CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Bab 54. Lamaran


__ADS_3

Hari itu cuaca sedang cerah, matahari bersinar terang dan angin sepoi-sepoi menerpa pepohonan di pinggiran jalan. Nick sedang menuju ke rumah orang tua Triana untuk melamar dan meminang dia ditemani Rangga dan Cinta. Nick sudah merencanakan semuanya dengan matang dan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan lancar.


Nick Sudah mempersiapkan segala sesuatunya selama beberapa minggu di kota. Dia menghabiskan waktu untuk merencanakan setiap detail rencana pernikahannya dengan seksama. Setelah semua rincian diatur dan disetujui oleh Triana, Nick memutuskan untuk melakukan langkah-langkah penting ini yang dimulai dengan lamaran.


Ketika Nick mencapai pintu, dia mengetuk dengan hati-hati. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu merasa sedikit tegang, dan dia merasakan detak jantungnya semakin cepat. Nick terasa canggung dan gugup. Apa lagi orang tua Triana terkenal cerewet dan agak sulit diatur.


Cinta dan Rangga menahan tawa melihat seorang Nick bisa juga gugup. Padahal sudah sering menghadapi rekan bisnis.


Akan tetapi semua kegelisahan Nick segera mereda begitu pintu terbuka. Triana tersenyum manis dan memberi salam ke Nick. "Selamat datang, BangNick, Mama, Mas Rangga, Cinta dan si comel," katanya dengan suara lembut. "Ayahku sudah menunggu di dalam. Silakan masuk, Ma."


Nick memasuki ruang tamu dan duduk di kursi yang telah disediakan oleh orang tua Triana. Dia melihat sekitar dan merasa terkesan dengan dekorasi rumah yang sangat indah. Rumah sederhana, tapi terlihat nyaman.

__ADS_1


Nick merasa senang, namun tetap gugup, karena dia tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat penting untuk hubungan dia dan Triana.


Segera setelah itu, orang tua Triana muncul dan memberi salam pada Mama, Nick serta Rangga dan Cinta, yang sedang duduk. "Selamat datang, semuanya," kata ayah Triana sambil tersenyum. "Kamu tampak sangat rapi dan tentu sangat sopan datang ke sini untuk melamar anak saya. Apa yang bisa saya bantu hari ini?"


Nick sempat terkesima, tetapi dia berusaha untuk mengumpulkan keberanian dan memulai pembicaraan. "Terima kasih, Pak," katanya. "Saya sangat senang berada di sini dan meluangkan waktu untuk berbicara mengenai niat saya kepada Triana."


Ayah Triana mengangguk. "Baiklah, Nick. Mari kita mulai."


Setelah Nick mengatakan bagaimana rencana pernikahannya, semua orang di ruangan itu merasa terharu dan terkesima, orang tua Triana bahkan menitikkan air mata kebahagiaan. Tidak menyangka akan memiliki menantu seperti Nick.


Ayah Triana akhirnya berkata. "Saya pikir rencana pernikahan kamu luar biasa dan saya percaya bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk Triana. Namun, kamu harus memastikan bahwa kamu akan memperlakukan anak saya dengan baik dan mencintainya selamanya. Aku takut perbedaan antara kita akan membuat kamu suatu saat berubah pikiran."

__ADS_1


Nick segera menanggapi. "Tentu saja, Pak. Saya akan menghormatinya, mencintainya sepanjang hidup saya dan berjanji untuk merawat dia dengan baik. Saya bukan orang yang memandang harta, karena bagi saya uang dan harta itu memang tugas suami yang mencari. Saya janji akan hidup hingga tua bersama Triana."


Mendengar janji Nick, orang tua Triana merasa sangat terkesan dan merasa sangat senang menerima Nick sebagai calon menantunya. Mereka ingin memastikan bahwa kebahagiaan anak mereka adalah yang utama.


Triana sangat bahagia mendengar semua rencana pernikahan yang telah Nick rancang dan terharu dengan respons yang diberikan ayahnya. Dia tahu bahwa dirinya ingin menikah dengan Nick dan membentuk suatu keluarga bersamanya.


Akhirnya, suasana hati Nick menjadi lebih lega dan dia merasa senang ketika Triana menggenggam tangannya dengan penuh cinta dan berkata, "Aku menerimamu sebagai calon suamiku, Bang Nick, ini adalah momen terindah dalam hidupku."


Nick merasa penuh kebahagiaan dan bersyukur karena berhasil melamar Triana dengan baik dan diterima dengan senang hati oleh keluarganya. Dia siap memulai masa depan mereka yang bahagia dan penuh kejutan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2