CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Ditembak


__ADS_3

Lampu-lampu yang tergantung di langit-langit kafe menerangi wajahnya.Wajah yang selama ini aku rindukan.Tapi aku diam mematung,aku merasa apakah ini mimpi.Setelah dia menghilang selama enam bulan.Tiba-tiba dia muncul begitu saja.


"Laras!Larasatiii!",ujar Satrio."Ini aku.Apa kamu sudah melupakan aku?"


"Enam"


"Apa?Enam?"


Aku berlari kepadanya.


PLAKKKK!


Entah apa yang merasukiku.Aku menamparnya dengan begitu keras.Mungkin rasa cinta itu telah menjadi benci.


"Kitaaa putusss,brengsekkkk!",teriakku dengan keras.Kemudian aku membalikkan badanku.Tapi kakiku terasa lemas.Akupun jatuh terduduk dan menangis sekeras-kerasnya.


Alfisa yang datang bersamaku ke kafe ini segera menghampiriku.


"Kau apakan sahabatku,brengsek!Pergi sana!",bentak Alfisa.


"Ta..tapi aku masih mencintainya.Ijinkan aku menjelaskan semuanya kepadanya!"


"Tidak!!Tidakkk..Sana!!Pergi!", teriakku histeris.


Alfisa dengan perlahan membantuku berdiri dan perjalan."Ayo kita pulang, semuanya sudah selesai".


--


Dengan mudah mereka menemukanku.


Angin dingin bertiup di sekitarku.Alfisa, Riyanti,Dinda,dan Galih berjalan kian-kemari menyusuri taman sekolah ini.Suatu perilaku abnormal tanpa guna,yang timbul karena mereka sedang berpikir keras.


Galih berdiri di depanku.Aku merasakan dia menatapku.Aku tak melihatnya karena kepalaku tertunduk memandangi hijaunya rerumputan."Ayolah,Ras!Ikut study tour,ya!Kan Pulau Bali adalah tanah kelahiranmu.Bisa sekalian pulang ke rumah,kan?Nanti kita bisa sekalian mampir ke rumahmu.Minta dimasakin sama Ibumu!Sekalian kamu healing juga.Selama ini kan kamu sudah menjalani saat-saat yang berat!Gimana?Mau,kan?"


Aku yang sedari tadi menunduk,mendongakkan kepalaku."Nggak.Aku nggak mau!"


"Masalahnya apa,sih,Ras!Kalau biaya yang menjadi masalahnya.Kita bisa kok patungan untuk membayar uang study tour nya",kata Dinda.


"Nggak,bukan karena itu.Tapi aku nggak mau aja!"


"Dia nggak akan mau.Masak kalian nggak tahu,di Bali,dia sudah membunuh semua keluarganya.Dasar pembunuh!Pembunuh!Pembunuhhh!", teriak Jojo.Angin mengawut-awut rambutnya yang indah.Kedua rahangnya  mengatup.Kedua matanya nampak membara oleh api amarah."Dan pembunuh ini sekarang sedang menjilat ibuku!Dasar wanita murahan!!"


Melihat ada ribut-ribut.Murid-murid yang kebetulan melintas segera mengerubuti kami.


"Diam kamu, brengsekkkk!Aku bukan pembunuh!Aku nggak pernah membunuh kedua orangtuaku!"


"Berani kamu,ya, sekarang!Dasar pembunuh sialan!"


PLAKKKK!


Jojo menamparku dengan sangat keras.


PLAKKKK!!

__ADS_1


Akupun membalas tamparannya dengan tak kalah kerasnya.


"Dasar brengsek!",Jojo menjambak rambutku.


"Kau juga brengsek,anjing!",kataku sambil membalas jambakannya.


Kamipun saling menjambak dengan serunya.


