
Cinta duduk menonton di ruang keluarga sambil menunggu kedatangan Rangga. Entah mengapa hatinya merasa berdebar. Padahal ini bukan pertama kalinya dia bertemu lagi dengan suaminya setelah berpisah kemarin.
Setengah jam menunggu, akhirnya Rangga datang. Pria itu tersenyum melihat istrinya yang telah menunggu dengan cantik.
"Maaf, aku datang telat," ucap Rangga dan mengecup pipinya dengan lembut.
Cinta membalas dengan menyalami dan mengecup tangan pria yang masih sah berstatus sebagai suaminya.
"Kita pergi sekarang ...?" tanya Rangga.
"Boleh, Mas. Atau Mas Rangga mau sarapan dulu. Aku tadi membuat sarapan mie goreng seafood," ucap Cinta.
"Aku sudah sarapan. Boleh di bawa untuk seseorang saja?" tanya Rangga.
"Boleh, kebetulan tadi aku masak banyak, Mas. Tapi ini untuk siapa?" tanya Cinta.
"Nanti kamu akan tahu juga. Dia wanita pertama yang aku cintai. Aku ingin mengenalkan kamu dengannya," ujar Rangga.
Cinta terdiam mendengar jawaban dari suaminya itu. Dia tidak tahu kenapa jantungnya berdebar dan perasaan berbeda saat ini dia rasakan ketika mendengar suaminya mengatakan akan mengenalkan pada wanita pertama yang dia cintai.
Cinta mengambil kotak makanan dan mengisi dengan mie goreng beserta pelengkapnya. Di tambah dengan buah-buahan. Rangga memperhatikan semua dengan tersenyum semringah.
Setelah semua siap, Rangga mengajak Cinta segera pergi. Tadi saat Rangga akan pamit pada Nick, istrinya mengatakan jika pria itu telah pergi.
Rangga menghentikan mobilnya di halaman parkir sebuah rumah sakit jiwa. Dalam hati Cinta bertanya, kenapa mereka berhenti disini. Rangga yang melihat kebingungan di wajah Cinta, mengusapnya.
"Jangan bingung, aku akan mengajak kamu kenalan dengan wanita pertama yang aku cintai. Dia saat ini sedang di rawat di sini," ucap Rangga.
__ADS_1
Cinta tanpa bertanya mengikuti langkah Rangga. Setelah meminta izin pada petugas, Rengga mengajak Cinta masuk ke salah satu ruangan. Tampak seorang wanita paruh baya duduk termenung dengan mata menerawang entah kemana.
Rangga menggenggam tangan Cinta untuk mendekati wanita paruh baya itu. Dia tersenyum melihat kedatangan Rangga.
"Rafael ...!" panggil ibu itu.
Rangga tersenyum mendengar ibu itu memanggil nama adiknya. Di dalam pikiran wanita itu hanya ada nama Rafael.
Terkadang Rangga merasakan kesedihan yang teramat sangat, di saat ibunya masih waras dan sehat perhatian wanita itu tercurah buat adiknya. Bahkan hingga dia lupa ingatan, nama Rafael juga yang dia sebut.
Rasanya tidak adil, karena dia juga putra wanita itu. Tetapi kenapa hanya Rafael yang selalu di sebut dan diingat namanya. Apakah tidak ada cinta di hati kedua orang tua itu untuk dirinya?
Ayah yang juga sangat mencintai Rafael, sehingga menjadi syok dan jantungan saat mendengar anak yang mereka sayangi mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Saat mereka berkumpul, seluruh perhatian hanya untuk Rafael.
"Ibu, kenalkan ini istriku, Cinta!" ucap Rangga memperkenalkan Cinta.
Mendengar ucapan Rangga yang memanggil wanita itu dengan sebutan Ibu, Cinta menyimpulkan jika wanita dihadapannya saat ini adalah orang tua Rangga. Itu berarti mertuanya dan nenek dari anaknya.
Setelah menyuapi mie goreng, Rangga memberi jus jeruk yang dibuatkan Cinta. Awalnya Cinta akan memberi buah saja, tapi Rangga meminta dibuatkan jus.
