
Rangga berjalan masuk dengan langkah pasti. Dia menarik napas beberapa kali. Tidak ingin terbawa emosi. Pria itu harus menahan amarahnya untuk mengorek keterangan dari Arimbi.
Dari kejauhan Rangga telah melihat kehadiran Arimbi. Wanita itu tampak tersenyum semringah. Rangga membalas dengan terpaksa.
Dia mengecup pipi Arimbi seperti biasa saat mereka bertemu agar tidak ada kecurigaan di hati wanita itu. Walau sebenarnya hati Rangga membenci.
"Apa kabar, Sayang? Aku senang kamu tidak berubah, masih seperti Ranggaku," ucap Arimbi.
Rangga hanya tersenyum menanggapi ucapan Arimbi. Tangannya terus terkepal menahan emosi. Dia tidak ingin semua rencananya jadi berantakan.
"Apa kabar kamu, Arimbi?" tanya Rangga. Tidak tahu harus mengucapkan apa sebelum dia mulai menyelidiki semuanya.
"Aku merasa hidupku hampa sejak kamu memutuskan hubungan kita. Kamu tahu'kan Rangga, di hati ini hanya ada kamu. Hubungan kita telah terjalin empat tahun, itu bukan waktu yang pendek. Semua hati dan hidupku telah untukmu, tidak ada yang lain." Arimbi bicara dengan suara sendu agar Rangga percaya.
Kembali Rangga hanya tersenyum menanggapi ucapan Arimbi. Dalam hatinya jijik mendengar kata-kata wanita itu. Pria itu mengambil menu dan memesan makanan untuk mereka.
Sambil menunggu menu di sajikan, Rangga menarik napas lagi. Dia tidak tahu harus memulai dari mana ucapannya.
"Arimbi, aku ingat dulu kamu cukup dekat dengan adikku Rafael ...." Rangga lalu menghentikan ucapannya. Arimbi memandangi Rangga dengan mata bertanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tiba-tiba ingat Rafael?" tanya Arimbi. Dia tampak memainkan jarinya karena gugup.
"Aku kemarin ke apartemen Rafael. Tiba-tiba rindu dengannya. Aku masih bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat Rafael mengakhiri hidupnya. Mungkin denganmu dia pernah terbuka!" ujar Rangga.
Arimbi terdiam. Tampak sekali dia mencoba menghilangkan rasa gugup dengan menarik napas beberapa kali dan memainkan ponselnya.
"Kamu tahu'kan, jika Rafael orangnya sangat tertutup. Dia jarang bicara masalah pribadinya. Lagi pula aku tidak terlalu dekat. Aku jalan dengannya ketika ada kamu juga. Kami tidak sedekat yang kamu pikirkan."
Rangga mengerutkan dahinya, memandangi Arimbi. Masih saja wanita itu mengelak kedekatannya. Rangga mengutuk kebodohan dirinya selama ini, begitu percaya dengan mulut manis wanita itu.
Rangga tiba-tiba tertawa. Mungkin menertawakan kebodohannya sendiri. Arimbi melihat semua itu dengan tanda tanya. Kenapa pria itu tiba-tiba tertawa, pikir Arimbi dalam hatinya.
Arimbi terkejut mendengar ucapan Rangga. Dia mengubah duduknya. Tampak sekali kegelisahan. Menu makanan dan minuman yang dipesan datang. Arimbi langsung mengambil air dan meneguknya hingga tinggal setengah gelas. Tenggorokannya terasa kering. Dia tidak menyangka jika Rangga bicara tentang pengkhianatan. Dia pikir akan bicara tentang hubungan mereka.
"Maksudnya ...?" tanya Arimbi dengan suara sedikit gemetar.
Rangga kembali tertawa. Dia merasa lucu, selama ini telah dipermainkan oleh Arimbi. Karena memang dirinya yang bodoh atau Arimbi yang terlalu cerdik dan pintar. Dua bersaudara langsung dikencani. Pantas saja wanita itu dan adiknya tampak sangat akrab.
"Cukup sudah selama ini kamu membohongi dan membodohi aku, Arimbi. Aku mengaku kalah. Selama ini terperdaya dengan mulut manismu."
__ADS_1
Rangga menjeda ucapannya. Dia mau marah dengan Rafael, tidak mungkin. Yang ada rasa kecewa karena adik yang begitu dia sayangi tega mengkhianati dirinya. Rangga lalu mengambil foto Arimbi dan Rangga yang sedang berpelukan di atas ranjang. Kembali pria itu menarik napasnya. Tidak percaya jika adiknya Rafael bisa berhubungan hingga sejauh itu dengan Arimbi.
Rangga saja yang hampir empat tahun lamanya menjalin hubungan dengan Arimbi tidak pernah sekalipun seintim itu dengan wanitanya. Dia selalu memegang prinsip, tidak akan menyentuh jika belum menikah resmi.
Foto itu Rangga sodorkan kehadapan Arimbi. Wajah wanita itu langsung berubah melihatnya. Itu foto dia ambil sesaat setelah berhubungan badan dengan Rafael. Arimbi tidak tahu jika Rafael mencetaknya. Tangannya gemetar memegang foto itu.
"Ini pasti editan. Ada orang yang ingin memfitnahku agar kamu membenciku. Siapa yang tega melakukan ini?" Arimbi mencoba mengeluarkan air matanya agar Rangga percaya.
"Apa kamu kira masih bisa membodohiku? Arimbi, aku menyesal pernah kenal dan berhubungan denganmu. Kau lebih hina dari seorang pel*cur. Kau sengaja menjaja tubuhmu hanya untuk kesenangan semata. Aku bersumpah, kau akan menerima karmamu!" ucap Rangga dengan suara tegas dan lantang.
Dia mengambil air minum dan menyiram ke wajah Arimbi. Wanita itu hanya diam diperlakukan begitu. Air mata palsunya mulai jatuh membasahi pipi.
"Maafkan aku, Rangga. Semua itu terpaksa aku lakukan. Rafael memaksaku. Aku tidak bisa menolak, dia menjebakku. Percayalah, Rangga. Aku hanya mencintai kamu!" ucap Arimbi.
Dia berdiri dan berlutut dihadapan Rangga. Pria itu berdiri dan mendorong tubuh Arimbi hingga tersungkur.
"Aku tidak akan pernah percaya lagi dengan apa yang kau ucapkan! Tunggu saja pembalasan dariku!" ucap Rangga.
Rangga berjalan meninggalkan Arimbi seorang diri. Dia tidak mau terbawa emosi yang akan merugikan dirinya sendiri. Rangga berjanji akan memohon maaf pada Cinta karena kesalahannya yang telah membalas dendam atas apa yang tidak pernah wanita itu lakukan. Rangga akan melakukan apa saja untuk mendapatkan maaf dari istrinya itu.
__ADS_1
...----------------...