
Hara masih memikirkan kejadian sepulang sekolah di mana Donghyuk yang membentaknya. Menghempaskan tubuh ke atas kasur setelah lelah mengerjakan tugas, Hara termenung memikirkan apa kesalahan yang telah ia lakukan hingga Donghyuk marah padanya.
“Apa karena gue jatuh terus jatuhnya ngebebanin dia?” tanya Hara mencoba mencari jawaban dengan pemikirannya sendiri.
“Tapi itu ‘kan nggak sengaja, lagi pula dia bisa saja menghindar dan memilih buat nggak nolongin gue. Tapi kenapa dia marah?? Apa karena gue sering nyontek tugas? Tapi Eunsun, Hyerin, Yongsoo juga sama …?? Kok jadi bikin orang kepikiran sih! Nyebelin!!” gumam kesal Hara sambil memiringkan tubuhnya — sambil memeluk guling.
Perasanya sungguh mengganjal jika belum bisa mengetahui penyebab Donghyuk marah. Bagaimanapun dirinya masih satu teman kelas dan sering bertemu, jika terus dalam hubungan yang seperti ini rasanya tidak akan nyaman.
***
Kelas tampak ricuh karena ada jam kosong. Hara dan Eunsun berjalan melewati koridor sambil membawa tumpukan buku milik teman-teman sekelasnya. Buku yang baru saja setelah di nilai oleh Guru Han dan mereka diperintahkan untuk membagikannya.
Sesampainya di kelas, Hara dan Eunsun berdiri di depan kelas dan mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka terhadapan Hara dan Eunsun.
“PERHATIAN SEMUANYA!!!” teriak Eunsun yang sontak membuat semua mulai terdiam dan semua perhatian tertuju pada mereka.
“Good. Pak Han sudah selesai menilai tugas kalian, jadi tolong diam selama gue panggilin nama-nama kalian. Oke!!” ucap Eunsun.
“SIAP!!”
“Dalpo! Jaehyuk! Hyunsik! Hyerin!”
Satu persatu nama yang disebut mulai berjalan menghampiri Hara yang memberikan buku mereka masing-masing. Hingga tinggal beberapa nama terakhir yang belum disebutkan oleh Eunsun.
“Yongsoo! Taeil! Yura! Donghyuk!”
Semua berjalan baik-baik saja saat Hara memberikan buku tersebut pada pemiliknya. Namun raut wajah Hara seketika berubah muram saat melihat Donghyuk yang mulai berjalan menghampirinya. Hara merasa sedikit takut melihat ekspresi wajah Donghyuk yang begitu sinis dan cuek, bahkan saat hara memberikan buku itu pada Donghyuk, dia mengambilnya dengan kasar dan suasana menjadi dingin di antara Hara dan Donghyuk.
__ADS_1
Saat Donghyuk berbalik — berjalan kembali ke tempat duduknya, Eunsun menyadari raut wajah sedih Hara yang menatap ke arah Donghyuk. Ia hanya bisa menghela nafas melihat kelakukan Donghyuk yang sangat kekanak-kanakkan hingga membuat Hara terus merasa bersalah tanpa tahu penyebabnya. Eunsun berpikir jika hal ini tidak bisa ia biarkan begitu saja. Ia harus membantu untuk memperbaiki dimana kesalahannya.
Setelah selesai, Hara dan Eunsun kembali ke meja mereka masing-masing. Suasana hati Hara menjadi tidak baik setelah dirinya lagi-lagi diperlakukan sinis oleh Donghyuk. Energinya seakan terkuras habis, membuat Hara memilih untuk tidur di mejanya di saat ketiga temannya mengobrol.
Diam-diam Eunsun dan kedua temannya merencanakan sesuatu untuk mengembalikan hubungan baik antara Hara dan Donghyuk.
“Hara … kita mau ke toilet ya,” ucap Eunsun.
Namun Hara hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka bergegas pergi keluar kelas untuk mendiskusikan perihal Hara dan Donghyuk yang sedang perang dingin.
Dari tempat duduk Taeil sudah memperhatikan Hara sejak tadi. Ia pun berjalan menghampiri Hara — duduk dibangku milik Hyerin tapi tubuhnya menghadap ke belakang, ke arah Hara yang sedang tertidur dengan kedua tangan yang menutup wajahnya.
