CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Di pecat!


__ADS_3

Krinnnggg!!


Bel pulang pun berbunyi.Aku segera mengemasi barang-barang ku.Sesuai rencana,aku akan ke Rumah Sakit untuk menjenguk Tante Fika.


Ada mobil warna hitam berhenti di sampingku."Hai,Ras!Kamu mau ke Rumah Sakit,kan?Sama,aku juga mau ke Rumah Sakit.Barengan,yuk!"


"Nggak,ah!Nggak usah!Aku mau naik angkot aja!", jawabku pendek.


"Loh, daripada kamu naik angkot.Apa tidak sebaiknya ikut sama aku?Udah nyaman.Gratis lagi!",kata Satrio memaksa.


"Ya, udah,deh!",kataku menyerah.


Hmmm.. Gini,ya.Mobil orang kaya.Kursinya empuk,nyaman,dan baunya harum.Suara penyanyi yang keluar dari peralatan audio membuat ku tertidur pulas.Entah karena nyaman atau memang aku lagi ngantuk.Soalnya semalaman aku kan habis begadang..zzzz


"Ras!..Ras!!Laras!",katanya sambil menepuk-nepuk pundak ku."Bangun,Ras.Kita sekarang sudah di Rumah Sakit!"


"Ya,deh.Ya,deh!Aku bangun", kataku bersungut-sungut."Selalu saja kalau aku lagi tidur dibangunin!"


"Ras",katanya."Kita sekarang sudah di Rumah Sakit.Bolehkah kita turun sekarang?"


Aku memandang ke sekeliling.Betapa kagetnya aku."Eh,ma..maaf!Aku kira tadi di rumah.Aku kira Jojo lagi bangunin aku".


Terdengar suara Satrio tertawa."Oke,oke.Nggak papa kok.Aku nggak keberatan.Yuk,kita turun,yuk!".Dia membuka pintu dengan masih tertawa.


"Udahan,dong,ketawanya.Aku malu,tauk!"


"Ya,ya.Oke.Maafkan aku!"


Dan akhirnya kami pun masuk ke dalam Rumah Sakit.


"Ada yang bisa kami bantu?", seorang suster cantik menyapa kami dengan ramah.


"Kita sedang mencari pasien atas nama Ibu Rafika Maharani, Mbak!"


"Mmmm,tunggu,ya,Mas!".Suster itu mengetik-ngetik di keyboard komputer.


Kami menunggu.


"Eee...Ibu Rafika Maharani di ruangan Yaspis nomor sembilan,Mas!"


"Baik, Mbak.Terima kasih".


Setelah itu aku dan Satrio pergi ke ruangan yang ditunjukkan oleh Mbak Suster tadi.


"Sat!".Suaraku terdengar lantang."Sat!Ini kamarnya.Nomor sembilan!"


"Ya,ya.. Tapi bisa nggak manggilnya jangan disingkat gitu.Nggak enak dengernya!"


"Ya..Ya..Satrio!",kataku."Ayo kita masuk!",ujarku sambil mau memegang gagang pintu.


"Eittts,tunggu dulu",Satrio menahan tanganku.


"Apaan,sih!"


"Kamu ini bar-bar banget!Ketok pintu dulu,dong!"


"Eh, iya.Nggak kepikiran!",kataku sambil cengar-cengir.


Tok!Tok!


"Tante Fika!Ini saya Satrio!"


Terdengar suara dari dalam ruangan."Iya,masuk aja!"


"Tante Fika", kataku,"Tante udah baikan?"


Tante Fika mengangguk pelan dan tersenyum.


"Ini saya bawakan buah Apel.Saya potongkan,ya?",kata Satrio.


"Makasih,Tio!",kata Tante Fika.

__ADS_1


Kemudian Satrio menyuapi Tante Fika dengan buah apel.


Sambil makan apel,kami ngobrol-ngobrol kesana-kemari dengan senang.Hingga tak terasa hari sudah mendekati senja.


"Eh,aku baru ingat!Aku kan harus ke restoran!Satrio,anterin aku yuk!",kataku.


"Ya, Ayo!",jawab Satrio.


"Tante.Aku pergi dulu,ya!Salam buat Hendra!"


"Ya.Terimakasih,ya!"


--


Satrio melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Rumah Sakit, lalu menuju ke arah jalan raya.


"Agak ngebut,ya,Satrio!Aku takut lambat,nih.Nanti Pak Darsana marah!"


"Iya.Iya.Kita nggak bisa lebih ngebut lagi.Bahaya!"


Beberapa waktu kemudian,kami sudah sampai di depan restoran BBC Steak and bowl.


Aku memandang arlojiku.Sudah hampir setengah tujuh malam.


"Sekarang sudah malam.Pasti Pak Darsana marah!", kataku sambil melompat turun dari dalam mobil.


"Pak Darsana!".Pak Darsana terlihatĀ  sangat marah, melihat ku datang.Tapi aku tetap menjaga kesopanan dan menyapanya."Apa kabar?"


"Baik-baik saja",jawab Pak Darsana.


"Pak, maaf saya terlambat",kataku dengan nada menyesal."Maaf juga kalau kemarin saya tidak masuk dan tidak memberi kabar.Soalnya hape saya mati".


"Saya tidak memerlukan permintaan maaf mu!", kata Pak Darsana."Saya cuma ingin bertanya,kemana kamu kemarin?"


"Kemarin saya ke Rumah Sakit,Pak.Ibu teman saya masuk Rumah Sakit.Semua kejadiannya begitu cepat.Jadi saya lupa memberi kabar ke Bapak!"


