CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Masalah Hendra


__ADS_3

Aku terbangun.Kudengar kesibukan di dapur.Aku mengerang pelan,lalu memutar tubuhku yang tergeletak di tempat tidur.Aku memandang arlojiku.Pukul tujuh lewat sedikit.


"Kamu sudah bangun?", Hendra menjenguk ke dalam dari ambang pintu.


"Ya, sekarang aku sudah bangun".Aku bangkit dari tempat tidurku dengan gerakan lambat."Aku dimana?"


"Kamu di rumahku.Kemarin kamu terlalu banyak minum.Kamu mabuk.Makanya aku bawa kemari",jawab Hendra."Kamu lupa?"


Aku menggeleng."Aduhh!"


"Kamu kenapa,Ras?Sakit kepalamu?Pasti karena kamu kebanyakan minum,Ras!Nih,aku bawa air jahe.Minum,gih!",ujar Hendra sambil menyorongkan segelas air jahe kepadaku.Akupun meminumnya.


"Gimana?Udah enakan?",tanya Hendra.


Aku mengangguk.Tapi belum hilang sakit kepalaku, tiba-tiba aku merasa mual."Hoeeekkkk!"


Akupun muntah dengan sempurna.Tapi astaga!Air muntahanku mengenai wajah dan baju Hendra."Eh,ma...maaf,Hen!",kataku sambil mengambil tisu di atas meja.Aku berusaha membersihkan muntahanku di wajahnya.


Tapi Hendra memegang tanganku."Tidak usah,Ras.Aku aja!Kamu kan lagi sakit!"


"Ma..ma..maaf,ya,Hen.Sekali lagi maaf!",ujarku.


"Oke,never mind!Nggak papa.Aku ke kamar mandi dulu,ya.Mau bersih-bersih.Kamu juga kayaknya perlu bersih-bersih juga.Bajumu juga kena muntahan tuh, kayaknya!"


"Iya"


"Nanti biar Ibuku yang membawakan baju gantimu kemari"


Aku mengangguk.Aku merasa nggak enak sama Hendra.Dia selalu saja berkorban untukku.


Setelah Hendra pergi,aku tertawa geli.Walau bagaimanapun,kejadian tadi lucu banget.Bisa-bisanya aku muntah di muka Hendra.Tapi selain lucu,memalukan juga,sih.Mungkin ini jadi peristiwa yang nggak akan kulupakan seumur hidupku.


Akupun masuk ke kamar mandi untuk mandi.Tubuhku juga penuh dengan muntahanku sendiri.Setelah mandi aku memasang handuk di badanku.Lalu tak lama pintuku diketuk.


"Ras!Laras!Ini Tante Fika,Mamanya Hendra.Boleh Tante masuk?", terdengar suara orang dari balik pintu.


"Oh,iya,Tante.Boleh"


"Ini baju ganti kamu,ya!Tante nggak bisa lama-lama.Sekarang Tante sedang masak.Nanti kita ngobrol lagi!"


"Iya,Tante!"


Tante Fika pun pergi karena ingin lekas-lekas ke dapur.


Aku lihat baik-baik.Hahhh..Baju yang diberikan Tante Fika norak banget.Celana kolor panjang berwarna ungu bercorak bunga-bunga.Sedangkan atasannya kaos berwarna merah marun.Selain norak,nabrak banget.Tapi ya udah,lah,namanya juga emak-emak.Bajunya pasti kayak gini.Ya,udah,lah aku pakai aja.Dan,astagirr..Outfit ku kacau banget.Celanaku kebesaran.Besar bangettt.Kayaknya sih ini memang celananya Tante Fika.Sedangkan kaosnya kecil,kayaknya ini kaosnya Hendra.Bisa kamu bayangkan,bagaimana bentuk outfit ku saat ini.Kacau bin aneh!


"Larasss!", terdengar teriakan dari luar.Hmm..Tante Fika sama saja dengan Tante Ayu.Suka teriak-teriak.

__ADS_1


"Iya,Tante!!",seruku tak kalah kerasnya.


Aku menuruni anak tangga menuju ke dapur.Hendra dan Tante Fika sudah ada di depan meja makan.


Kemudian Tante Fika melambaikan tangannya padaku"Laras,ayo sini.Ikut sarapan!"


Akupun mengangguk dan segera duduk di depannya.


Aku perhatikan Tante Fika sedang sibuk berbincang dengan Hendra.Macam-macam yang diocehkannya.Tentang Hendra,tentang rumah, tentang sekolah, tentang pekerjaan,serta tentang Ayahnya Hendra yang tidak tahu diri,menghilang sewaktu Hendra masih kecil.


"Dan jangan kamu sangka,Ibu akan diam saja",kata Tante Fika."Tidak!Ibu tidak ijinkan kamu mencari Ayahmu lagi.Dia sudah tega meninggalkan kita,bahkan waktu kamu masih kecil.Kalau Ibu tidak dibantu Bu Mimi.Entah bagaimana hidup kita,Hen!"


"Sudahlah,Bu.Kita bahas nanti saja.Di sini kan ada Laras",kata Hendra sambil melirik ke arahku.


"Ah,nggak papa,kok,Hen.Kamu kan sudah sering nolong aku.Keluargamu,keluargaku juga",ujarku.


