CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Bab 37. Arimbi Mabuk


__ADS_3

Setelah satu minggu, kembali Nick mengundang Arimbi buat makan malam di salah satu apartemen miliknya. Dia ingin menjebak wanita itu.


Senja telah datang, dan langit mulai berubah menjadi orange cerah. Meja makan sudah siap, dengan lilin di tengah-tengah dan bunga segar di sudut meja. Nick menunggu dengan gelisah untuk kedatangan Arimbi. Dia memeriksa ponsel lebih dari seratus kali hanya untuk memastikan bahwa wanita itu belum membatalkan pertemuan mereka.


Tiba-tiba, bel pintu berbunyi, dan hati Nick berdetak dengan cepat. Dia membuka pintu dan di depanku terlihat wanita yang dia tunggu, Arimbi, dengan senyum manisnya. Dia mengenakan baju hitam yang elegan dan rambutnya terikat rapi di belakang.


"Aku sangat senang melihatmu," ujar Arimbi dan sambil memeluk Nick. "Kau terlihat sangat tampan hari ini."


"Terima kasih," jawab Nick dengan tersenyum bahagia.


Mereka duduk di sekitar meja makan, dan Nick membuka botol anggur merah yang sudah dia siapkan. Arimbi tampak senang dengan pelayanan yang kuberikan padanya dan mengevaluasi makanan yang kubuat.


"Hari ini kau begitu terampil, kau membuat hidangan yang enak sekali," ucap Arimbi dengan senyum. "Kau memang hebat." Arimbi memuji kembali.


Nick tersenyum, tetapi jujur dia sebenarnya merasa benci dengan semua ini. Dia merasakan kebencian pada Arimbi, tapi pria itu tidak ingin memperlihatkan berharap wanita itu masuk perangkapnya.


"Terima kasih, aku memasak dengan hati-hati dan khusus untuk malam ini karena ingin melayani kamu dengan penuh kebahagiaan," ujar Nick. Dia menahan rasa marah dan emosinya.


Mereka berbicara tentang apa saja, membagikan cerita tentang pekerjaan dan keluarga. Keduanya tertawa dan tersenyum satu sama lain. Nick mencoba untuk menunjukkan bahwa dia menikmati malam ini padahal sebenarnya, itu semua merupakan akting.


Beberapa saat kemudian, mereka menyelesaikan hidangannya. Nick menyiapkan segelas cognac untuk mereka minum bersama. Ketika keduanya bersantai di ruang tamu, pria itu memperhatikan senyum Arimbi yang begitu semringah, merasakan kebahagiaan.


Berbeda dengan Arimbi, Nick mencoba menahan semua amarah dan emosinya setiap melihat Arimbi. Dia bisa membayangkan betapa besarnya rasa sakit yang Rachel rasakan saat melihat Arimbi bercinta dengan kekasihnya.


Nick sengaja membuat Arimbi untuk minum terus hingga akhirnya dia mabuk. Nick ingin meminta kejujuran dari wanita itu.


"Sayang, kenapa kepalaku terasa sangat pusing," ucap Arimbi.


"Cobalah rileks sebentar. Biar sakit kepalanya hilang," ucap Nick.

__ADS_1


Nick memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Arimbi . Dia jelas tidak bisa memberitahu wanita itu tentang masalahnya, tapi dia bisa mengambil kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang wanita dihadapannya ini. Mungkin dia akan memperbaiki suasana hatinya.


Mereka mulai berbicara dan tertawa, Arimbi cerita tentang pekerjaannya sebagai seorang model dan Nick menceritakan tentang karir dan usahanya, sebelum dia pindah ke kota ini. Mereka sempat bertukar informasi tentang hobi dan kegemaran mereka. Mereka sama-sama menyukai jazz dan keduanya tertarik dengan film klasik.


Tiba-tiba, Nick menyebut nama beberapa nama orang dan mereka berakhir dengan terus membicarakan teman-teman mereka yang bersama saat ini. Arimbi bahkan menyebut tentang seseorang yang ingin diketahui Nick lebih jauh.


Tentu saja, Arimbi awalnya merasa keberatan menjawab pertanyaan Nick. Dia merasa seperti dirinya bisa sembunyi di balik minuman ketika Nick memintanya untuk berkata jujur. Arimbi merasa sedikit terjebak. Namun, karena kesadarannya makin berkurang dia tetap menjawab.


"Ada satu hal yang sangat ingin saya ketahui," kata Nick, sambil menatap Arimbi dengan mata tajam. "Bagaimana dengan teman yang bernama Rafael, yang kamu katakan tadi?"


