
Ketiga orang itu kutinggalkan dengan perasaan kesal.Setelah ojol datang menjemput,akupun berangkat menuju minimarket.Udara terasa dingin.Kabut mengambang di gelapnya malam.Aku mengeluarkan coklat dari jaket dan menggigitnya dengan lahap.Katanya sih, coklat bisa mengembalikan mood.
Lampu-lampu gemerlapan.Puluhan papan iklan terpasang di sepanjang jalan.Setiap papan iklan seakan berlomba untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat.
"Udah malam,kok baru pulang,neng?",tanya pengemudi ojol itu berusaha memecah kebekuan diantara kami.
"Eh,iya,Bang.Habis nganter temen di Rumah Sakit".
Sebuah mobil berpapasan dengan kami dari arah depan.Abang ojol itu tidak sempat menghindar dan bersenggolan dengan mobil itu.
Gusrakkkkk!
Motor yang kami tumpangi pun nyusruk ke mencium kerasnya aspal.
"Hati-hati,dong,Bang!",aku menggerutu.
"Maaf,Neng.Neng nggak papa?"
"Aiisssshh",aku meringis kesakitan.Lututku terasa perih.Darah mengucur dari lututku yang sobek itu.
"Sa..Sakit,Neng?",tanya Abang Ojol itu terbata-bata.
"Sakit,lah,Bang!"
"Ayok,Neng.Biar saya antar ke klinik!",kata Abang Ojol itu seraya membantuku berdiri.
Kemudian Abang Ojol itu mengantar aku ke klinik terdekat.
---
Aku mengetuk pintu kantor Kepala Sekolah.Suara Pak Sunar yang cempreng terdengar menyahut,"Masuk".
Pak Sunar,seorang pria kurus dengan leher yang panjang sekali tengah membereskan mejanya.Terdengar suara bel yang berbunyi seusai jam pelajaran sekaligus menandakan bahwa waktu istirahat telah tiba.Di luar ruangan Kepala Sekolah terdengar anak-anak banyak yang berkerumun dan berkasak-kusuk.
Di dalam kantor,selain Pak Sunar.Duduk Tante yang kutemui di Rumah Sakit kemarin.
"Laras,saya telah mendengar dari Ibu Mimi bahwa kamu telah membuat anaknya cidera",kata Pak Sunar."Ibu Mimi telah menceritakan semuanya pada saya"
"Lalu?",kataku pendek.
"Lalu apa penjelasanmu?"
"Kalau saya bilang,saya tidak bersalah.Apa Bapak percaya?"
"Tergantung dari apa penjelasan kamu".
Akupun kemudian menceritakan secara kronologis kejadian kemarin.
Pak Sunar mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-angguk.
"Bu Mimi.Kalau saya mendengar dari penjelasan Laras.Laras tidak bersalah Bu Mimi.Justru Laras telah menolong anak Ibu",kata Pak Sunar.
"Saya nggak mau tau,ya,Pak!Yang jelas anak saya sudah menjadi korban.Dan anak ini harus bertanggung jawab.Gara-gara nolongin anak ini,muka anak saya jadi bonyok-bonyok!"
"Iya,Bu Sabar..Sabar..Terus Ibu mau saya bagaimana?"
__ADS_1
"Pokoknya anak ini harus dihukum!"
"Ba.. baik,Bu!".Pak Sunar mengalihkan pandangannya kepadaku."Laras,kamu Bapak skors selama satu minggu"
"Ta..Tapi,Pak".
Pak Sunar mengedipkan matanya kepadaku.Seakan kode agar aku menurut saja.
"Hhhh..Baiklah,Pak",aku mendesah.
Begitu keluar ruangan,tanganku langsung ditarik oleh Alfisa,Dinda,dan Riyanti.Riyanti juga teman yang belakangan dekat denganku.Wajahnya bundar dan sedikit gendut.Hobbyku mencubiti pipinya setiap hari.Habis pipinya lembut-lembut kenyal gitu.Kayak squishi.
"Gimana..Gimana?",tanya Riyanti.
"Aku diskors satu minggu",jawabku.
"Astaga!",seru Riyanti terkejut.Dengan kening berkerut ia mendatangi dan memelukku."Kita akan pergi ke rumahmu setiap hari,supaya kamu nggak kesepian!"
Kemudian Alfisa dan Dinda ikut-ikutan memelukku.
"Tapi asyik,lo!",kata Dinda dengan muka polosnya.
"Asyik kenapa?",tanya Riyanti.
"Asyik,lah.Kan kalau nggak sekolah nggak usah pusing mikirin pe-er.Nggak usah mikirin Matematika dan Fisika yang tambah lama,tambah njlimet!"
