
Rangga merasa hidupnya kembali bahagia sejak Cinta bersama dengannya lagi. Apa lagi saat ini istrinya sedang mengandung anak pertama mereka dan dia sangat menunggu kelahiran sang bayi. Rangga, di sisi lain, tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna seperti istrinya. Dia menderita cacat pada kedua kakinya sehingga ia tidak bisa berdiri atau berjalan tanpa bantuan tongkat.
Namun, meskipun cacatnya, Rangga adalah suami yang setia dan mencintai Cinta begitu besar. Dia baru sadar semuanya semenjak kepergian istrinya itu.
Rangga selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Mereka telah banyak mengalami tantangan bersama, dan meskipun Rangga tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, dia dengan sabar menunggu kelahiran anak mereka.
"Tadi dokter bilang semuanya baik-baik saja," kata Cinta saat dia tiba di rumah. Dia baru saja pulang dari kontrol kandungan. Awalnya Rangga mau ikut, tapi dia takut itu akan menambah beban istrinya.
"Alhamdulillah," ucap Rangga sambil menatap Cinta dengan senyum tulus.
Mereka berbincang-bincang sebentar tentang janin mereka yang akan segera lahir. Cinta merasa senang karena selama ini Rangga selalu menyemangati dan mendukungnya. Dia tahu bahwa kehadiran suaminya di sisi selalu memberikan semangat dan kekuatan.
"Mas, kita harus menyiapkan sesuatu untuk sang bayi," ucap Cinta setelah beberapa saat berbicang-bincang.
"Maksudmu?" tanya Rangga.
"Kita harus membeli beberapa perlengkapan bayi seperti pakaian, botol, dan sebagainya." Lanjut Cinta.
"Oh, ya. Kita akan melakukannya secepatnya," kata Rangga dengan wajah lembut.
Saat mereka beranjak menuju kamar tidur, Cinta melihat sebuah buku dengan sampul putih diketik di atas mejanya. Dia mengambil buku itu dan membacanya.
"Ini apa, Mas?" tanya Cinta, sambil menunjukkan buku tersebut ke Rangga.
"Ah, itu hanya catatan yang aku tulis untuk anak kita kelak. Karena aku tidak bisa keluar dan melakukan banyak hal, aku ingin membuat buku yang berisi harapanku dan doaku untuk anak kita," jelas Rangga.
__ADS_1
Cinta tersenyum dengan haru. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Rangga, tapi dia tahu bahwa setiap kali suaminya melakukan sesuatu seperti ini, itu menunjukkan betapa besar cintanya pada keluarga mereka.
"Mari kita baca bersama-sama," kata Cinta saat mereka berdua berbaring di tempat tidur.
Mereka membacanya bergantian, dan meskipun beberapa hal dalam buku itu membuat Cinta merasa sedih, dia tahu bahwa Rangga mencoba memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka. Mereka terus membaca hingga tertidur dengan rasa bahagia di hati.
Sebulan telah berlalu, Cinta semakin sibuk dengan persiapan kelahiran anak pertamanya. Dia pergi ke toko untuk membeli perlengkapan bayi yang dibutuhkan, dan jika dia tidak bisa pergi, dia memesannya secara daring. Dia juga sibuk membuat kamar kecil di sudut rumah untuk si kecil, meskipun waktunya masih cukup lama.
"Tolong ini dipotong dengan baik-baik," kata Rangga ketika sang pengukir kayu tiba di rumah untuk membuat krib bayinya.
Kadang-kadang, Rangga merasa seperti dia tidak bisa melakukan banyak hal karena cacatnya, tapi dia selalu menemukan cara untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya.
"Sudah selesai, Pak," kata sang pengukir kayu dengan wajah yang lelah.
"Terima kasih," kata Rangga dengan tersenyum.
Burung berdendang dengan riang di luar sana dan semilir angin menyapa tubuh mereka di dalam kamarnya. Suami yang meskipun layaknya kurcaci tetapi penuh rasa sayang pada istri dan calon bayinya. Cinta menjaga Rangga dengan baik, dan suaminya itu juga selalu menemani Cinta dengan sabar saat dia mengalami gangguan kehamilan. Bersyukur adalah satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan pernikahan mereka.
"Aku tidak sabar untuk melihat wajahnya," kata Rangga sambil mengusap perut Cinta.
"Tidak sabar?" tanya Cinta dengan tersenyum.
"Pasti dia secantik kamu," ucap Rangga sambil terus mengusap perut buncit istrinya itu.
"Tentu saja dia cantik, ayahnya juga begitu tampan," ujar Cinta.
__ADS_1
Saat ini Cinta baru merasakan pernikahan yang sesungguhnya. Mungkin ini yang dikatakan jika dibalik setiap musibah pasti ada hikmahnya.
Rangga tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dia mengajak Cinta untuk berbaring dan memejamkan mata.
**
Pagi hari saat Cinta dan Rangga akan menyantap sarapan yang wanita itu masak tadi, terdengar suara pintu di ketuk. Bibi yang membantu di rumah, membuka pintu. Tampak Nick berjalan masuk menuju mereka.
"Abang, ayo sarapan sekalian!" ajak Cinta.
Nick tersenyum dan duduk dihadapan mereka. Cinta mengambilkan nasi goreng dan pelengkapnya ke piring dan menyerahkan pada Nick.
"Aku sebenarnya ke sini untuk mengatakan, jika orang suruhanku telah mengetahui siapa orang yang menabrak Rangga," ucap Nick.
Rangga dan Cinta saling pandang mendengar ucapan Nick. Mereka penasaran apakah kecelakaan itu sengaja atau hanya musibah.
"Apa Abang telah melaporkan pada polisi?" tanya Cinta.
"Aku akan menemui orang itu dulu, baru melaporkan. Aku ingin tahu reaksinya," ucap Nick.
"Apa itu tidak berbahaya? Abang sebaiknya melapor saja," ucap Cinta cemas. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan abang angkatnya itu.
"Kamu jangan kuatir, aku bukan anak kecil," ucap Nick tersenyum.
Rangga menggenggam tangan Cinta dan menganggukan kepalanya. Dia mengatakan pada Cinta jika setuju dengan Nick. Cinta terpaksa menurut saja dengan rencana Nick.
__ADS_1
...----------------...
.