
Aku menatap ke sekeliling.Gedung yang megah dan mewah di hadapanku.Ck..Ck..Ck..Keren banget rumah ini.Sangat berbeda dengan kamar sempit tempatku tinggal.Udah sempit,masih harus berbagi kamar dengan Jojo, sepupuku.
"Ayo,Mbak.Masuk ke dalam",ajak Pardi memecah lamunanku.
"Eh,iya,Mas",kataku sambil gelagapan.Kentara sekali aku noraknya.Maklumlah aku belum pernah pergi ke rumah mewah seperti ini.
"Mau minum apa, Non?",sapa seorang wanita setengah baya setelah mendatangi kami.
"Eh,nggak usah,Bu",jawab Alfisa.
"Iya,Bu.Nggak usah",ujarku menimpali.
"Loh,loh.Kok nggak usah,to? Panas-panas gini enaknya minum es, kan?Ibu buatkan teh,ya?Mau?Nggak usah malu-malu.Ibu juga punya anak seusia kalian.Sekolah di SMA Proklamasi juga seperti kalian.Kalian kenal, nggak? Namanya Hendra".
"Hendra?Kayaknya saya tahu,Bu.Yang anaknya tinggi besar terus kulitnya putih,kan,Bu?",jawabku.
"Iya,iya,betul.Hendra itu anak ganteng sedunia"
Aku dan Alfisa berpandangan.Kami tertawa kecil.Lucu aja,sikap Ibu-ibu di depan kami kayak sales yang nawarin dagangannya.
"Loh,kok malah pada ketawa,to?"
"Nggak,Bu.Nggak papa.Ekspresi Ibu bercerita lucu aja",jawabku.
"Oooohh,gitu.Oh,iya,kamu kenal dimana,Nak?Ibu kira nggak bakalan kenal.Secara murid SMA Proklamasi kan,banyak!"
"Oh,saya kebetulan satu tempat kerja sama Hendra,Bu",jawabku.
"Ohh,kamu kerja di BBC Steak and bowl juga?"
"Iya,Bu"
"Kebetulan sekali.Nanti Ibu tanyain,ya!"
"Nggak usah,Bu.Soalnya saya nggak terlalu dekat sama Hendra.Di tempat kerja aja aku nggak pernah ngomong sama dia.Kecuali untuk hal-hal yang penting saja!"
"Ooo,gitu.Oh,iya.Sampek lupa.Karena keasyikan ngobrol,jadi lupa.Kan Ibu mau bikinin minum tadi.Ibu kedalam dulu,ya".
"Iya,Bu",jawabku mengakhiri percakapan kami.
---
Setelah menunggu selama kurang lebih tiga jam, akhirnya terdengar bunyi suara motor di teras.
"Hallo.Nih,udah beres",kata Satrio sambil mengulurkan kunci motor ke Alfisa.
"Terima kasih,ya!Udah ngerepotin kamu"
"Nggak,kok.Nggak ngerepotin.Aku justru senang bisa membantu kalian"
"Tadi habis berapa?",kata Alfisa sembari mau mengeluarkan dompet dari tasnya.
__ADS_1
"Nggak.Nggak usah.Tadi cuma ganti busi doang,kok!"
"Oh,gitu.Kalau gitu kami pamit,ya!"
"Loh, loh.Nggak masuk aja lagi?Minum apa gitu",cegah Satrio.
"Udah..Udah,kok.Aku aja habis tiga gelas tadi.Lagian udah sore.Aku sudah terlambat masuk kerja",jawabku.
"Kerja?Kerja dimana?"
"Udah,ya.Bye!",kataku sambil mendaratkan pantatku ke atas motor Alfisa.
----
Situasi di restoran sangat rame.Mungkin karena hari ini malam Minggu,ya?Jadi rame banget.Semua ini membuatku pusing dan mual.Entah karena kecapekan atau sakit maag ku lagi kambuh.
Akupun duduk di sebuah kursi yang kosong.
"Kamu kenapa,Ras?", terdengar sebuah suara pria menyapaku dengan lembut.
"Aku nggak papa, kok,Hen!Cuma pusing doang!",jawabku.
Hendra tak segera pergi.Dia melihatku dengan tatapan kasihan.Tatapan yang paling kubenci.Karena sejak kecil aku sudah sering melihat tatapan seperti itu.
"Kau yakin bahwa kamu nggak papa,Ras?,tanya Hendra sambil memegang bahuku.
Aku tepis tangannya.Entah kenapa aku malah jadi emosi."Udah aku bilang nggak papa.Ya.Nggak papa",kataku sambil ngeloyor pergi.
