
Aku dan Alfisa menemukan sebuah bangku taman yang terlindung dibalik pohon beringin.Kami duduk sambil memangku kotak makan siang kami.Dulu Alfisa selalu makan di kantin.Tapi setelah dia tahu aku selalu membawa bekal untuk makan siang.Eh,dia ikut-ikutan membawa bekal dan ikut juga makan siang di taman ini.
"Gimana hubungan kamu dengan Azril,Ras?",tanya Alfisa sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Entahlah,Sa.Aku kan udah minta putus sama dia.Tapi dia nggak mau.Jadi aku terpaksa...".Aku tak bisa melanjutkan perkataanku.
"Ras,kalau kamu mulai merasa lelah menjalin hubungan dengannya, sebaiknya kamu putusin lagi,Ras!Jangan menjalani hubungan yang palsu.Biar saja dia nggak mau putus.Yang penting kamu harus tegas,Ras!"
"Baiklah",aku mendesah.
Jam pelajaran berikutnya aku habiskan dengan melamun.Entah mengapa,wajah Satrio selalu terbayang di pikiranku.Aku menulis, mengerjakan soal,tidak ada yang fokus.Semuanya jadi kacau.Bahkan aku sering dimarahi oleh guruku karena tidak bisa konsentrasi.
Seharusnya aku bahagia dengan pacar sebaik Azril.Seharusnya aku nggak mikirin cowok lain.Tapi entah kenapa ,perasaan ini tak mau hilang.Wajah Satrio selalu membayangiku.
Hubunganku benar-benar terancam.Tapi aku tak tau harus berbuat apa.
--
Satrio adalah seorang cowok berpenampilan menarik,dengan tubuh tinggi dan wajah yang putih.Di luar sekolah dia selalu mengenakan baju yang mahal.Dan di baju yang dipakainya diperciki parfum mahal juga.
Dan sekarang dia sedang berdiri di depanku.Aku terpesona.Anganku terbuai.Tapi tiba-tiba aku teringat.Ras,,sadar Ras.Kamu sudah punya pacar.Kamu nggak mau kan dicap playgirl atau wanita tukang selingkuh.
"Ma.. Maaf saya mau lewat",ujarku.
Dia minggir dan membiarkanku lewat.
"Terimakasih",ujarku.
Akupun duduk di halte dan sengaja menjauh darinya.Tapi dia malah duduk di sebelahku.
"Kamu mau kemana?",tanyanya.
"Pulang",jawabku sambil beringsut berusaha menjauh darinya.
"Kamu kenapa menjauh dariku?"
"Eh,ngg...Nggak kok!"
"Jujur saja.Kamu menjauh dariku..Waktu di sekolah tadi juga, kamu menjauh dariku"
"Kapan?Nggak,kok!"
"Iya.Tadi waktu di tangga contohnya.Kamu nggak ngelihat aku.Kamu pura-pura nggak kenal aku".
"Oh,itu.Tadi aku lagi buru-buru".
"Ayo,terus terang saja",Satrio mendesakku.
"Tunggu!Apakah ini penting?Kamu kan orang terkenal.Untuk apa kamu mau tahu?Dasar aneh!"
"Aku...",katanya ragu-ragu.
"Maaf.Aku sudah punya pacar!",kataku tegas.Sebisa mungkin aku ingin menjauh dari dia.Aku nggak mau hatiku jadi jungkir balik lagi karena dia.
"Hahahaha".Dia tertawa dengan keras.
"Hah!Kenapa kamu ketawa!Dasar orang sinting!",kataku sambil menginjak kakinya.
"Aduuuhhh!".Dia berteriak kesakitan sambil memegangi kakinya.
Kebetulan ada angkot yang berhenti di depanku.Akupun langsung masuk ke dalam angkot itu.Tapi yang bikin jengkel,Satrio ikut-ikutan naik ke dalam angkot.
__ADS_1
"Kenapa kamu ikut naik?",tanyaku.
Suasana di angkot tiba-tiba riuh.Cewek-cewek pada heboh,karena Satrio masuk ke dalam angkot.
"Pak,Stop,Pak!",teriakku.Aku nggak mau terhimpit diantara jumpa fans artis.Hahhh...Jumpa fans kok di angkot.
Tapi kulihat Satrio juga ikut-ikutan turun.Kakinya terpincang-pincang.Rupanya kaki yang kuinjak tadi masih sakit dia rasakan.Aku jadi kasian.
"Kamu nggak papa?",tanyaku.
Dia tersenyum."Nggak.Nggak papa kok!"
"Tapi kok kamu meringis-meringis gitu"
"Yah, sebenarnya agak sakit,sih!"
Karena nggak tega ,aku memapahnya dan mendudukkannya di sebuah bangku taman.
Aku berjongkok di depannya.
"Eh,eh,eh.Kamu mau ngapain?", tanyanya.
"Eh,Jangan mikir yang jorok-jorok,ya!",kataku sambil membuka sepatu dan kaos kakinya.Kemudian aku memijat kakinya.
"Aduh..Aduh.Aduhh!",teriaknya.
