
Cinta berdiri dari duduknya, dan mendekati Rangga. Wanita itu berdiri tepat dihadapan pria itu. Dia meraih tangan pria itu, dan menaruhnya di atas perut.
"Apa Mas tak ingin melihat janin ini tumbuh sehat Hingga dewasa kelak?" tanya Cinta.
"Tentu saja aku sangat menginginkan itu," jawab Rangga dengan tegas.
"Jika memang begitu, kenapa tadi Mas bicaranya aneh?" tanya Cinta lagi.
Tiba-tiba Rangga memeluk pinggang Cinta erat. Dia mengecup perut wanita itu. Air matanya jatuh tanpa dia sadari. Cinta menghapusnya. Lalu mengecup mata suaminya.
Mendengar cerita Rangga, wanita itu merasa iba dan terharu. Pasti berat menjadi pria itu. Menghadapi semua seorang diri tanpa ada tempat bersandar dan berbagi.
Rangga meminta Cinta duduk dipangkuannya. Beruntung saat ini mereka ada diruangan VIP sehingga bisa lebih privasi.
"Cinta, aku tak tahu, apakah kamu saat ini benar-benar telah memaafkan aku atau bukan, aku hanya ingin kamu percaya jika aku begitu menyesali semua perbuatanku padamu. Aku ingin kita memulai semua dari awal. Akan aku buktikan padamu jika aku akan menjadi suami dan ayah yang bisa dibanggakan."
Rangga terus saja mengelus perut Cinta, entah mengapa dia sangat menyukai kegiatan itu. Cinta hanya tersenyum. Dia dapat merasakan perubahan sikap suaminya saat ini. Rangga jauh lebih lembut dan tidak temperamen lagi.
Namun, untuk kembali saat ini dia juga tidak bisa. Cinta harus bicarakan dulu dengan mama Merlin dan Nick. Bukankah mereka yang telah menolongnya saat kesulitan. Cinta tidak mau dikatakan orang yang tidak ingat balas budi.
"Cinta, apa kamu mau kembali ke rumah?" tanya Rangga lagi dengan suara pelan.
Cinta turun dari pangkuan suaminya itu. Menggenggam tangan, pria itu. Pria pertama yang membuat dia jatuh cinta. Sejak melihat Rangga di desanya dulu, Cinta langsung jatuh cinta.
Namun, dia tidak tahu jika Rangga adalah abang dari Rafael. Cinta dulu berpikir pria itu teman dari salah satu mahasiswa yang KKN.
"Beri aku waktu satu minggu lagi. Agar aku yakin betul untuk kembali. Di waktu satu minggu itu, aku juga berharap Mas bisa menyakinkan diri sendiri apa benar aku adalah wanita yang diinginkan untuk mendampingi dirimu."
"Aku sudah yakin, tapi aku juga tidak ingin memaksa kamu untuk ikut aku saat ini juga. Semua keputusan ada di tangan kamu."
__ADS_1
"Apa Mas masih mau menunggu seminggu lagi saat aku memutuskan semuanya?" tanya Cinta. Dia juga ingin menguji seberapa seriusnya pria itu untuk kembali pada dirinya. Jika Rangga memang betul-betul menginginkan dia kembali, pastilah waktu smeinggu lagi itu bukan waktu yang lama.
Setelah bicara cukup banyak, Rangga dan Cinta meninggalkan restoran itu. Pria itu membawa Cinta jalan ke mal dan membeli banyak kebutuhannya.
Jam sembilan malam barulah Rangga mengantar Cinta pulang. Sampai di rumah Nick, jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Sampaikan salamku untuk mama dan Nick. Aku tidak bisa mampir karena sudah larut. Hujan pun akan turun," ucap Rangga saat mengantar Cinta.
"Iya, Mas. Secepatnya Mas harus kembali karena jika hujan, jalanan Iicin. Hati-hati mengemudinya. Jangan ngebut," pesan Cinta.
"Iya, Cinta." Rangga lalu mengecup pipi istrinya sebelum masuk ke mobil.
Cinta memandangi hingga mobil hilang dari pandangan matanya. Setelah itu Cinta langsung masuk ke kamar karena Nick belum pulang dan mama masih di luar kota.
Nick saat ini masih mendekati Arimbi. Dia tidak akan puas sebelum mendapatkan kepastian, keterlibatan wanita itu atas meninggalnya Rachel.
