CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Kesedihan


__ADS_3

"Anak-anak!Hajar mereka!", perintah Azril ke lima orang anak buahnya.


"Siap,Kak!",jawab mereka dengan serempak.


Segera kelima anak yang berotot dan bertubuh besar itu menyerbu Satrio dan lainnya.Begitu sampai di depan Satrio,mereka mulai menyerang.Salah satunya berusaha men-tackle Satrio tapi Satrio menendangnya dengan lututnya.Anak buah Azril langsung jatuh tersungkur.


Sewaktu Satrio sedang bertarung dengan salah satu anak buah Azril,Bu Victoria sudah menjatuhkan kedua lawan nya.Tinggal dua lagi lawan yang harus dihadapi.Sekarang mereka bertarung satu lawan satu.


Bugggg!


Lawan Satrio berhasil men-takedown Satrio.


"Satriooooo!!!", teriakku.Aku takut Satrio kenapa-napa.


"Hahaha..Lihat,tuh.Pahlawan kamu bentar lagi mati!"


"Tidak!Tidakkk!",seruku lagi.


Tapi kekhawatiran ku tak lama hilang.Satrio berhasil membalikkan keadaan.Dia sekarang yang berada di atas dengan posisi kakinya mengunci tangan lawan,namun nafasnya masih tersengal-sengal dan keringatnya mengucur deras.


Krakkkkk!!


"Aaahhhh!",teriak lawan Satrio.Satrio mematahkan lengan lawan.


Tak berselang lama,Bu Victoria melakukan tendangan putar dan mengenai kepala lawan.Lawannya langsung pingsan di tempat.


"Hahhh!!B*******!!Dasar anak buah nggak berguna!Hiattt!!"


Azril langsung menyerbu ke arah Satrio.Dia melayangkan pukulannya yang berat ke wajah Satrio.


"Satriooo,awasss!!!",teriakku.


Satrio dengan lincah menghindar dan melayangkan tendangan ke arah perutnya Azril.


Buukkk!


Tapi Azril baik-baik saja.Dia tersenyum dan tertawa."Hahaha.Kamu nendang atau nggelitikin aku!"


Memang fisik Azril yang besar dan berotot itu terlihat sangat kuat.Wajar saja kalau tendangan Satrio tidak terasa di badannya.


"Satrio.Biar Ibu saja yang hadapi!",kata Bu Victoria.


"Nggak papa,Bu.Biar saya saja.Kalau saya tidak bisa menghadapi dia,bagaimana ke depannya aku bisa melindungi dia".


"Hah!Sok pahlawan,lu!Ayo sini maju!",seru Azril.


"Tapi,Satrio.Fisik kalian berbeda jauh!"


"Nggak papa,Bu.Selama ini kan saya juga berlatih keras!"


"Ya,udah.Tapi hati-hati,ya!"


"Ayo.Sini,maju!",tantang Azril.


Kemudian terjadilah perkelahian yang seru.Ternyata Satrio bisa mengimbangi Azril.Memang dia tidak sekuat Azril.Tapi Satrio lebih cepat gerakannya.Sehingga semua serangan Azril tidak ada yang masuk.Nafasnya tersengal-sengal."Dasar,pengecut!Bisanya cuma lompat ke sana kemari!"

__ADS_1


"Baiklah,aku akan menyerang sekarang!",ujar Satrio.


"Satrio!Jangan serang dia!Terus menghindar saja sampai staminanya habis!",teriak Bu Victoria dari jauh.


Tapi Satrio tidak mengindahkannya.Dia juga tidak menoleh ke kanan-kiri.Sepertinya kali ini dia sedang konsentrasi.


"Bagus,kalau begitu!Hiyattt!!",teriak Azril sambil menyerang ke depan.Tapi belum sempat dia memegang tubuh Satrio.


Buuukkkk!!!!


Satrio melayangkan tendangan belakang tepat mengenai dagu Azril.Tubuh Azril goyang seperti orang mabuk dan kemudian jatuh ke belakang tak sadarkan diri.


"Yeeee!!!!!Satrio menang!!!",teriak Dinda ,Alfisa,dan Riyanti hampir bersamaan.


Kemudian mereka semua mendatangiku."Ras!Kamu nggak papa?",ujar Alfisa.Raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Ngg..Nggak papa,Al!Cuma kepalaku masih pusing!"


"Ayok,aku bantu berdiri!".Kemudian Alfisa dan Dinda membantuku berdiri.


"Laras,kamu nggak papa?",tanya Satrio.


"Eh,nggak..Nggak papa.Tapi kok kamu jadi hebat gitu,ya?Bukannya dulu kamu nggak bisa berkelahi?Bu Victoria juga.Aku nggak nyangka juga kalau Ibu pandai berkelahi"


Bu Victoria hanya senyum-senyum."Nggak,kok.Biasa aja!"


"Gini,lo,Ras!Bu Victoria ini sudah sejak SMA mengikuti perguruan silat PSTH.Nah,belakangan ini aku juga ikut latihan silat sama Bu Victoria.Jadi gitu,deh!"


