CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Bab 25. Nickholas


__ADS_3

Setelah mandi Cinta mencoba merebahkan dirinya. Rasa penat membuat dia terlelap. Sebelum tidur, Cinta mematikan lampu, dia memang biasa tidur dalam kegelapan.


Jam tiga dini hari, Cinta terbangun saat merasakan ada seseorang yang naik ke ranjang dan menghempaskan tubuhnya. Cinta menghidupkan lampu yang tombolnya ada di samping ranjang. Wanita itu kaget saat melihat ada pria lain di samping dirinya.


"Kamu siapa ...?" tanya Cinta kaget.


Pria itu juga kaget saat melihat Cinta. Dia langsung bangun dan memandangi wajah Cinta dengan intens.


"Seharusnya aku yang bertanya, kamu siapa?" tanya pria itu.


Pria itu berdiri dan kembali menatap Cinta dengan pandangan yang tidak suka. Dia menarik napas dalam.


"Baju siapa kamu pakai? Siapa yang mengizinkan kamu tidur di kamar ini?" tanya pria itu dengan suara lantang.


Dia mendekati Cinta dan menarik tangannya untuk keluar dari kamar. Pria itu berkacak pinggang menatap tajam ke arah Cinta.


"Jangan pernah masuk kamar ini tanpa izin. Dan segera ganti baju itu!" ucap pria itu dengan suara lantang.


Ibu yang mendengar suara ribut, keluar dari kamarnya. Dia mendekati Cinta dan pria itu.


"Ada apa, Nick? Kenapa ribut malam-malam begini?" tanya Ibu itu.


"Siapa wanita ini, Ma? Kenapa dia ada di kamar Rachel dan memakai bajunya?" tanya Nick dengan suara tinggi.


"Mama yang izinkan. Kenapa ...?" tanya Mama Nick.


"Ma, itu kamar Rachel. Kenapa mama mengizinkan orang yang tidak dikenal tidur di kamar itu dan memakai bajunya. Aku tidak suka!" ucap Nick masih dengan suara tinggi.


Mama Nick lalu mendekati Cinta dan menepuk lengannya pelan.


"Kamu masuklah lagi, istirahat. Biar Nick nanti Ibu yang beri penjelasan," ucap mama Nick.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Aku sudah membuat keributan dan mengganggu tidur Ibu," ucap Cinta dengan perasaan sangat bersalah.


"Bukan salah kamu juga." Mama Nick kembali meminta Cinta masuk ke kamar. Nick melihat itu dengan wajah masam. Dia tidak bisa melarang karena ibunya yang meminta.


Mama mengajak Nick ke kamarnya. Saat telah di kamar, mama lalu mengatakan awal bertemu dengan Cinta.


"Mama teringat Rachel. Pasti saat dia sendirian di jalan, kebingungan juga seperti Cinta. Mama tidak mau ada korban lain. Cukup Rachel, jangan ada Rachel-Rachel berikutnya!" ucap Mama dengan penuh penekanan. Teringat dengan putrinya yang telah tiada.


Nick memeluk mamanya erat. Telah setahun sejak meninggalnya Rachel, Mama belum bisa melupakan kejadian malam itu. Air mata mama Nick mulai jatuh membasahi pipinya.


***


Di tempat lain, Rangga baru saja sampai di rumahnya. Dia telah menghubungi bawahannya untuk mencari keberadaan Cinta. Namun, belum ada berita di mana istrinya itu berada.


Rangga mengambil vas bunga dan melemparnya ke dinding, hingga hancur berserakan di lantai. Dia tidak percaya jika istrinya bisa dan berani melakukan kekerasan juga.


Pria itu masuk ke kamar. Matanya sudah mengantuk, karena jam telah menunjukkan pukul empat subuh. Baru saja membaringkan tubuh, dia telah terlelap.


Rangga melihat meja yang masih kosong. Dia lalu mencari keberadaan Cinta. Berteriak memanggil nama istrinya.


"Kemana wanita itu? Kenapa belum ada sarapan, padahal sudah jam sebelas siang, justru seharusnya sudah memasuki jam makan siang!" ucap Rangga.