Arimbi sedikit kaget, tapi dia tahu dia tidak boleh menyerah. "Oh ya, aku lupa memberitahumu tentang teman itu. Apa kamu juga mengenalnya?" tanya Arimbi dengan suara yang pelan.


"Bagaimana dia?" tanya Nick lagi.


"Ya, aku dan dia cukup dekat," kata Arimbi. "Dia sangat berbakat sebagai pemusik dan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menghasilkan lirik."


Nick sedikit tertawa. "Apa yang membuat dia begitu spesial?" tanya Nick lagi. Baginya Rafael hanyalah seorang pecundang. Dialah penyebab utama meninggalnya Rachel.


"Ah, tidak ada yang spesial tentang dia. Dia hanya seorang teman dekat," jawab Arimbi, berusaha untuk mengalihkan perhatian.


Nick melanjutkan menatap Arimbi, dan akhirnya dia mengangguk mengerti. Dia bisa merasakan bahwa Arimbi sedang berusaha untuk menghindari pertanyaannya. Dia tidak bisa membantu tetapi merasa sedikit terlahir dan sedikit tersenyum.


Arimbi merasa sedikit cemas, dia merasa sudah kehabisan waktu. Dia harus menyelesaikan obrolan ini dengan cepat sebelum Nick mengajukan lebih banyak pertanyaan yang sulit.


"Sepertinya minum kita sudah habis," kata Arimbi dengan suara kurang jelas karena mabuk, sambil mengangkat cangkir kecilnya.


“Jangan keburu pulang, ayo saya beli lagi minuman." Nick mencoba menahannya.


Nick setuju dan Arimbi terlihat sangat tenang. Dia merasa sepertinya wanita itu menghindari segala penjelasan jujur dari dirinya. Nick mencoba terlihat mengerti dan mereka kembali berbicara tanpa ada rasa canggung. Mereka bahkan membicarakan tentang beberapa film klasik favorit mereka.

__ADS_1


Tiba-tiba, Arimbi merasa benar-benar mabuk dan dia merasa semua lingkungan kelihatan berputar-putar. Dia mencoba untuk meraih sesuatu di meja, tapi dia merasa tidak seimbang dan membenturkan kepalanya ke meja.


"Arimbi, kamu merasa baik-baik saja?" Tanya Nick, terkejut.


"Ya, aku baik-baik saja," kata Arimbi, sambil membuka matanya lebar-lebar. "Aku cuma merasa sedikit mabuk."


Arimbi merasa mual, tiba-tiba ingin muntah. Nick terlihat sedikit terkejut dan cepat-cepat meagajak wanita itu menuju toilet. Wanita itu muntah banyak di sana. Arimbi merasa sangat malu dan meminta maaf berkali-kali.


"Maafkan aku, Nick," kata Arimbi, sambil mencoba menghibur dirinya sendiri. "Saya tidak bisa menghadapi minuman seperti itu."


"Tidak apa-apa," kata Nick, menepuk-nepuk punggung Arimbi untuk meredakan kepanikannya. "Kamu sudah cukup baik untuk datang kesini. Ayo, kita istirahat lagi," ajak Nick. Dia membantu Arimbi berjalan kembali ke ruang keluarga.


"Apa kamu mengenal cewek yang bernama Rachel?" tanya Nick begitu mereka telah duduk.


"Cewek manja itu. Dia cewek genit yang selalu mendekati Rafael. Padahal pria itu tidak mencintainya," ucap Arimbi meracau.


Nick mengepalkan tangannya menahan amarah mendengar ucapan Arimbi.


"Apakah Rafael dan Rachel pacaran?" tanya Nick lagi.


"Hanya Rachel yang mencintai Rafael, tapi pria itu tidak. Buktinya dia menduakan Rachel!" ujar Arimbi lagi.


"Siapa selingkuhan Rafael?" tanya Nick kembali.


Arimbi mendekati Nick dan berkata dengan suara pelan. "Jangan bilang siapa-siapa, Rafael dan aku berselingkuh dibelakang Rachel. Saat hari ulang tahun Rafael, cewek manja itu datang ke apartemen untuk memberikan kejutan. Tapi dia sendiri yang kaget saat melihat aku sedang bercinta dengan Rafael."


Nick menarik napas dalam, tabir rahasia penyebab awal adiknya meninggal mulai terbuka. Dia tidak akan memaafkan wanita ini karena Arimbi dan Rafael lah penyebab adiknya dibunuh.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2