
Woww! Pemandangan yang indah sekali.Baru kali ini aku pergi ke toko bunga.Berbagai macam bunga ini sangat memanjakan pandanganku.Dan semerbak harumnya membuatku serasa melayang.
Bukannya aku nggak pernah lihat toko bunga,sih.Tapi biasanya cuma lewat doang.Untuk apa juga aku beli bunga.Buang-buang duit.Karena tak lama bunga layu dan dibuang.
"Ras,bantu aku pilih bunganya,dong!",ujar Hendra.
"Eh,bukannya mau beli mawar putih,ya!"
"Mawar putihnya nggak ada.Kosong!"
"Hmmm..Apa,ya?Aku bingung,Hen!Aku nggak tau sama sekali tentang bunga.Ini aja aku baru pertama kalinya pergi ke toko bunga".
"Hmmm..Apa,ya!Ya,udah kalau gitu kita pulang aja!",ujar Hendra sambil melangkahkan kakinya keluar dari toko.
Tapi aku menarik tangannya."Tunggu,Hen.Kayaknya bunga itu bagus!",ujarku sambil menunjuk ke salah satu bunga yang sedang dipajang berjejer di dekat pintu.
"Hmmm..Iya,bagus,sih.Tapi Ibuku mau nggak,ya?".Dahi Hendra berkerut.Tanda ia sedang berpikir keras.
"Ya,udah.Dibelikan aja.Bunganya bagus, kok!", kataku."Bunga apa ini namanya?"
"Ohh,ini bunga tulip putih", katanya."Ya,udah.Aku beli,ya.Nanti aku bilang ini pilihan kamu,ya!"
"Ya!", kataku sambil tersenyum kecil.
Hendra mencubit pipiku.
"Aduhhh!Kok kamu nyubit pipiku!",seruku.
"Habis kamu imut,sih.Aku nggak tahan!"
Kucubit lengannya.
"Aduhhh!",teriaknya.
"Rasakan.Itu balasannya.Haha!"
Hendra kemudian tertawa dan mengacak-acak rambutku.
"Mbak,yang ini aja.Tolong bungkuskan!",ujar Hendra ke penjaga toko bunga.
"Iya,Mas.Ini aja?",jawab penjaga itu.
Hendra mengangguk.
--
Sesampainya di rumah Hendra.Di rumah Hendra sudah ramai,banyak orang.Di depan rumah telah terparkir sebuah mobil ambulans.Suara sirinenya meraung-raung memekakkan telinga.
"A..Ada apa ini?",tanya Hendra ke salah seorang yang berdiri di situ.
"Ibumu,Hen!",kata orang itu.
"Ibu..Ibu kenapa,Pak?"
__ADS_1
"Ibumu.Percobaan bunuh diri.Dia menusuk perutnya dengan gunting!"
"Apaaa!!!Ibuuuuu!!!!",teriak Hendra sambil berlari ke tubuh Tante Fika yang terbujur kaku di atas brangkar.Matanya terpejam dan mulutnya tertutup rapat.Selang infus mengalir melalui pembuluh venanya.Dan di mulutnya terdapat selang oksigen."Ibuuu..Bangun,Bu!Ini Hendra udah datang,Bu!". Hendra berusaha menggoncang-goncang tubuh ibunya.
"Dik.Adik siapa?",tanya seorang paramedis.
"Saya anaknya,Bu"
"Kalau gitu,ayo naik!Ikut ke Rumah Sakit!"
"Aku temani kamu,ya?",ujarku.
Hendra mengangguk.
--
Kami duduk di depan Kamar Bedah.Dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa Tante Fika.
Hendra berwajah murung.Air matanya sesekali keluar dari pelupuk matanya."Semua ini gara-gara aku.Semua gara-gara aku!!!",ujar Hendra.Dia memukul-mukul kepalanya.
Aku menahan tangannya."Bukan,Hen.Bukan karena kamu.Ini bukan kesalahan kamu!"
Hendra memelukku.Air matanya tumpah membasahi tubuhku.Aku berusaha menenangkan dia dengan mengelus-elus punggungnya."Sudah,Hen.Yang sabar,ya.Kita berdoa aja.Semoga Tante Fika baik-baik saja".
"Tapi..Tapi.. Seandainya aku nggak berantem dengan Ibu tadi pagi.Seandainya aku nggak ngungkit masalah Ayah.Pasti Ibuku nggak mungkin ngambil jalan pintas kayak gini,Ras.Waaaa!".Tangis Hendra membuncah kembali.
"Sudahlah,Hen.Yang ikhlas,ya.Yang tabah!"
TAK!TAK!TAKKKK!
"Tante Fika!Tante Fika gimana,Hen?Aku dengar Tante Fika percobaan bunuh diri,ya?",kata Satrio.
Hendra mengangkat kepalanya.Dia melihat ke arah Satrio sebentar.Tapi kemudian dia kembali menundukkan wajahnya.
"Yang sabar,ya,Hen.Aku turut bersedih.Walau bagaimanapun aku sudah menganggap Tante Fika sebagai Ibuku sendiri.Saat Ibu jarang di rumah.Tante Fika selalu menemaniku".Tak sadar air mata Satrio juga keluar dari pelupuk matanya.
