
Kecelakaan yang menimpa suaminya Rangga, membuat pria itu terluka parah. Sudah dua hari berlalu, tetapi Rangga belum juga sadarkan diri.
Selama dua hari Cinta tetap berada di rumah sakit, ditemani Mama Merlin dan Nick. Wanita itu selalu berjaga di depan ruang ICU. Tidak mau beranjak dari sana.
Dia akan masuk hanya saat Dokter mengizinkan saja. Seperti saat ini, Cinta sedang berada di dalam ruang ICU. Air mata tumpah membasahi pipinya.
"Mas Rangga, bangunlah!" ucap Cinta dengan air mata yang terus mengalir. Wanita itu menangis tersedu sambil terus memanggil nama Rangga, berharap suaminya itu segera sadar.
Dari kemarin, rasa kuatir dan cemas terus saja menghantui dirinya. Cinta takut terjadi sesuatu pada suaminya itu. Walau Rangga sering melakukan perbuatan kasar, tapi Cinta tidak pernah membenci pria itu, apa lagi berharap sesuatu buruk menimpanya.
Wajah tampan yang sangat dia kagumi itu, saat ini penuh luka. Kepalanya dibalut perban, begitu juga dengan kakinya.
"Mas Rangga, bangunlah! Bukankah kamu ingin kita memulai semua dari awal. Aku siap, Mas. Namun, kamu harus berjuang dengan penyakitmu ini. Buktikan pada aku dan calon bayi kita jika kamu ayah yang hebat. Kamu ingin melihat dia lahir'kan? Kamu harus semangat," ucap Cinta dengan air mata yang membasahi pipinya.
Cinta menggenggam tangan suaminya itu. Dengan derai air mata, dia mengecup tangan itu. Cukup lama Cinta menciumnya.
"Aku berharap ciumanku bisa menyembuhkanmu. Aku merindukanmu, sayang. Cepat sembuh ya. Sayang, semoga kamu lekas sehat. Aku berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhanmu sepanjang waktu. Semoga Tuhan angkat penyakitmu dan kamu bisa kembali menerangi hari-hariku," ucap Cinta lagi.
Setelah sepuluh menit, Cinta di minta keluar. Tadi dokter mengatakan jika masa kritis Rangga telah dilewati, hanya menunggu dia sadar saja.
Mama Merlin dan Nick mengajak Cinta ke kantin. Awalnya wanita itu menolak, tapi mama memaksanya.
Nick memesan banyak menu untuk Cinta. Sejak Rangga di rawat, makannya kurang teratur.
"Makanlah, Cinta! Ingatlah saat ini kamu sedang berbadan dua. Jangan egois. Kamu juga harus memikirkan anak dalam kandunganmu. Dari kemarin kamu belum makan. Apa dengan kamu mogok makan Rangga akan sadar? Justru dengan mogok makan kamu akan menambah satu penyakit lagi," ucap mama.
Cinta hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia makan sedikit demi sedikit. Baru beberapa suapan Cinta sudah menghentikan lagi suapannya.
"Ma, aku sudah kenyang." Cinta berucap sambil menunduk, menahan air matanya. Dia teringat Rangga yang belum juga sadar.
__ADS_1
"Jika Rangga sadar, kita bawa ke luar negeri untuk berobat. Tapi kamu juga harus jaga kesehatan agar bisa mendampinginya. Jadi kamu harus makan. Jika kamu sakit, siapa yang jaga Rangga!" ucap Nick dengan penuh penekanan.
Cinta memandangi Nick. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Tumpah membasahi pipinya.
"Bagaimana aku bisa makan, sedangkan Mas Rangga sudah dua hari tidak sadar dan tidak makan," ucap Cinta terbata karena menahan tangis.
"Apa kamu lupa ada bayi dalam kandunganmu? Jika terjadi apa-apa dengan bayi itu karena kamu yang tidak makan, bagaimana?" tanya Nick mulai terbawa emosi.
Mama Merlin menggelengkan kepalanya pada Nick, agar putranya itu jangan terlalu keras bicara dengan Cinta. Dia bisa mengerti apa yang Cinta rasakan saat ini. Wanita itu memeluk Cinta, mencoba memberikan kekuatan.