"Berhentiiii!!!Apa yang kalian lakukan ini!Ini sekolah,bukan arena MMA!Dan kalian! Bukannya melerai,malah pada nonton!Udah! Bubar! Bubar!",ujar Pak Bentra yang kebetulan lewat.Pak Bentra adalah guru komputer di sekolahku."Dan kalian berdua,ikut Bapak ke kantor Kepala Sekolah!"


--


Tok!Tok!


Pak Bentra mengetuk pintu ruangan Kepala Sekolah.


"Iya.Silahkan masuk!", terdengar suara dari balik pintu.


Setelah masuk.Aku lihat Pak Sunar,sang Kepala Sekolah sedang bekerja.Dia menggunakan pulpennya.Ia menulis sesuatu di atas sebuah kertas.


"Kalian tunggu di sini",ujar Pak Bentra.


"Permisi,Pak!",ujar Pak Bentra.Belum selesai Pak Bentra mau berkata-kata,Pak Sunar menyela pembicaraannya.


"Loh!Laras!Ada apa ini?",kata Pak Sunar sambil melorotkan kaca matanya.Dia keheranan melihat penampilanku dan Jojo yang awut-awutan."Ayo duduk..Duduk!"


Kamipun duduk.Sementara itu Pak Sunar meninggalkan meja kerjanya dan duduk di hadapan kami.


"Begini,Pak.Mereka berdua berkelahi di taman sekolah tadi!", ujar Pak Bentra berusaha menerangkan apa yang terjadi.


"Kok..Kok bisa? Bukannya kalian berdua bersaudara?",tanya Pak Sunar keheranan.Dahinya mengernyit dan kaca matanya naik turun dari tadi."Dan kamu,Laras, Bapak kecewa sama kamu.Kamu itu murid teladan dan berprestasi.Kok bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu?"


"Mmmmm",gumamku sambil menunduk,menatap jari-jariku seolah jariku yang terlipat adalah pemandangan yang menarik.


"Ehm",Pak Sunar berdehem."Ya,tidak apa-apa kalau kamu tidak mau jawab,Bapak mengerti,kok!"


Ha?Apa yang dia mengerti?


"Semua kejadian tadi Bapak lihat di CCTV.Bapak cuma mau tanya apa penyebab kalian berdua berkelahi?"


Kali ini aku cuma bergumam.Yang artinya entahlah.


"Bagaimana dengan kamu,Josephine?"Kamu tidak mau menjawab juga?"


"Tid..tidak ada apa-apa,Pak.Cuma masalah sepele",jawab Jojo.


"Tidak ada apa-apa?Tidak mungkin.Jelas kamu sudah berbohong",kata Pak Sunar dengan tegas."Bapak rasa kalian berdua punya potensi.Bapak ingin mengembangkan potensi kalian.Laras,lihat kamu sangat berbakat dalam bernyanyi,cepat belajar,dan cepat juga diterima teman-teman mu.Sedangkan kamu, Josephine.Kamu sangat berbakat dalam olahraga.Terutama bulu tangkis.Selain itu kami juga selebgram yang followernya jutaan.Kalian berdua adalah kebanggaan Bapak.Kebanggaan sekolah ini.Jadi,Bapak harap kejadian seperti ini kedepannya tidak terulang lagi.Kalau ada masalah.Tolong selesaikan dengan baik-baik.Mengerti kalian berdua?"


"I..iya,Pak",jawabku gelagapan.Kharisma Pak Sunar begitu menekan diriku.


"Iya,Pak",jawab Jojo juga hampir bersamaan dengan ucapanku.


"Ya,sudah.Sekarang silahkan keluar dan masuk ke kelas masing-masing",ujar Pak Sunar.

__ADS_1


"Pak Bentra",ucap Pak Sunar ke Pak Bentra.


"Iya,Pak",jawab Pak Bentra.


"Antar mereka berdua ke kelas masing-masing.Dan pastikan tidak ada masalah lagi".