Badanku embang.Mau terjatuh.Tapi Hendra menangkap tubuhku."Tuh,kan?Pasti kamu kecapean atau belum makan.Ayo istirahat dulu di kamar belakang.Nanti aku yang bilang sama Pak Bos!"
"Makasih,Hen.Maaf,ya,yang tadi.Aku..Aku.."
"Sssttt!Udah ayo istirahat dulu!",kata Hendra sambil memapah tubuhku menuju ke rest room karyawan.
---
Aduuhhh.. Jam berapa ini?Kepalaku berat sekali.
Aku berusaha bangun dan mendongak melihat jam dinding.Hahhh..Udah jam delapan malam.Aduhhh pasti Tante Ayu marahin aku,nih!
Aku segera merapikan bajuku dan mengambil tas sekolahku.Dan setengah berlari menuju ke arah pintu kamar.
"Kamu udah sehat, Ras?",sapa Pak Darsana, pemilik restoran.Dia sedang duduk menghitung uang di belakang meja kasir.
"I..iya,Pak.Maaf,ya,Pak.Saya tidurnya kelamaan",jawabku.
Pak Darsana mengangguk tanpa melihatku.Sepertinya dia sedang berkonsentrasi dalam menghitung uang.
"Saya pamit,ya,Pak",ujarku.
Pak Darsana kembali mengangguk.Mulutnya komat-kamit seperti sedang membaca mantera.
__ADS_1
Di depan restoran,aku lihat Hendra sedang duduk sambil menghisap Vape.Asap tebal menyelimuti sebagian wajahnya.
"Belum pulang kamu,Hen?",sapaku.
"Eh,Ras.Gimana udah enakan?",tanyanya.
"Iya",jawabku singkat."Eh,kamu tadi kesini naik apa?"
"Aku?Aku tadi naik sepeda.Tuh,sepedaku!",katanya sambil menunjuk sepeda warna silver di parkiran.
"Bisa antar aku?", pintaku.
"Kemana,Ras?"
"Pulang.Aku harusnya menggantikan dia menjaga mini market jam empat tadi.Dia pasti marah banget ini!"
"Oh,gitu.Ayo aku antar"
Kemudian aku naik ke atas boncengan sepedanya Hendra.
---
Plakkkk!!!
Tante Ayu menamparku dengan keras.
"Kamu ini sudah mulai semaunya,ya! Lihat!Udah jam berapa ini?Jam setengah sembilan baru datang! Harusnya kamu kan datang jam empat tadi!Ingat ya!Utang Ibumu sama Tante masih sangat banyak!"
"Maaf..Maaf Tante!"
Tante Ayu membuka seragam kerjanya dan melemparkannya kepadaku dengan kasar.
Hhhhh..Aku menghempaskan tubuhku ke atas kursi.Aku menatap ke luar.Lingkungan di luar nampak lusuh.Masih ada lagi bangunan-bangunan tua,serta beberapa toko.Semuanya kelihatannya perlu dicat dan diperbaiki.Orang-orang sudah tidak banyak yang berada di jalan.Mungkin karena ini sudah malam.Mereka memilih untuk tinggal di rumahnya masing-masing.Sedang menonton TV ditemani minuman hangat atau sudah tertidur pulas dibalik selimut.Ah, enaknya menjadi mereka.Sedangkan aku.Aku di sini harus bekerja untuk melunasi hutang Ibuku.
Karena tidak ada pembeli.Iseng-iseng aku buka handphoneku.Dan ternyata ada DM yang masuk.Mungkin DM itu masuknya tadi, waktu aku tidur di restoran. Sehingga aku tidak mendengarnya.
Hahhh..DM dari Satrio ternyata.
>>Lagi ngapain,Ras?
>>Lagi mau tidur.
Aku berbohong.Karena aku tidak mau dikasihani oleh orang lain.
>>Oh,ya.Selamat tidur.
>>Y
DM dari Satrio membuatku kembali segar.Seolah hilang semua rasa kantuk dan lelahku.Aku kenapa,ya?Apa ini yang namanya jatuh cinta?Ah.. Sadar,Ras.Kamu ini udah punya Azril.
Hmm..Ya..Betul juga.Apalagi aku dan Satrio beda jauh.Dia siapa.Aku siapa.Ibaratnya kami berdua seperti bumi dan langit.Dia model,anak orang kaya,anak artis.Nah..aku siapa?Cuma debu Orangtua aja nggak punya.
__ADS_1