Pukul sepuluh malam, keadaan di jalan raya mulai sepi. Sudah dua jam Rangga mengantar istrinya pulang ke rumah orang tua Nick yang berada di luar kota. Setelah berpisah, dia menghidupkan mesin mobil dan memutar arah ke kota. Rangga merasa kelelahan dan ingin segera pulang untuk beristirahat.
Ketika Rangga berada di jalan, dalam waktu singkat, tiba-tiba muncul sebuah mobil dari arah berlawanan. Pria itu melihat mobil tersebut sedang memacu dengan kecepatan tinggi, dan mengarah langsung ke arah mobilnya. Rangga segera menginjak rem, tapi terlambat. Mobil dari arah berkawanan itu sudah terlanjur menabrak mobil Rangga dengan keras. Hingga dia terlempar keluar dari mobil dan tubuhnya terhempas ke atas aspal.
Rangga merasakan tubuhnya terlempar dari sisi kiri mobil. Dia langsung merasakan sakit di kepala dan beberapa bagian tubuhnya.
Namun, belum lama setelah itu, terdengar suara teriakan dari kejauhan. Beberapa orang sedang berjalan kaki dan mendekati lokasi kecelakaan itu. Mereka menawarkan pertolongan kepada Rangga.
Mereka kemudian membawa Rangga ke rumah sakit terdekat dan memberikan pertolongan yang diperlukan.
Cinta yang baru saja memejamkan matanya dikagetkan dengan seseorang yang menghidupkan lampu kamarnya. Ketika Cinta melihat siapa orang itu, dia tersenyum mendapati Nick yang masuk.
Nick duduk di tepi ranjang wanita itu. Cinta lalu bangun dan ikutan duduk. Dia memandang heran ke arah Nick yang hanya diam dengan wajah sedikit cemas.
__ADS_1
"Ada apa, Bang? Kenapa wajah Abang begitu? Apa yang terjadi ...?" tanya Cinta dengan cemas.
Dia yakin ada sesuatu yang terjadi. Melihat wajah Nick yang sangat tegang.
"Ada kabar buruk tentang Rangga, suamimu," ucap Nick pelan.
“Ih, Abang, jangan membuatku takut seperti itu. Bilanglah langsung, apa yang terjadi?" Cinta berusaha tenang.
“Suamimu mengalami kecelakaan di jalan tadi. Seorang temannya yang memberi tahu aku tadi," jawab Nick. pelan.
“Astagfirullah. Apa yang terjadi padanya? Dia baik-baik saja, kan?” tanya Cinta dengan suara sangat cemas.
“Dia butuh operasi, Cinta. Bahagianya, dia tidak dalam kondisi kritis. Saat ini dia masih di ruang ICU rumah sakit.” Nick berusaha menenangkan Cinta.
“Ya Allah, Ya Rahman, semoga Mas Rangga segera sembuh. Aku akan segera pergi ke rumah sakit.” Cinta lalu bangun dari tidurnya.
"Supir telah aku minta siapkan mobil. Kamu ganti pakaian. Kita segera berangkat ke rumah sakit," ucap Nick.
Nick keluar dari kamar untuk mengganti pakaiannya. Dia tadi berbohong dengan mengatakan jika Rangg baik-baik saja.
Cinta memilih baju yang enak dan pantas dia gunakan. Hanya sekejab dia telah menunggu Nick di ruang tamu. Setelah Nick muncul, mereka berdua masuk ke dalam mobil yang telah menunggu di halaman.
Dalam perjalanan keduanya memilih diam. Cinta jadi teringat ucapan suaminya, saat makan di restoran. Seolah suaminya memberikan firasat buruk.
Cinta masih terus diam selama perjalanan, dia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa takut dan rasa cinta pada suaminya.
Sesampainya di rumah sakit, Cinta langsung menuju ruang ICU. Dia melihat suaminya terbaring dengan tubuh yang penuh dengan tabung dan kabel. Ini adalah pemandangan yang tidak pernah dia harapkan terjadi. Cinta melihat suaminya tidak sadar dan merasa kesedihan yang amat sangat.
Cinta jadi teringat dengan apa yang dialami kedua orang tuanya. Mereka meninggalkan dunia juga karena kecelakaan. Dia tidak ingin itu terjadi lagi padanya.
__ADS_1
...----------------...