Dia menuju kamar tamu yang biasa Cinta tempati. Membuka pintu dan mencari keberadaan istrinya. Saat melihat tidak ada siapa-siapa, Rangga makin tampak emosi.


Rangga berjalan kembali menuju dapur, tapi kembali tidak dapat menemukan keberadaan istrinya. Tiba-tiba dia tersadar dan menepuk dahinya.


"Bukankah Cinta kabur? Kemana wanita itu pergi?" tanya Rangga pada dirinya sendiri.


Mata Rangga melihat ke arah pintu gudang yang sedikit terbuka, lalu dia masuk. Pria itu menghidupkan lampu. Melihat gudang yang sangat berantakan.


Rangga masuk dan matanya tertuju ke lemari pakaian. Itu lemari berisi semua kenangannya dan foto-foto Rafael. Telah lama dia ingin memeriksa semua itu, tapi waktu yang ada.

__ADS_1


Hal pertama yang Rangga lakukan adalah membuka lemari. Banyak foto Rafael di dalamnya. Pria itu lalu mencoba membuka laci dalam lemari. Ada sebuah buku diary di dalamnya.


Rangga membuka satu persatu. Rafael memang suka menulis di diary. Orangnya sedikit tertutup. Rangga kembali melihat foto Rafael dan Cinta. Dia menjadi geram melihat itu. Ingat dengan kertas yang dia dapat di samping mayat Rafael.


Kertas itu ada tulisan, "Aku sangat mencintai kamu, Sayang. Jangan tinggalkan aku!" Itu tulisan yang Rangga baca. Dalam buku diary itu terdapat Rafael berdua Cinta, sehingga Rangga berkesimpulan jika Cinta telah meninggalkan Rafael sehingga adiknya memilih bunuh diri. Rangga meremas foto adiknya berdua cinta.


Rangga kembali membuka lembaran berikutnya. Dia melihat ada tulisan, "Aku sangat mencintaimu, Rachel. Jangan tinggalkan aku!"


Pria itu mengerutkan dahinya, siapa wanita yang bernama Rachel? Rangga membuka lembaran berikutnya. Banyak ungkapan cinta dan puisi buat Rachel.


"Siapa sebenarnya yang Rafael cintai? Cinta apa Rachel? Apa benar selama ini aku salah dalam menilai dan membalas dendam? Tidak, pasti Cinta lah penyebab Rafael bunuh diri." Rangga berucap dengan dirinya sendiri.


Rasa penasaran Rangga makin membuatnya gelisah dan ingin tahu kebenarannya. Dia lalu menghubungi bawahannya untuk menyelidiki siapa Rachel? Anak siapa itu? Di mana Rafael mengenalnya?


Setelah menghubungi bawahannya, Rangga memesan makanan online. Dia masuk kembali ke gudang untuk mencari jejak wanita yang bernama Rachel. Siapa tahu tersimpan foto Rachel atau petunjuk, siapa wanita itu.


Di tempat lain, Cinta yang telah mandi, menuju lantai bawah. Ternyata di kursi makan telah duduk Mamanya dan Nick. Cinta memberikan senyumnya pada mama dan Nick, tapi pria itu hanya diam tidak membalasnya. Dia tampak masih kesal dengan keputusan mama yang mengizinkan Cinta tidur di kamar adiknya.


"Sini duduk dekat mama, Cinta," ucap Mamanya Nick. Kembali Cinta memberikan senyumanannya.


"Sarapan dulu. Kasihan anak dalam kandunganmu kalau ibunya telat makan."


"Ibu tidak ikut makan?" tanya Cinta.


"Panggil saja mama, jangan Ibu. Seperti Nick memanggil!" ucap Mama Nick.


Mama mengambilkan nasi dan lauknya juga. Menyodorkan piring itu kehadapan Cinta. Dengan penuh kasih sayang, Mama Nick mengusap punggung Cinta. Dia terua teringat dengan anak gadisnya yang telah meninggal.


"Aku benar-benar tidak pernah belajar apa kata-kata 'Aku merindukanmu' sampai aku meraih tangan anakku dan itu tidak ada. Sedihnya, perpisahan yang paling menyakitkan adalah perpisahan yang tidak terucapkan dan tidak pernah dijelaskan."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2