"Iya,Pak"


Kamipun beranjak dari tempat duduk.Setelah mencium tangan Pak Sunar,kamipun pergi meninggalkan ruangannya.


--


Esoknya aku jadi tidak bersemangat.Andai kejadian kemarin tidak terjadi.Aku jadi merasa malu dan canggung mau ke sekolah.Gara-gara kejadian kemarin,pasti aku jadi pusat perhatian di sekolah.Jojo aja membolos hari ini.Mungkin dia juga merasa malu untuk berangkat ke sekolah.Tadi ketika dibangunkan Tante Ayu,dia berpura-pura sakit.


"Hai,Ras! Bagaimana kabarnya?",sapa Hendra santai yang entah muncul darimana.


Begitu melihatnya,aku nyaris melompat kaget."Hai, Hendra.Kok kamu di sini?Tumben.Bikin kaget aja!"


"Iya,maaf deh kalau udah ngagetin.Laras,bolehkah aku bicara dengan kamu sebentar?"tanyanya padaku.


Aku tersenyum dan mengangguk."Tapi bukankah dari tadi udah bicara,ya?"


"Maksudku aku mau bicara serius sama kamu".Kulihat mukanya yang tadi ceria tiba-tiba menjadi tegang.Tapi aku memutuskan untuk tidak peduli.


"Aku..Aku..",kata Hendra terbata-bata.


"Aku..aku apa?",aku membalikkan badan dan kutatap matanya.Matanya sangat fokus kepadaku.Nafasnya tersengal-sengal.


"Kamu kenapa,sih?Kok hari ini kamu aneh banget!Kamu lagi sakit,ya?",kataku sambil menempelkan tanganku ke dahinya.


Dia memegang tanganku dan menurunkannya dari dahinya.


"Hhhhhhh", Hendra menghela nafas panjang."Aku suka kamu,Ras"


"Appp...Apaaa?Kamu nembak aku,Hen?Kamu bercanda,kan?Ahhh...Kamu pasti bercanda,kan?Pasti ini prank kan?Mana kameranya?Dimana kameranya?",kataku sambil mencari-cari sesuatu di sekeliling.


Hendra memegang tanganku."Aku serius,Ras!Aku sayang sama kamu", ujarnya sambil tersenyum.Senyumannya lebar dan manisss sekali.Untunglah jalanan lagi sepi.Kalau tidak, semua pengguna jalan tentu bisa mendengar jantungku yang mulai bergemuruh.Ayo,Ras, batinku.Kamu tidak boleh luluh.Hatimu hanya untuk Satrio.


"Kau boleh membahas apapun dan dengan siapapun",kataku."Tapi jangan kau bahas lagi masalah ini dengan ku.Seolah-olah kamu tidak tahu perasaanku saja!"


Hendra tertawa sumbang."Ya,tentu saja.Aku tahu perasaanmu.Kamu masih belum move-on dari Satrio,kan?Aku tahu.Aku juga tidak membutuhkan jawabanmu.Yang penting aku sudah mengungkapkan perasaanku.Setidaknya aku menjadi lega!"


"Sudah.Cukup!Jangan bilang apa-apa lagi.Aku sudah muak dengan yang namanya cinta!Dan.. Please!Tolong!Jangan kamu sebutkan nama orang itu lagi!"


Hendra terbelalak kaget,"Kenapa?"


"Tidak apa-apa.Kupikir-pikir pacaran tidak membawa perbedaan bagi kita.Paling tidak bagi aku!"


"Maksudmu..Kamu tidak ingin sesuatu yang berbeda?"


"Tidak",tepisku."Kurasa kita,paling tidak aku,belum siap untuk saat ini"


Hendra terlihat syok."Tapi,Ras.Walaupun kamu nggak nerima aku.Aku tetap akan ada untukmu.Aku akan selalu di sampingmu!",teriak Hendra.Sedangkan aku sudah berjalan setengah berlari. Jauh berada di depan meninggalkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2