CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Berantem!


__ADS_3

Pagi ini cerah sekali.Burung-burung bernyanyi,dan aku yang turun ikut makan pagi,ikut merasa senang.Aku sudah mengenakan baju seragamku.Akhirnya setelah seminggu nggak sekolah,aku bisa sekolah lagi.


Kebimbangan dan ketakutan yang akhir-akhir ini menekanku,agaknya sudah menghilang.Aku sudah memutuskan untuk mengatakan putus ke Azril.Semoga semuanya bisa berjalan baik.Jojo juga riang,dia tertawa-tawa dengan handphone di telinganya.Entah siapa yang ditelponnya.Makanan pagi telah dimasak dengan baik dan dimasak dengan baik oleh Tante Ayu.Baru saja selesai sarapan,bel pintu berbunyi.


Ada Hendra yang sudah berdiri di depan pintu.


Tante Ayu mengeluarkan suara keras dari arah ruang makan.


"Laras..Laras..Ada siapa?"


Dengan suara keras juga aku membalasnya.


"Ada temanku,Tante!"


Tante Ayu membisu.Sudah tak ada suara teriakan lagi dari ruang makan.


"Hendra,aku tak mengerti.Kenapa kamu pagi-pagi udah ke sini?",tanyaku.


"Kau kan bisa lihat?"


Dengan penuh keraguan aku melihat kepadanya lagi.


"Hari ini kan kamu udah mulai masuk sekolah.Aku mau mengantarmu sampai ke sekolah",kata Hendra lagi.


"Hendra,apakah ini berarti..Eh,maksudku kalau ada yang melihat terus ngegosipin kita,apa yang harus kita lakukan?"


Hendra mengerutkan dahinya.Dia sedang mengatur rencana dalam otaknya yang cerdas dan berpandangan jauh.


"Nggak papa,Ras.Nggak usah kuatir Nanti biar aku yang urus"


"Tapi,apakah itu berarti bahwa..."


"Jangan kuatir,anak manis.Serahkan saja padaku!"


"Oke,kalau begitu aku pamit sama Tante Ayu dulu"


"Oke"


Aku berbalik,lalu masuk ke dalam rumah untuk berpamitan dan mengambil tasku.


Sepanjang perjalanan,mata anak-anak di sekolah tidak lepas memandangi kami.


"Hendra,boleh aku bertanya?",tanyaku sambil menatap punggungnya yang terlihat gagah.


"Apa?",jawabnya singkat.Dia tetap fokus mengayuh sepeda dan memandang ke depan.


"Apakah kamu melakukan ini karena kamu menyukaiku?",tanyaku.


CKIIITTT!


Tiba-tiba Hendra mengerem sepedanya dengan mendadak.Dia sepertinya kaget dengan pertanyaanku yang terlihat blak-blakan.


Setelah mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.Diapun menjawab pertanyaanku.


"Aku tak berpikir apa-apa pada saat ini.Aku hanya ingin berteman denganmu dan juga ingin membuatmu bahagia".


"Stop!Stop!Stop!Aku turun di sini saja!",teriakku.


"Kenapa?"


"Aku nggak enak.Dari tadi anak-anak pada ngeliatin kita!"


"Oke...Oke!"

__ADS_1


Akupun segera turun dari boncengannya begitu sepeda berhenti.


"Aku kasih tau kamu,ya!Jangan jemput-jemput aku di rumah lagi"


Dia menatap wajahku dengan tercengang.


"Kenapa..Kenapa?"


"Kamu baik sekali dan juga sangat sopan.Tapi aku udah punya pacar.Aku tidak percaya kamu melakukan ini tanpa maksud apapun.Kamu modus,kan?"


Dia cengar-cengir."Tapi tak bisakah kalau kita berteman?"


"Tidak!Aku nggak mau pacarku tau.Nanti dia bisa salah paham dan sakit hati".


Hendra menunduk.Dia melihat ke tanah.Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Dia terlihat kecewa.


"Oh,iya.Jangan sok akrab juga waktu di tempat kerja,ya.Pura-pura aja nggak kenal".


Akupun berbalik dan berjalan menuju ke arah gerbang sekolah.


Belum terlalu jauh aku berjalan.Leherku dipeluk dari samping.


"Selamat pagi,Laras.Terlalu dingin udaranya,ya?",ujar Riyanti.Cewek gendut yang belakangan ini nempel terus sama aku.


"Ya,Memang.Padahal langit terlihat cerah!"


"Hayo,pada ngomongin apa?". Tiba-tiba Alfisa juga ikut nongol entah darimana."Lagi ngomong jorok,ya?"


"Iiih,apa,sih?Siapa juga yang lagi ngomong jorok?",jawabku sambil mendengus kesal.


"Hahaha,gitu aja marah?Jangan marah-marah pagi-pagi,pamali tau!",kata Alfisa.


"Jadi kalau marah siang marah-marah,nggak papa?.Ya,udah.Nanti siang aku mau marahin kamu".


"Ya,nggak gitu juga,kali"


"Aku udah",jawab Alfisa."Kalau kamu,Ras?Udah?.Nanti kita ke rumahmu yang di Bali,ya?Nanti kita mau dimasakin sama Ibu kamu"


"Emm..Maaf teman-teman.Aku nggak ikut".