Setelah jus dan mie goreng ludes di santap, Rangga pamit kembali pulang, begitu juga Cinta. Wanita itu tidak banyak bicara. Hanya berpikir saja dari apa yang dilihat dan di dengar.
Rangga mengajak Cinta makan siang di sebuah restoran. Dia memesan banyak makanan kesukaan Cinta. Dia menerka itu makanan kesukaan istrinya dari seringnya wanita itu masak menu tersebut.
"Cinta, bukannya aku ingin membela diri. Inilah alasan kenapa aku begitu membenci kamu kemarin, karena mengira kamu penyebab kematian Rafael. Kamu bisa lihat sendiri'kan akibat dari Rafael bunuh diri, aku juga kehilangan kedua orang tuaku. Ayah meninggal karena serangan jantung. Saat Rafael dikuburkan, dia juga bertarung nyawa di ruang ICU," ucap Rangga.
Rangga menjeda ucapannya. Menarik napas dalam. Teringat begitu banyak cobaan yang harus dia jalani.
__ADS_1
"Setelah tiga hari Rafael dikuburkan, ayah menyusul. Belum kering air mata aku dan ibu karena menangisi meninggalnya Rafael, kembali kami harus bersedih karena kepergian ibu."
Rangga ingat sekali. Saat itu dia bersumpah akan membuat hancur hidup orang yang menyebabkan adiknya meninggal.
"Aku pikir penderitaan aku akan berakhir, setelah ayah meninggal, tapi ternyata tidak. Tuhan masih mengujiku. Satu bulan sejak Rafael dan ayah meninggal, tingkah ibu mulai tampak aneh. Hingga akhirnya ibu dinyatakan stres dan harus di rawat."
Cinta tampak sangat sedih mendengar cerita suaminya itu. Dia mulai mengerti kenapa Rangga dulu sangat membencinya, karena mengira dia penyebab semua ini.
Cinta meraih tangan Rangga yang berada di atas meja dan menggenggamnya. Mencoba mengerti perasaan suaminya itu. Pasti sangat berat bagi Rangga harus menerima semua musibah secara beruntun.
"Maafkan aku, Mas!" ucap Cinta. Seharusnya dia juga mencari tahu penyebab Rangga begitu membencinya.
"Kenapa kamu minta maaf, Cinta? Kamu tidak bersalah. Aku yang bersalah karena membalas dendam pada orang yang tidak tepat. Aku seharusnya bisa ikhlas menerima semua takdir hidupku. Cinta, kamu tahu kenapa tadi aku mengajak kamu melihat ibuku?" tanya Rangga dengan suara pelan.
Cinta hanya menjawab dengan geelengan kepalanya. Dia memang tidak paham apa maksud Rangga membawanya ke rumah sakit jiwa tadi.
"Aku sengaja mengenalkan kamu dengan ibuku, untuk menitipkan dia. Jika suatu saat aku juga pergi meninggalkan dunia ini lebih dulu dari ibuku, aku mohon kamu mau menjenguknya sesekali," ujar Rangga.
"Mas Rangga ngomong apa ...?" Cinta tampak kurang suka dengan ucapannya suaminya itu.
Rangga tersenyum simpul. Saat ibunya baru masuk rumah sakit jiwa, pria itu sempat juga ingin mengakhiri hidup. Terlalu tertekan dengan musibah yang datang silih berganti dan bertubi-tubi.
"Cinta, jika aku boleh meminta, aku akan meminta panjang umur agar aku bisa melihat anak kita tumbuh dewasa dan kita hidup menua bersama. Namun, umur tidak ada yang bisa mengetahuinya, bukan?" tanya Rangga dengan suara sendu.
"Tapi Mas jangan berpikir kematian dulu."
Rangga mencoba tersenyum lagi walaupun terlihat getir. Dia tidak tahu kenapa hari ini perasaannya terasa sangat sedih.
__ADS_1
"Cinta, apakah kamu telah memaafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu. Sungguh, semua yang aku lakukan itu karena rasa sayangku pada Rafael dan rasa dendamku pada orang yang menyebabkan kematiannya. Sekali lagi, aku mohon maaf atas luka dan sakit hati yang aku torehkan padamu!" ucap Rangga.
...----------------...