"Ohhh,gitu!"


"Azril,kamu jangan nekat!",teriak Bu Victoria.


Dua kali Azril mencoba menusukkan pisaunya ke arah perut Satrio.Satrio bisa menghindar.Tapi..


"Aaahhhh!!",teriak Satrio.


Tusukan yang ketiga,pisau itu benar-benar masuk ke dalam perut Satrio.Darah merembes dari balik seragam putih yang dipakainya.Satrio mundur dan jatuh tersungkur.


"Satriooo!!", teriakku sambil berlari menuju ke tempat dia berada.


"Mampus,lo!",teriak Azril.


Aku menangis sambil memangku kepalanya.Air mataku jatuh mengenai wajahnya.


"Maaf..Maafkan aku.Gara-gara aku kamu jadi begini!",kataku sambil terisak-isak.


"Sebenarnya tidak perlu kamu minta maaf.Aku membantumu karena aku cinta kamu.Aku nggak papa,kok!Kamu jangan menangis!"


Sementara itu, Azril mengayunkan pisaunya ke arah Bu Victoria.


"Azril..Sadar,Zril!Aku ini gurumu!",ujar Bu Victoria sambil menghindar.


"Aaahhh!!Aku nggak peduli.Aku sudah berhenti sekolah.Ibu bukan guruku lagi!"


Dorr!!!

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara tembakan.


"Jangan bergerak!". Ternyata beberapa polisi datang dan menembakkan pistol ke udara."Saudara Azril,jatuhkan pisau Anda.Kalau tidak,akan kami tembak!"


"Hahhhhh!!!",Azril berteriak dan kembali menyerang Bu Victoria.


DOOOORRRR!!!


Peluru dari pistol polisi menembus punggung Azril.Tubuh Azril langsung tumbang bersimbah darah.


"Azrill!!",refleks aku menghampirinya."Kenapa?Kenapa jadi begini, Zril??Hiks..Hiksas!"


"Ti..Tidak..Jangan menangis untuk aku,Ras!Aku orang jahat!"


"Ta..Tapi!",air mataku mengalir semakin deras.


"Ma..Maafkan aku,Ras.Aku berbuat begini karena aku terlalu mencintaimu,Ras!"


"Iya..Iya..Kamu nggak usah bicara lagi.Tunggu sebentar..Sebentar lagi ambulans datang"


"Aku...Aku udah nggak kuat,Ras.Se..sel..selamat tinggal!Hahh!",Azril menghembuskan nafas terakhirnya.


"Tidakk..Tidakkkk!!!Azril jangan..Jangan pergi kayak gini.Aku..Aku yang salah..Ma..Maafkan aku, Zril!",kataku sambil menangis dan memukul-mukul tubuhnya yang sudah tidak bergerak lagi.


Udara malam itu kian terasa berat.Jiwaku goyah.Aku hanya menangis..menangis..dan menangis.Ketiga sahabatku berusaha untuk menghiburku.


Tubuh Satrio dan Azril sudah digotong ke dalam ambulans.Aku dan ketiga sahabatku ikut dalam ambulans yang membawa Satrio.


"Udah,kamu jangan nangis,Ras.Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan!",kata Satrio.


"Iya, Satrio.Aku sedih lihat kondisi kamu"


"Udah,aku nggak papa,kok!"


"Iya,Ras.Satrio nggak papa,kok!Kamu tenang aja!",ujar Alfisa sambil memelukku.Pelukan Alfisa lumayan menenangkan hatiku.


Setelah sampai di Rumah Sakit,Satrio langsung dimasukkan ke UGD.Sedangkan kami menunggu di luar UGD,karena kami dilarang masuk.


Mataku memandang berkeliling.Rumah Sakit ini terlihat sangat bersih.Ubinnya sampai mengkilat.Mungkin karena terlalu sering dipel.Bau karbol lantai dan obat-obatan segera tercium.


Kita duduk di salah satu kursi panjang.Ketiga sahabatku tak henti-hentinya menghiburku.


"Kamu lagi,ya?Dasar cewek pembawa sial!",teriak Bu Mimi Tambunan,Ibunya Satrio,yang entah muncul darimana.


"Tante!Tante jangan begitu.Laras juga terpukul dengan kejadian ini!",teriak Riyanti.


"Ehhh,kamu anak kecil kok udah berani bentak orang tua!Nggak diajarin sopan santun kamu sama orang tuamu!"


"Saya diajarkan orangtua saya sopan santun.Tapi nggak untuk dipakai ke orang sombong kayak Tante!",jawab Riyanti tambah ngegas.


Aku menarik tangan Riyanti."Udah,Ri..Udah biarin aja!",ujarku setengah berbisik.


Riyanti dengan berat hati kembali duduk di kursi.


"Nah,gitu,dong!Yang hormat sama orangtua!Awas,kamu,ya,Ras!Kalau sampek Satrio kenapa-napa kamu akan Tante laporkan polisi!",ujar Bu Mimi seraya masuk ke dalam UGD.

__ADS_1


__ADS_2