"Lah,kenapa?",tanya Alfisa.Dahinya berkerut,seakan sedang berpikir keras.


"Nggak,nggak papa"


"Kalau masalah uang.Kami bisa patungan untuk bayarin biaya darmawisatamu,Ras!"


"Eh,nggak.Nggak usah teman-teman.Lagian bukan itu,kok alasannya"


"Terus kenapa?",tanya Riyanti.


"Ada,deh.Alasan pribadi".


"Kok gitu.Kok ada rahasia-rahasiaan.Kita kan sahabat.Cerita,dong!"


"Ada,deh.Weeekkk!",kataku sambil menjulurkan lidah dan kemudian berlari meninggalkan mereka.


Sepertinya mereka tidak mengejar ku.Syukurlah..


--


"Berantem?",tanyaku.


Galih mengangguk.Dia bertubuh besar dan tegap,kulitnya berwarna gelap,matanya tajam,dan rambutnya keriting sekali.Gerak-geriknya lamban,tapi agaknya itu disengaja,bukan bawaannya.Kalau orang lain ingin cepat-cepat menjawab,dia selalu mempertimbangkannya dulu.Dialah,Galih,ketua kelasku.

__ADS_1


"Ya", katanya."Zaman sekarang agak-agaknya semua masalah diselesaikan dengan otot,ya!"


"Kalau gitu sekarang juga kita ke kelasnya Satrio,Al!",kataku.Aku langsung panik.Tadi Galih bilang kalau Azril dan Satrio lagi berantem.


Aku dan Alfisa segera menuju kelasnya Satrio dengan setengah berlari.


Aku melihat Satrio sedang tergeletak di lantai.Sedangkan Azril sedang menendanginya sambil berdiri.Kemudian Hendra memiting leher Azril dari belakang.Tapi Azril berhasil membantingnya dan Hendra jatuh di atas salah satu bangku.Bangku itu langsung hancur dengan seketika.


"Tidakkk!!Azril,hentikan!!",teriakku.


Azril berhenti.Sejenak dia mematung.Nafasnya ngos-ngosan.Setelah tenang,dia menoleh kepadaku."Kenapa?Kenapa kamu menghentikan ku? Kenapa?Apa karena kamu menyukainya?Hahhh!Jawab"


Sepertinya Azril sangat marah.Wajahnya terlihat memerah.


"Tidak.Tidak.Kenapa kamu berpikir seperti itu?Aku tidak menyukainya",jawabku.


Azril mengambil handphone dari dalam sakunya.Dan setelah mengklik sesuatu,dia menunjukkan handphone nya kepadaku.


"Ini,Ini apa?",bentaknya.


Dia memperlihatkan sebuah foto.Foto itu memperlihatkan saat aku berciuman dengan Satrio.


"Ini apa?Haaahhh!!Jawab!!"


Tubuhku mematung.Aku tak dapat berbuat apa-apa.Aku ingin membantah.Tapi foto itu telah menunjukkan segalanya.


Kemudian Azril melewatiku dan pergi entah kemana.


"Laras,kamu jahat sekali!",kata Alfisa.Dia juga terlihat sangat marah dan kemudian pergi meninggalkan aku.


"Al,jangan pergi,Al.Jangan tinggalkan aku!", teriakku.Tapi Alfisa tak bergeming.Dia pergi tanpa menoleh kepadaku.


Akupun menangis sejadi-jadinya.Aku bukannya bersedih karena takut kehilangan pacar.Tapi aku takut kehilangan Alfisa,sahabat terbaikku sejak aku masuk ke sekolah ini.


Satrio mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri.


"Sudahlah,ayo berdiri.Jangan menangis lagi!",kata Satrio sambil menarikku untuk berdiri.


"Hahhh..Aku jengkel sekali!Siapa sih yang tega nyebarin foto itu?",kataku begitu aku sudah berdiri.


"Sudahlah,nggak usah.Lagian kita kan beneran ciuman",kata Satrio dengan entengnya.


PLAKKKKK!!!


"Semua ini gara-gara kamu tau!Kalau kamu nggak menciumku.Azril dan Alfisa nggak akan marah kepadaku!Dasar brengsek!"


Aku menginjak kakinya dan pergi meninggalkannya.


"Aduuhhh!",Dia meringis kesakita."Hei,Laras!",teriak Satrio.


Aku menatap tajam ke arah wajahnya.


"Aku akan tetap mengejarmu karena aku tau kamu juga suka sama aku!",teriak Satrio.


Aku mengambil penghapus di papan tulis dan melemparkannya kepadanya.


Pranggggg!!!!


Tapi Satrio bisa menghindarinya dan penghapus itu malah memecahkan jendela kelas.


"Haha..Nggak kena!Nggak kena!",kata Satrio sambil joget-joget pargoy.


"Hahhh..Dasar cowok sintinggg!!",teriakku sekencang-kencangnya.Aku nggak peduli lagi dengan semua mata yang memandangiku sedari tadi.

__ADS_1


Akupun keluar dari kelasnya dan membanting pintunya keras-keras.Saking kerasnya,pintu itu roboh.Brakkk!


Hahhh...Sial sekali nasibku ini.Karena ketakutan,aku berlari sekencang-kencangnya menuju ke kelasku.


__ADS_2