donghyuk yang baru saja datang lewat pintu belakang dan mereka saling bertatap-tatapan dengan tatapan canggung. Namun kemudian Hara langsung mengalihkan tatapannya pada teman-temannya sedangkan Donghyuk berjalan menuju tempat duduknya.


Bel masuk pun berbunyi, para murid yang masih diluar segera masuk ke dalam kelas. Kelas menjadi sangat ricuh karena guru Han tak kunjung datang, ini adalah jam pelajarannya. Mereka masih asyik mengobrol-ngobrol. Tak lama guru Han pun datang hingga membuat semua mulai bergegas duduk dibangku mereka masing-masing.


“Pagi semuanya …,” sapa Pak Han.


“Pagi ….”


“Anak-anak sekalian, hari kelas kita kedatangan murid pindahan,” ucapnya yang seketika membuat kelas kembali ribut karena bertanya-bertanya.Mereka tak sabar ingin mengetahui siapakah murid baru tersebut.

__ADS_1


__ADS_2