"Ma, Mas Rangga dan bayiku tidak apa-apa'kan?" tanya Cinta sambil memegang perutnya. Dia jadi takut terjadi sesuatu dengan bayinya.
"Abang kamu benar, Sayang. Kamu harus jaga kesehatan. Bagaimana kamu bisa jaga Rangga, jika kesehatan kamu tidak baik nantinya."
Cinta memeluk erat Mama Merlin. Beruntung saat ini dia memiliki wanita itu sebagai tempat dia mengadu dan bersandar. Dia menarik piring nasi tadi. Berusaha makan lagi. Namun, beberapa suapan, kembali dihentikan.
"Ma, sudah. Aku takut muntah jika dipaksakan," ucap Cinta.
"Mama dan Abang pulang saja. Istirahat dulu di rumah. Aku bisa sendiri di sini. Nanti Mama sakit," ucap Cinta. Dia kasihan melihat wanita itu yang ikutan begadang menunggu kesadaran Rangga.
"Mama temani kamu saja," jawab Mama.
"Bang, bawa mama pulang. Kasihan kalau mama ikutan begadang lagi. Aku takut mama sakit," pinta Cinta pada pria itu.
Nick lalu mendekati mamanya. Apa yang Cinta katakan itu ada benarnya. Mama Merlin bisa sakit jika ikutan begadang terus.
"Ma, aku antar mama pulang. Biar Cinta yang menemani aku saja. Mama istirahat dulu," ucap Nick.
"Rumah kita jauh. Satu jam perjalanan. Jika Mama mau menemani Cinta, perjalanannya jauh," jawab Mama.
__ADS_1
Nick berpikir jalan terbaik untuk semuanya. Akhirnya dia tersenyum. Mungkin telah mendapatkan jawaban.
"Mama menginap di hotel seberang rumah sakit ini saja. Jika mama telah istirahat, tinggal telepon. Aku akan jemput, kapanpun itu," ucap Nick akhirnya.
Mama akhirnya setuju dengan ide Nick. Wanita itu mungkin juga capek, setelah dari luar kota langsung ke rumah sakit menemani Cinta.
"Abang antar mama dulu. Jika ada apa-apa, cepat hubungi!" ucap Nick.
"Iya, Bang." Cinta menjawab singkat.
"Cinta, percayalah cintamu akan membawa Rangga kembali. Dia tidak akan pergi karena tahu ada dua orang yang sangat menanti kehadirannya, kamu dan bayi kalian. Berdoalah terus. kekuatan cintamu akan membuat dia sadar," ucap Mama.
Cinta kembali menangis. Matanya bengkak dan merah. Dua hari air matanya terus saja tumpah.
"Mama, aku minta doakan semua baik-baik saja. Aku mau Mas Rangga sadar," ucap Cinta.
"Pasti. Mama yakin dia akan sadar. Mama pamit. Jika butuh mama, jangan sungkan menghubungi. Itulah gunanya keluarga, sebagai penguat saat kita butuh sandaran."
Cinta menganggukan kepala tanda setuju. Mama mengecup kedua pipi Cinta dan menghapus air matanya. Jika saja badannya tidak terasa pegal banget, dia pasti akan tetap menemani Cinta.
Mama dan Nick meninggalkan Cinta seorang diri. Mama meminta Nick mampir ke butik terlebih dahulu. Membeli pakaian untuknya dan Cinta. Jika mengambil baju ke rumah, terlalu jauh.
Satu jam setelah Mama Merlin dan Nick pergi, dokter meminta Cinta masuk. Dokter itu mengatakan ada perkembangan baik bagi Rangga. Cinta merasa sangat bahagia.
Dia masuk ke ruang ICU, duduk di samping ranjang suaminya. Cinta menggenggam tangan Rangga dan mengecupnya.
"Mas Rangga, ini aku datang lagi. Aku akan menunggu kamu, sampai kamu membuka mata. Aku bersedia kembali denganmu dan membuka lembaran baru," ucap Cinta.
Tangan Rangga perlahan bergerak. Cinta terkejut melihat itu. Dia merasa semua bagai mimpi.
__ADS_1
"Mas Rangga, kamu sadar ...," ucap Cinta bahagia.
...----------------...