"Saya sangat sibuk saat ini",kata Pak Darsana."Kemasi barangmu!"


"Lihat itu!",kata Pak Darsana sambil menunjuk ke seorang gadis manis berpakaian seragam restoran.


"Dia siapa,Pak?"


"Masih belum jelas juga?Dia penggantimu",kata Pak Darsana.


"Jadi saya dipecat,Pak?Jangan,dong,Pak!Saya butuh pekerjaan ini untuk nabung biaya kuliah,Pak!Pleaseee!"


"Sudah sana!Saya sangat sibuk!Jangan menggangguku!"


Dengan langkah gontai,aku mengemasi semua barang-barang ku.


Diluar restoran, ternyata Satrio belum pergi.


"Laras!Laras kamu kenapa?Kok mukamu sedih gitu?",tanya Satrio.


"Aku dipecat!",jawabku singkat.


"Loh,kok bisa?Kenapa kamu dipecat?"


"Kan kemaren aku nggak masuk.Terus juga nggak ngasih kabar!"


"Mmmmm Biar aku bicara dengan Pak Darsana,ya?Aku kenal sama dia.Ibuku juga punya saham di restoran ini".


"Nggg...Nggak usah, Satrio",kataku sambil mencoba menahannya tangannya."Aku nggak papa,kok!"


"Tapi...tapi"


"Udah.Aku betulan nggak papa.Aku yang salah,kok!"


"Aku antar,ya!"


"Nggak.Nggak usah.Aku jalan aja! Rumah ku nggak jauh dari sini.Dibalik tikungan!"

__ADS_1


"Ya,udah kalau kamu nggak mau.Aku lihatin kamu,ya.Sampai kamu nggak kelihatan".


"Terserah!!"


Kulangkahkan kakiku dengan gontai.Aku tak tahu mau kemana lagi harus mencari pekerjaan sambilan untuk menabung biaya kuliah.Sekarang aku boro-boro kuliah.Uang masuknya saja belum terkumpul.


Aku duduk merenung di bangku halte bis yang kosong.Di saat terpuruk begini aku membutuhkan teman-temanku.Teman-teman..Kalian dimana??..Hiks..hiks..


Brrssss!!!


Tiba-tiba hujan turun..Aduhhh aku gimana mau pulangnya,nih?Mana nggak bawa payung lagi.


Aku menatap ke arah jalan raya yang basah.Jalanan jadi berkabut.Mungkin dikarenakan sepanjang hari tadi sangat panas.


Aku lihat seorang gadis berseragam sekolahku tengah berjalan di bawah sebuah payung bunga-bunga.


"Laras, ngapain kamu di sini?",katanya.


"Loh, Alfisa?Kamu juga ngapain di sini?"


"Oh, kalau aku baru pulang les di Bimagama".


Kemudian Alfisa meletakkan payungnya dan duduk di sebelahku.


"Maafkan aku,ya,Ras!", ujarnya.


"Maaf?Maaf kenapa?"


"Kan aku udah ngejutekin kamu.Aku marah sama kamu karena aku suka sama Azril"


"Apa?Sejak kapan?"


"Sudah lama, sih!Sejak aku SMP.Waktu itu aku sedang jalan-jalan di pinggir sungai.Tiba-tiba angin bertiup kencang.Topi yang aku pakai jatuh ke sungai.Terus tanpa aba-aba,Azril langsung lompat ke dalam sungai untuk mengambil topiku.Sungai itu adalah sungai yang dangkal dan berlumpur.Bajunya jadi penuh dengan lumpur.Terus aku bilang padanya kalau bajunya jadi penuh dengan lumpur.Tapi ia jawab,kan ini cuma lumpur.Topimu pasti lebih berharga daripada lumpur ini.Jadi bajuku berlumpur,nggak masalah.Itu katanya".


"Jadi selama ini kamu memendam persaanmu?"


Alfisa mengangguk."Iya.Makanya aku marah waktu kamu selingkuhin dia.Maafkan aku,ya?"


"Terus apa yang membuatmu tersadar,Al?"


"Mmmm...Waktu kamu udah putus sama Azril.Keesokan harinya aku menembak dia"


"Terus.. Terus?Dia nerima kamu?"


"Nggak.Aku ditolak!"


Aku memeluk Alfisa.Alfisa mulai menangis.Kutepuk-tepuk punggungnya dengan perlahan-lahan.


"Setelah itu aku sadar.Kalau cinta memang tak bisa dipaksakan.Begitupun cintamu ke Azril.Kamu tidak bisa memaksakan diri berpura-pura masih mencintainya.Maafin aku,ya,Ras!"


"Iya.. Sudah-sudah.Aku udah maafin kamu sejak dulu.Aku udah maafin kamu sebelum kamu memintanya"


"Jadi kita bisa sahabatan lagi kayak dulu?"


Alfisa mengangguk dan tersenyum.


"Yeeeee...... Terimakasih,Al!",kataku sambil memeluknya erat.


"Ya,udah.Udah.Lepasin!Aku nggak bisa nafas nih!"


"Eh..iya.Sori..Sori..Habis aku kesenengan sih!",kataku sambil senyum-senyum.


"Eh,iya.Tapi kenapa kamu menangis sendirian di sini,Ras?"


"Apa?Menangis?Aku nggak menangis,kok!"


"Halahhh!Nggak usah bohong kamu.Aku tadi lihat kamu nangis,kok!"


"Aku barusan dipecat,Al!"


"Apa???Kok bisa?"

__ADS_1


"Iya.Jadi...".Aku kemudian menceritakan semua yang kualami kepadanya.


__ADS_2