"Ih,kamu cowok bukan,sih.Cuma dipijit gini aja teriak-teriak!"
"Nggak,bukan sakit.Cuma kaget aja!"
"Ngeles aja kamu!"
Setelah sepuluh menit aku memijitnya.
Kemudian Satrio memutar-mutar pergelangan kakinya.
"Udah.Udah enakan ini.Terima kasih,ya!"
Tiba-tiba muncul tiga orang badannya gede-gede dan mukanya seram.
"Eh,ada cewek cantik,nih!Ayuk maen sama Abang.Jangan maen sama cowok menye-menye kayak gitu!",kata orang itu sambil mencolek daguku.
"Eh,jangan kurang ajar,ya!",hardikku.
"Bang.Jangan ganggu dia,Bang!".Satrio berdiri dan berdiri memunggungi ku.
"Mau maen-maen rupanya anak mami ini.Hajar,Wok!", perintahnya kepada teman-temannya.
Segera saja,Satrio jadi bulan-bulanan para preman itu.
Bakkkk!
Aku menendang kepala salah satu preman itu.
"Aduhhh!Berani juga kamu! Sebenarnya Abang cuma mau maen sama kamu.Tapi kok kamu kurang ajar,ya!"
Preman itu mau memukulku.Tapi segera kulayangkan tendangan putar dan tepat mengenai kepalanya.Preman itu segera oleng dan ambruk ke tanah.
"Berani,ya,kamu.Ciattt!",kedua preman itu hendak mengeroyokku.
Nguing!Nguing!Nguinggg!
__ADS_1
Terdengar suara sirine polisi meraung-raung.
"Eh,ada polisi.Ayok kita cepat pergi!"
Preman-preman itu segera melarikan diri dan memapah temannya yang ambruk tadi.
Satrio mengangkat tangannya.Dia menunjukkan handphone nya.Rupanya suara sirine polisi itu berasal dari handphonenya.
"Hahhh..Kamu yang bikin suara sirine tadi!",tanyaku.
Satrio tersenyum dengan mukanya yang bonyok.Wajah tampannya penuh dengan memar di sana-sini.
"Aku pesan Bong-Car,ya!Kita ke Rumah Sakit!"
Satrio mengangguk.
Aku ambil sapu tangan dari dalam tasku.Kuseka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Terimakasih,ya!",kataku.
"Terimakasih untuk apa? Justru aku malu.Kamu lebih hebat dariku.Kamu bisa mengalahkan preman itu dalam satu serangan.Kamu belajar karate,ya?"
"Nggak.Aku ikut taekwondo.Hmmm..Walaupun kamu nggak bisa mengalahkan mereka.Tapi aku bangga.Walupun kamu tau kalau kamu nggak bisa berkelahi,kamu berani menghadang preman-preman itu supaya tidak menggangguku".
Setelah ambulance datang,aku menemaninya menuju ke Rumah Sakit.
--
Aku duduk di luar ruangan UGD.Aku lagi menunggui Satrio yang sedang diperiksa dan diobati oleh Dokter.
Sementara itu,kulihat seorang wanita cantik paruh baya yang datang tergopoh-gopoh.
"Gimana,Sus?Anak saya gimana keadaannya,Sus?",tanyanya ke salah seorang suster.
"Pasien sedang diobati oleh Dokter,Bu.Pasien tidak apa-apa.Hanya luka ringan saja"
Kemudian Ibu itu duduk di sebelahku.
"Kamu siapa?",tanyanya.
"Saya temannya Satrio,Tante.Saya yang bawa Satrio kesini",jawabku sopan.
PLAKKKKK
Ibu itu menampar pipiku.
"Kenapa.Kenapa Tante menamparku?",tanyaku.
"Gara-gara kamu,kan!Satrio bisa sampai seperti ini!Biar kamu,tau,ya!Satrio itu model! Wajahnya itu asetnya, tau!Kalau wajahnya bonyok kayak gini,gimana coba!Mana besok Satrio ada jadwal pemotretan lagi!".Tante itu berbicara dengan penuh emosi.
"Loh,Tante.Harusnya Tante berterimakasih karena saya sudah menolong anak Tante.Eh,ini malah nampar saya!"
"Kamu ini benar-benar nggak sopan,ya! Bisa-bisanya kamu membentak orang yang lebih tua!Dasar anak nggak tau sopan santun!Pergi sana kamu!Pergi!"
Datang dua orang satpam dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa ini?Kok ribut-ribut?Maaf,ini Rumah Sakit.Jangan ribut-ribut di sini",tegur salah seorang satpam.
"Ini,Pak.Cewek rendahan ini yang bikin onar duluan.Tolong usir dia,Pak!"
Kedua Satpam itu memegang kedua lenganku."Maaf,Mbak.Jangan bikin onar di sini.Tolong pergi,ya!"
__ADS_1
"Lepas,Pak",kataku sambil menarik kedua tanganku.Kemudian aku mengambil tasku."Nggak usah disuruhpun,aku mau pergi dari sini"
Dengan tergesa aku meninggalkan Tante resek itu dan kedua orang Satpam yang mau menangkapku tadi.