CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Bab 43. Aku Cacat


__ADS_3

Pagi hari setelah sarapan Rangga duduk bersandar di ranjang. Dia melihat Cinta dengan tatapan kosong. Berulang kali, ia mencoba membuka mulutnya, namun tak satupun kata-kata keluar dari bibirnya. Ia menggigit bibirnya dan menatap langit-langit dengan tegang.


Melihat suaminya seperti itu, Cinta merasa khawatir. Dia memeluk lengan suaminya dan berkata, "Mas Rangga, apa yang Mas pikirkan? Kenapa kamu seperti itu?"


Rangga menatap Cinta, dan air matanya turun. Dia berkata dengan suara serak, "Cinta, aku ... aku sekarang cacat. Apa yang bisa aku lakukan dengan kursi roda?"


Cinta mengerutkan dahinya, dan berkata, "Mas, ini semua hanya sementara. Mas tidak usah memikirkan itu lagi. Semua akan baik-baik saja. Mas akan bisa kembali normal dan berjalan."


Rangga tertawa pahit, "Kenapa kemarin aku tidak pergi saja. Aku... aku sudah dijatuhi hukuman. Pasti semua ini balasan atas kejahatanku, terutama denganmu. Kehidupanku telah berbeda. Aku saat ini hanyalah manusia cacat," ucapnya dengan tersedu.


Cinta menelan saliva, "Tidak, Mas. Tidak ada yang berubah. Kamu masih pria yang sama. Yang membuat aku jatuh cinta." Dengan perlahan, dia merangkul suaminya.


Rangga menghela napas. "Cinta, aku tidak bisa melakukan banyak hal lagi. Aku hanya akan menjadi beban bagi orang."


Cinta menatap suaminya tajam, "Aku yakin kamu tetap papa yang baik untuk aku dan anak kita kelak. Kita masih memiliki mimpi yang sama dan kesempatan yang sama. Kita hanya perlu mengubah cara kita melihat hal-hal dalam hidup."


Rangga mengangkat wajahnya dan mengerjapkan matanya. "Namun bagaimana dengan pekerjaanku dan perusahaanku? Bagaimana dengan kehidupan kita suatu hari nanti?"


Cinta tersenyum, "Kita akan menyelesaikannya bersama-sama. Kita akan menemukan jalan keluar."


"Apakah kamu yakin? Aku tidak bisa melakukan banyak hal lagi." Rangga menggelengkan kepala.

__ADS_1


Cinta mengangkat tatapannya, "Aku yakin Mas masih bisa melakukan banyak hal, selama kamu bersama-sama dengan kami. Jangan pernah merasa lelah atau tidak bisa melakukan sesuatu, selama kamu masih bersama-sama dengan keluarga. Ada Bang Nick juga yang akan membantu."


Rangga menghela napas dan memeluk istrinya itu. "Aku beruntung memiliki kalian semua, terima kasih sudah membuat aku merasa lebih baik," ucap Rangga.


Dalam diam, Cinta tersenyum. Dia tahu, suaminya akan bangkit dari keterpurukan dan tetap menjadi sosok suami dan ayah yang baik nantinya. Tidak ada kekurangan fisik akan mengubah cinta dan kasih sayang dalam keluarga mereka.


Nick dan mama tiba di ruang perawat dengan membawa banyak makanan wanita paruh baya itu masuk. Rangga langsung menghapus sisa air mata dipipinya.


"Selamat Pagi Rangga, Cinta," ucap Mama. Cinta langsung berdiri dan mengecup pipi wanita itu.


Nick memilih duduk di sofa yang ada di ruangan. Dia hanya menyapa dengan senyuman.


"Mama bawakan sarapan. Kamu harus makan. Ingat bayi kamu," ucap Mama.


Mama membuka sarapan yang dia beli. Duduk di dekat Cinta dan mulai menyuapi wanita itu. Cinta telah menolaknya dan ingin makan sendiri, tapi mama tetap bersikeras jika dia yang suapi agar Cinta banyak makan.


Rangga menatap tanpa kedip interaksi keduanya. Dia merasa malu pada Mama Merlin. Wanita itu bisa langsung mencintai dan menyayangi Cinta walau baru bertemu. Itu sudah sebagai bukti jika wanita itu sangat baik.


Setelah Cinta menghabiskan sarapannya. Nick dan Mama pamit, karena mereka harus selesaikan pekerjaan.


"Maaf, Sayang. Mama tidak bisa menemani kamu. Mama harus selesaikan pekerjaan yang seminggu ini mama tinggalkan, jika kamu butuh bantuan mama atau Nick, kamu segera hubungi kami saja," ucap Mama dengan wajah seperti bersalah.

__ADS_1


"Ma, aku bisa jaga Mas Rangga sendiri. Mama selesaikan saja pekerjaannya. Jangan merasa tidak enak begitu," ujar Cinta dengan memeluk pinggang wanita yang telah dia anggap seperti ibu kandungnya.


Mama lalu mengecup pipi Cinta. Tersenyum bahagia melihat Cinta yang sudah mulai kembali ceria, tidak seperti saat Rangga terbaring koma.


"Ingat, kamu juga harus jaga kesehatan. Jangan telat makan. Jika kamu sakit, siapa yang jaga Rangga nanti." Mama berucap sambil mengusap pipi Cinta seperti bicara dengan anak kecil.


"Iya, Ma. Mama juga harus jaga kesehatan," jawab Cinta.


Mama Merlin dan Nick pamit pada Rangga dan Cinta. Wanita itu mengantar hingga ke pintu. Setelah keduanya hilang dari pandangan, Cinta kembali masuk ke ruang inap suaminya.


"Kamu beruntung menemukan keluarga baru seperti Mama dan Nick," ucap Rangga.


Cinta tersenyum. Dia duduk di tepi ranjang dan menatap Rangga dengan penuh cinta.


"Aku juga beruntung memiliki kamu, Mas," ucap Cinta untuk membuat Rangga merasa dihargai.


"Aku yang sangat beruntung memiliki kamu. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku ingin bersama denganmu hingga kita menua," ucap Rangga dengan menggenggam tangan Cinta.


"Tapi aku minta Mas harus semangat untuk sembuh. Biar nanti saat anak kita lahir, Mas bisa membantu aku menjaganya."


Rangga menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Mendekatkan wajahnya, dan mengecup dahi Cinta dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2