"Din..Din..Kalau gitu nggak usah sekolah aja sekalian.Biar nggak usah ngerjain pe-er dan nggak ketemu sama Pak Irvan yang nyebelin!",celetuk Alfisa tiba-tiba.
"Hahahaha", kamipun tertawa bersama-sama.
"Oke.Siap,Bos!",kata Riyanti sambil memberi sikap hormat seperti yang dilakukan saat upacara.Gayanya bikin gemes banget.Segera kucubiti pipinya yang chubby itu.
Aku bahagia memiliki mereka.Walaupun aku tak punya orang tua dan pacar.Mereka telah membuatku bahagia.Mereka menggantikan posisi orangtuaku di hatiku.Sehingga dengan mereka.Aku tak pernah kesepian.
---
"Ras!"
Akupun menoleh ke arah suara yang memanggilku berasal.
"Sa..Satrio!Ngapain kamu di sini?"
Ternyata Satrio sudah berdiri di depanku.Dia memakai masker untuk menutupi wajahnya.Sepertinya dia sudah menungguku keluar rumah dari tadi.Tapi aku cuekin dia.Hahhh..Gara-gara dia aku kena skors.
"Laras!Lihat aku dulu", pintanya.
Akupun memalingkan wajahku kepadanya.Aku tak berani menatap wajahnya.Aku tak mau baper lagi.
"Ya,ada apa?"
"Maaf"
"Maaf untuk apa?"
"Aku dengar Ibuku sudah membuat kamu diskors"
__ADS_1
"Hahhhhh",aku menarik nafas panjang."Aku sudah muak dengan ini semua!Apa yang terjadi padaku bukan urusan kamu!"
Akupun berbalik badan dan meninggalkan Dia.Tapi kemudian tanganku ditariknya.
Dia menarik tanganku dengan keras hingga saat ini aku berada dalam pelukannya.
Dag!Dig!Dug!
Dag!Dig!Dug!
Jantungku berdetak dengan sangat cepat...
Kemudian Satrio mendekatkan kepalanya ke wajahku.Dan dengan perlahan-lahan dia menempelkan bibirnya yang indah itu ke atas permukaan bibirku.Bibirku seperti disedot-sedot.Dan sesekali dia menggigit-gigit kecil bibirku.Ciumannya untuk sementara membuatku terbuai.Aku seperti melayang di atas awan.
Tapi kemudian aku tersadar.Aku kan sudah punya pacar.Tiba-tiba aku merasa jijik dengan apa yang kulakukan.
Plakkkk!
"Kenapa?Kenapa?Aku rasa kamu menyukainya",kata Satrio sambil mengelus pipinya.
"Aku merasa jijik tau!"
"Kenapa?"
"Aku udah punya pacar,bangsat!Jangan muncul lagi di depanku!",kataku sambil berjalan menuju gerbang rumahku.
Sebelum aku berpaling,kulihat Satrio tersenyum.Entah apa yang dipikirkannya.
Hhhh..Dasar psikopat!
"Larasss!!!", teriaknya.
Akupun menoleh.
"Aku cinta kamuuu!"
Aku seakan-akan berhenti bernafas.Tubuhku mematung.
Salah satu sisi hatiku berkata:Ayo,Laras.Kapan lagi?Cowok setampan dia telah mengungkapkan perasaannya.Bukan cuma tampan.Dia itu juga seorang model,artis,kaya,dan anak pejabat.Sedangkan sisi hatiku yang lain bilang:Jangan,Ras.Kamu udah punya pacar.Kamu nggak mau kan dicap cewek yang nggak setia?
"Kamu mau nggak jadi pacarku?",tanyanya.
Aku bingung mau menjawab apa.Lidahku seolah-olah kelu.
"Ayo jawab,Ras!"
"Nggak!Aku nggak mau!Aku udah punya pacar!",teriakku seraya berlari menuju ke gerbang dan cepat-cepat menutupnya rapat-rapat.
Aku berdiri dibalik pintu.Nafasku masih tersengal-sengal.Jantungku juga masih dag-dig-dug.
"Ras!Aku cinta kamu!Dan aku tau kalau kamu cinta aku!",teriak Satrio dari balik pintu.
Kakiku lemas.Tubuhkupun perlahan-lahan turun kebawah hingga aku berada dalam posisi jongkok.Satrio masih teriak-teriak dari balik pintu gerbang rumahku.
Aku menutup telingaku.Air mataku mengalir.Aku merasa sudah mengkhianati cintanya Azril.Azril,maafkan aku...
__ADS_1