
Suatu pagi yang cerah, ketika Matahari baru saja terbit, Cinta membuka tirai jendela kamarnya dan tersenyum melihat suaminya, Rangga, sedang berlatih berjalan di halaman belakang rumah mereka. Rangga memang harus menerima kenyataan jika dirinya cacat karena kecelakaan yang dialaminya. Namun, berkat terapi yang dilakukan selama empat bulan terakhir, Rangga akhirnya berhasil berjalan kembali. Walau belum sempurna, tapi sudah jauh lebih baik.
Cinta berjalan menuju dapurnya dan memasak sarapan untuk Rangga. Saat pria itu masuk ke ruang makan, wajahnya terlihat cerah dan bahagia. Wanita itu merasa senang melihat kondisi suaminya yang semakin membaik setiap harinya.
"Bagaimana perasaanmu hari ini, Mas?" tanya Cinta sambil menyerahkan secangkir kopi panas pada pria itu.
"Sehebat apapun terapi yang aku jalani, tidak sebaik perasaanku hari ini. Sudah lama aku tidak merasakan kebahagiaan seperti ini sejak aku kehilangan kemampuan berjalan," jawab Rangga sambil tersenyum lebar.
Cinta dan Rangga kemudian menghabiskan waktu bersama dan berbincang-bincang tentang masa depan yang lebih baik. Rangga bercita-cita untuk membuka usaha buat Cinta setelah nanti wanita itu melahirkan. Membuka butik agar wanita itu tidak bosan di rumah. Cinta hanya mendukung keputusan suaminya dan berjanji akan selalu melindungi dan mendukung apapun yang dicita-citakan Rangga.
__ADS_1
"Nanti saat kamu akan lahiran, kamu bisa minta bantuan teman kamu yang di kampung itu untuk menemani di sini," ucap Rangga.
"Triana, maksud Mas?" tanya Cinta.
"Iya, dia bisa bantu kamu dan menemani kamu. Biar kamu tidak kesepian. Seminggu lagi, aku akan kembali bekerja. Telah lama aku meninggalkan pekerjaan kantor. Hampir empat bulan," ucap Rangga.
Cinta langsung memeluk suaminya. Dia senang jika sahabatnya itu diizinkan tinggal bersama. Telah lama Triana menanyakan pekerjaan di kota, dia hanya tamatan SD.
Rangga saat ini telah semakin lama semakin lancar dalam berjalan. Bahkan, beberapa hari yang lalu, dia berhasil mengambilkan air minum untuk Cinta sendiri tanpa bantuan siapapun. Wanita itu merasa bangga dengan perkembangan suaminya yang selalu berusaha keras untuk memulihkan dirinya.
__ADS_1
Saat ini Triana telah tinggal bersama mereka, sehingga dia bisa menemani kemanapun Cinta pergi. Itu membuat Rangga merasa lebih aman. Walau Arimbi telah mendekam dalam penjara, tapi pria itu masih takut jika Cinta bepergian apa lagi saat ini istrinya telah hamil tujuh bulan.
Suatu sore, Cinta mendatangi kantor dokter spesialis yang menangani terapi Rangga untuk menjemput hasil terapi terakhir suaminya. Dokter tersebut memberikan kabar baik bahwa Rangga sudah dapat mengendalikan keseimbangan tubuhnya dengan lebih baik dan dapat berjalan dengan lancar.
Cinta merasa sangat senang mendengar kabar tersebut dan segera pulang untuk memberitahu suaminya. Rangga terlihat sangat senang dan bersyukur atas hasil yang didapatnya. Dia berjanji akan selalu berusaha agar dapat berjalan dengan lancar dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
"Mungkin aku tidak dapat berlari seperti sebelumnya, namun aku percaya bahwa dengan kerja keras dan tekad, aku dapat mencapai apa saja yang aku inginkan. Terimakasih, Cinta, karena selalu mendukung dan memotivasi aku selama ini," ucap Rangga sambil menggenggam tangan istrinya dengan penuh cinta.
Cinta tersenyum bahagia dan membalas genggaman tangan suaminya. Mereka kemudian berpelukan satu sama lain, merasakan kebahagiaan yang tak tertandingi. Meski Suaminya cacat, Cinta selalu merasa sangat bersyukur memiliki suami yang selalu berusaha keras untuk menjadi lebih baik dan memiliki semangat yang tinggi.
__ADS_1
Akhirnya, mereka bersama-sama akan melangkah menuju masa depan yang lebih baik dan penuh kebahagiaan. Kecacatan Rangga tidak ada artinya jika dibandingkan dengan semangat dan kebersamaan mereka yang tercermin dalam cinta yang tulus dan abadi. Apa lagi saat ini mereka sedang menantikan kehadiran buah hati.
...----------------...