Tak kusangka Satrio juga memiliki hubungan yang erat dengan Tante Fika.Dan sekarang,dua orang cowok itu sedang menangis dan berpelukan.
Brak!
Pintu kamar bedah terbuka.
"Bagaimana keadaan Ibu saya,Dok?",tanya Hendra.
"Ibu Fika sudah melewati masa kritisnya.Adek berdo'a aja,ya, untuk pemulihannya.Pembuluh vena yang nyaris putus,sudah dijahit.Untung Ibu Fika dibawa tepat pada waktunya".
"Te.. Terimakasih,Dok!"
"Tu,kan.Aku bilang apa.Pasti semuanya baik-baik saja".
Hendra memelukku erat."Te.. terimakasih,Ras.Kamu sudah mendukungku sampai sejauh ini".
Aku tak mampu berkata-kata.Kulirik Satrio.Wajahnya terlihat masam.
__ADS_1
--
Keesokan harinya Hendra mengirim pesan kepadaku kalau Tante Fika sudah boleh dijenguk.Aku berencana menjenguknya sepulang sekolah nanti.
Aku berjalan melalui koridor sekolah menuju ke kelasku.Aku hampir saja terlambat.Karena aku menemani Hendra sampai larut malam di Rumah Sakit.
Karena sedikit terburu-buru.Aku nggak melihat ke sekeliling.
Brukkk!!!
Aku terjatuh , terjerembab di lantai.
"Hahahaha", Jojo dan gengnya menertawakan aku.
Aku berdiri dengan geram."Jojo!Pasti kamu,kan!Pasti kamu yang menjegal kakiku sampai aku jatuh!"
"Hahaha.Siapa suruh kamu kegenitan!",jawab Jojo.
"Kegenitan?Kegenitan apa?"
"Ini pelajaran buat kamu.Berani-beraninya kamu ngegodain Satrio,ya!"
"Ngegodain?Ngegodain apa?Bukan aku yang ngedeketin dia!Tapi dia yang ngedeketin aku!"
"Sok kecakepan kamu,ya!Mana mungkin Satrio yang ngejar-ngejar kamu!Kamu halu,ya!"
Plakkkk!
Jojo menampar pipiku.
"Aduuhhh!",aku terjatuh.
"Heiiii!!!Kamu cuma pembantu di rumahku,ya!",Kata Jojo.Kemudian dia memandang ke anak-anak yang mengerubungi kami."Heiiii,kalian dengar,ya!Laras ini cuma pembantu di rumahku!Ibunya punya hutang banyak ke Ibuku!Jadi untuk membayarnya,dia jadi pembantu di rumah dan minimarketku!Dan.. Berani-beraninya,pembantu ini ngedeketin Satrio!"
"Huuuuuu!",teriak mereka dengan nada mengejek.
"Dan di Pulau Bali orang tuanya...",belum selesai Jojo berbicara.Aku segera bangun dan menyerangnya.Kujambak rambutnya sampai rontok.Aku nggak mau orangtuaku dibawa-bawa jadi bahan hinaannya.Dia boleh menghina aku,tapi dia tidak boleh menghina Ayah dan Ibuku.
"Ramm...Rambutku!!",Jojo terperangah seakan-akan dia tidak percaya aku berani menjambak rambutnya sampai rontok.
"Makanya jaga mulut busukmu itu!Atau kamu mau kujambak semua rambutmu sampai botak!Mau?"
"Dasar,kau bajingan!!!",Jojo dengan geram menjambak rambutku.
Aku pun tak mau kalah darinya Aku juga menjambak rambutnya.Jadi, sekarang kami jambak-jambakan.
"Heeeiiiiii!!!! Berhentiii!",Satrio datang berusaha melerai kami.
Melihat Satrio datang,Jojo melepaskan jambakannya.Begitu juga dengan aku.Aku jadi malu,Satrio melihat aku dalam keadaan begini.Baju dan rambutku acak-acakan.
"Satrio,ini salah Laras.Dia yang duluan menjambak rambutku",ujar Jojo.Dia menggelayut manja di lengan Satrio.
Tapi Satrio malah merasa risih dan menarik tangannya."Diam kamu.Kamu kira aku nggak lihat?Kamu yang mengganggu Laras duluan!"
__ADS_1
Kemudian Satrio berkata lagi dengan suara lantang."Dengar,ya,kalian semua!!Laras nggak pernah menggoda aku.Dia nggak pernah ngejar-ngejar aku!Aku yang ngejar-ngejar dia!Karena aku cinta dia!"
"Ada apa ini rame-rame!Masuk ke dalam kelas semua!Bel udah berbunyi juga,kalian malah masih diluar.Bubar!!Bubarr!!",teriak Pak Irvan dengan aksen timurnya yang khas.Pak Irvan atau biasa juga dipanggil Pak Charles adalah guru yang tegas dan galak.Melihat Pak Irvan datang, anak-anak pun langsung bubar.Lari tunggang-langgang menuju ke kelas masing-masing.