Tuk tuk tuk …
Tail mengetuk pelan meja Hara yang perlahan mulai menunjukan wajahnya yang terlihat tidak baik-baik saja. Taeil mencoba untuk tersenyum dengan hangat. “Kenapa kamu kelihatan nggak baik-baik saja? Ada yang sakit?” tanya Taeil.
“Nggak, cuman ngantuk aja. Kenapa?” tanya Hara.
Perlahan Hara mulai beranjak — menegakkan tubuhnya yang terasa lemas. Terdiam beberapa saat sambil memikirkan, apa dirinya mengatakan hal jujur pada Taeil, karena sepertinya dia sudah mengetahui apa permasalahannya dan sepertinya Taeil orang yang bisa di percaya.
“Emm …,” Angguk Hara sambil menghela nafas berat. “Sebenarnya aku masih nggak tau dimana kesalahanku, tapi sikap dia itu nyebelin banget,” ucap Hara yang akhirnya memberanikan diri untuk mengadu tentang apa yang sedang dia rasakan.
Perlahan Hara mulai bercerita semua yang ia rasakan pada Taeil yang mendengarkannya dengan sangat baik. Hal itu membuatnya merasa nyaman walau hanya didengarkan saja. Ini bukan berarti dirinya tidak percaya akan ketiga temannya, hanya saja Hara khawatir jika ia bercerita tentang Donghyuk, mereka akan salah paham dan bisa saja mengira jika ada sesuatu di antara dirinya dan Donghyuk.
“Jadi begitu …” ucap Hara.
“Em … sekarang aku mulai paham apa maksud kamu. Aku rasa kalian hanya salah paham, bukan deh … tapi Donghyuk hanya salah paham dan karena egonya dia enggan untuk mengatakan maaf sama kamu. Bagaimana kalau kita menunggu aja, aku rasa dia hanya butuh waktu. Bagaimana …?” tanya Taeil.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Emm …, daripada kamu terus bertarung dengan pikiran kamu yang malah buat diri sendiri lelah, lebih baik kita tunggu. Terkadang manusia hanya perlu waktu untuk merenungkan diri, terlepas dari dia salah atau tidak salah.” ujar Taeil.
Hara terdiam mencoba untuk mempercayai ucapan Taeil yang mungkin saja memang benar adanya. Tidak disangka hatinya merasa jauh lebih baik setelah meluapkan semua pada Taeil. Energinya yang terkuras tiba-tiba mulai terisi kembali.
“Lo suka coklat?” tanya Taeil.
“Eung! Suka banget!”.
“Ini … makan buat kamu,” ucap Taeil sambil memberikan sekotak coklat yang sengaja ia beli untuk diberikan pada Hara.Dirinya benar-benar memiliki waktu yang pas setiap ingin melakukan sesuatu untuk hara. Tampaknya alam sedang berpihak padanya. Sebuah peluang besar untuk masuk ke dalam hatinya Hara kembali.
Lantasan Hara langsung tersenyum saat melihat sekotak coklat yang dilumuri bubuk coklat. Ia mulai mencicipinya. Saat coklat itu masuk kedalam mulutnya dan lumer di dalam, seketika mood Hara seperti kembang api yang meledak di atas langit. Senyum sumringah terlihat jelas di wajah Hara. Sungguh sederhana membuatnya bahagia.
Saat Hara yang sedang menikmati coklat pemberiannya, diam-diam Taeil mengirimkan pesan pada Donghyuk, bertuliskan.
| Ayo bertemu di lapangan.
Tak lama Taeil mendapatkan balasan dari Donghyuk.
| Gue lagi di lapangan.
“Hara …,” sahut Taeil.
“Iya?”
“Gue pergi dulu ya,” ucap Taeil sambil beranjak dari bangku.
__ADS_1
“Emm … makasih ya, buat coklat dan semuanya,” ucap Hara.
Taeil hanya tersenyum dan memberikan sentuhan lembut — mengelus kepala Hara seperti anak kucing, sebelum ia kemudian berjalan keluar kelas untuk menemui Donghyuk. Berjalan melewati koridor sekolah dengan niat untuk menghajar Donghyuk karena sudah membuat Hara melewati waktu yang sulit, ia tidak bisa membuatkan Donghyuk terus saja bersikap seenaknya pada Hara.