"Nah,Laras aja nggak papa, kok.Kok kamu yang keberatan",kata Tante Fika."Lagian apakah ada gunanya,Hen?Ayahmu menghilang dengan sendirinya.Untuk apa lagi dicari,Hen?Ayahmu sudah menelantarkan kita".


Hendra meletakkan piring berisi nasi,sayur,dan ayam goreng di atas meja."Aku ini anaknya,dan Ia Ayahku.Aku tetap harus tahu dia dimana dan bagaimana keadaannya.Wajahnya saja aku tak tahu!",kata Hendra.


Hendra berdiri dan menarik tanganku."Ayo Laras.Aku akan mengantarmu pulang sekalian aku berangkat ke sekolah".


Walaupun Hendra sedang marah,dia tetap mendatangi Tante Fika dan mencium tangannya."Hendra berangkat dulu,ya,Bu.Jangan lupa makan.Ibu sendiri belum sarapan".


Tante Fika menarik telapak tangannya dengan kasar."Aku tidak perlu sarapan",tukas Ibunya."Aku tidak mau makan selama kamu masih ngotot mau nyari Ayahmu!"


Hendra menyambar tasnya yang diletakkan di atas lemari es.Hendra mencari-cari kunci motornya,lalu bergegas keluar.Sedetik kemudian terdengar bunyi mesin motor dihidupkan di luar."Larass!Ayo..Kita berangkat! Nanti kita lambat,loh!"


Aku menghampiri Tante Fika dan mencium tangannya."Tante,saya pergi dulu,ya!"


"Iya.Hati-hati,ya.Titip Hendra,ya.Tolong juga ikut nasehatin supaya dia tidak mencari Ayahnya lagi".


"Iya,Tante.Saya usahakan"


--


"Ternyata kamu punya motor juga,Hen?",ujarku dari belakangnya.Punggungnya menutupi pandanganku ke depan.


"Hehe.Iya"


"Kok selama ini nggak pernah aku lihat kamu memakainya?"


"Ini motor Ayahku.Ini peninggalan satu-satunya dari Ayahku.Aku sayang aja kalau terlalu sering memakainya.Takut lecet atau rusak.Selain itu,aku emang lebih suka naik sepeda,sih.Hehe".


"Terus kenapa sekarang kamu pakai?"


"Ya,supaya cepet,Ras!",jawab Hendra sambil tetap ngegas motornya dengan kencang.

__ADS_1


BLETAKKK!


Aku memukul helmnya dari belakang.


"Kenapa,Ras?Kok mukul helm-ku?", tanyanya dengan sedikit berteriak.Sepertinya dia takut jika aku tidak dapat mendengar ucapannya.


"Habis kamu terlalu ngebut!!!",seruku.


"Eh,ya,sori.Aku takut kita telat aja, makanya aku ngebut.Kamu,kan masih mau pulang.Terus masih ganti seragam".


"Nggak papa kalau kita telat,Hen!Daripada nyawa kita melayang!"


"Ya,Ras.Maaf.Ini aku udah nggak ngebut!"


"Aku mau ngomong boleh,nggak,Hen?"


"Boleh,dong!Kan dari tadi kamu juga lagi ngomong!"


"Bukan itu maksudku,Hen!Maksudku aku mau ngomong serius!"


"Ya,boleh..boleh!"


"Memang sepantasnya,jika Ibumu marah padamu,Hen!", kataku."Tapi menurutku,Ibumu tidak berniat menyakiti hatimu.Kurasa wataknya lembut.Nggak mungkin dia mau sengaja menyakiti hatimu.Pasti Ibumu punya alasan sendiri kenapa dia tidak memperbolehkan kamu mencari Ayahmu.Kamu baikan,ya,sama Ibumu.Kamu nggak boleh terlalu keras padanya"


"Ibuku menyukai bunga",katanya."Aku biasanya memberikan bunga kepada Ibuku kalau lagi marah.Nanti aku belikan".


"Ibumu suka bunga apa?"


"Dia suka mawar putih!"


"Emang ada mawar putih,ya?"


"Ada, dong!"


"Kok aku penasaran,ya.Mau lihat mawar yang warnanya putih.Boleh nanti kalau kamu beli bunga, aku ikut?"


"Boleh,dong!Aku seneng kalau nanti kamu ikut!"


"Kapan kamu mau pergi ke toko bunganya?"


"Nanti pas pulang sekolah aja,gimana?"


"Oke,Bos!",ujarku.


Tak terasa aku sudah sampai di rumah.Tante Ayu sedang bersiap mau ke minimarket.Melihatku datang,dia langsung ngomel."Kamu darimana aja?Kok pagi baru pulang?Nggak ngebantuin jaga minimarket lagi!"


"Aku pingsan Tante,kemaren!Terus aku ditolong sama temenku.Karena masih pusing,aku nginep di rumah temanku".

__ADS_1


"Ihh,kamu benar-benar sudah jadi anak liar,ya!Pulang pagi terus pake nginep lagi.Pasti kamu nginep di rumah cowok,ya.Dasar cewek nakal kamu!"


Aku tidak mengindahkan makian Tante Ayu lagi.Aku segera menuju ke kamar dan mengganti bajuku dengan baju seragam.


__ADS_2