
Nick yang sudah tidak bisa menyembunyikan keberadaan dirinya, mengacak rambut Cinta. Wanita itu tentu saja menjadi kaget dan heran. Tidak peduli dengan keheranannya Cinta, Nick langsung bertanya.
"Sudah selesai dari salonnya?" tanya Nick untuk menghilangkan kegugupan.
"Sudah dari tadi. Kami bahkan sudah dari butik," jawab Cinta.
Nick tersenyum dengan mata yang terus menatap Cinta. Menyadari tatapan Nick yang begitu menghujam, wanita itu menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Mama Merlin yang melihat Nick terus menatap ke Cinta jadi tersenyum.
"Cinta tambah cantik'kan?" tanya Mama Merlin.
"Ya, makin cantik," ucap Nick, membuat wajah Cinta makin merah menahan malu.
Nick mengajak mama dan Cinta makan malam di sebuah restoran. Setelah menyantap hidangan, mereka mengobrol. Mulai dari bisnis dan lainnya. Cinta hanya nimbrung sesekali saja.
"Maaf Bang Nick, Mama, aku mau ke toilet," ucap Cinta ditengah perbincangan mereka.
"Perlu mama temani?" tanya Mama Merlin.
"Tidak perlu, Ma. Aku bisa sendiri!" Cinta menolak tawaran mama. Dia tidak mau merepotkan wanita paruh baya itu.
Cinta berjalan pelan menuju toilet. Sepuluh menit kemudian dia keluar. Saat sedang berjalan, Cinta melihat Rangga. Dia cepat bersembunyi. Mereka sempat beradu pandang. Cinta berdoa semoga Rangga tidak mengenalnya karena penampilan dia saat ini sedikit berubah.
Cinta bersembunyi di belakang kamar mandi wanita. Hampir satu jam dia bersembunyi membuat Mama Merlin kuatir dan meminta Nick menyusul. Kedua orang itu mencoba mencari. Mama masuk ke toilet dan Nick mencari sekitar situ.
"Mama sudah masuk ke toilet wanita, tapi mama tak melihat Cinta. Kemana dia, Nick?" tanya mama dengan wajah cemas.
"Mama tunggu saja di mobil. Biar aku cari. Jika tidak ada juga, mungkin dia kembali ke rumah suaminya," ucap Nick pelan.
"Tapi tidak mungkin dia kembali ke rumah suaminya. Cinta mengatakan suaminya itu ingin menggugurkan kandungannya!" ucap Mama Merlin. Wanita itu tampaknya tidak rela jika Cinta kembali.
Cinta terduduk di pasir samping kamar mandi dengan menunduk. Tubuhnya gemetar, karena ketakutan. Setelah mencari cukup lama, Nick melihatnya. Pria itu mendekatinya dan menyentuh bahu Cinta. Di luar dugaan Nick, Cinta justru tambah ketakutan.
"Jangan, Mas. Jangan bunuh anak ini. Jangan paksa aku membuangnya," ucap Cinta ketakutan.
Nick jadi mengerti setelah mendengar ucapan wanita itu. Pasti dia mengira jika Nick adalah suaminya. Pria itu lalu jongkok dihadapan Cinta.
__ADS_1
"Cinta, ini aku Nick. Kita pulang. Mama menunggu di mobil," ucap Nick.
Cinta menegakan kepalanya, saat melihat Nick, dia spontan memeluk dan menangis. Nick juga membalas pelukannya.
"Tolong, Bang. Aku tidak mau bertemu suamiku. Bawa aku pergi," ucap Cinta dengan terisak.
Melihat tubuh Cinta yang gemetar, Nick tanpa diduga menggendongnya. Cinta lalu menyembunyikan kepalanya di dada Nick agar tidak ada yang mengenal. Dia masih takut ada Rangga di sana.
Mama Merlin yang melihat Cinta dalam gendongan Nick menjadi panik. Dia pikir terjadi sesuatu dengan wanita itu.
"Cinta kenapa, Nick?" tanya Mama Merlin.
"Sepertinya dia melihat suaminya, sehingga ketakutan." Nick meminta mama membuka pintu mobil. Tubuh Cinta diturunkan dan didudukan di jok belakang.
"Biar mama yang menyetir. Kamu temani saja Cinta dibelakang."
"Mama saja yang menemani. Aku yang menyetir," tolak Nick.
"Mungkin dia lebih merasa aman jika ada pria disampingnya. Merasa dilindungi."
"Tidurlah. Sekarang kamu sudah aman. Kamu jangan kuatir, tidak akan ada yang berani masuk ke rumah ini tanpa izinku," ucap Nick.
Mama menyelimuti Cinta. Dia mengecup dahi Cinta. Terasa hangat. Mama jadi kuatir.
"Nick, tubuh Cinta terasa hangat. Kamu panggil dokter saja. Mama takut terjadi sesuatu dengannya."
Mama tampak kembali panik. Nick mencoba menenangkan mama dengan memanggil Dokter keluarga mereka.
"Ma, aku nggak apa. Tidak perlu panggil dokter," ucap Cinta terbata. Tubuhnya memang terasa dingin.
"Bagaimana kamu bisa katakan tidak apa-apa sementara tubuhmu gemetar begitu," ucap Mama.
Mama duduk di tepi ranjang. Menggenggam tangan Cinta. Mencoba memberikan rasa nyaman pada wanita itu.
"Kamu tidak usah kuatir lagi. Mama ada di sini," ucap Mama.
__ADS_1
Sambil menunggu dokter, Nick dan mama menemani Cinta. Setengah jam kemudian, dokter datang.
Dokter memeriksa keadaan Cinta, dan memberikan suntikan. Setelah beberapa menit, dia tampak mulai tenang dan tertidur. Mama merapikan selimut Cinta dan setelah itu meninggalkan kamar. Membiarkan wanita itu istirahat.
"Nick, bagaimana jika suaminya Cinta membawa dia pergi?" tanya Mama. Saat ini mereka berdua berada di ruang keluarga.
"Maksud Mama ...?" tanya Nick. Tampaknya pria itu kurang mengerti dengan pertanyaan mamanya.
"Bagaimana jika suami Cinta tahu keberadaannya, dan membawa wanita itu pergi?" tanya Mama lagi.
Nick tidak langsung menjawab. Tampaknya dia sedang berpikir dengan ucapan mamanya. Pria itu menarik napas dalam. Sepertinya sulit memberikan jawaban yang pas untuk mamanya.
"Semua itu tergantung Cinta. Apakah dia mau kembali dengan suaminya atau tetap memilih di sini. Pilihan ada di tangan Cinta," jawab Nick.
"Seandainya Cinta tidak mau kembali tapi suaminya memaksa karena dia merasa ada hak, atas istrinya, bagaimana?" tanya Mama lagi.
Mama Merlin bukan saja takut suami Cinta melakukan kekerasan pada wanita itu lagi jika bertemu, tapi dia juga takut ditinggalkan Cinta. Dua minggu bersama, kehadiran Cinta bisa mengobati rasa kangennya pada sang putri.
Mama Merlin marasa kuatir jika suami Cinta membawa paksa wanita itu. Dia belum siap untuk kehilangan kedua kalinya. Dia sadar Cinta bukan siapa-siapa baginya, jadi tidak memiliki hak menahan kepergiannya.
"Jika memang Cinta tidak ingin kembali tapi suaminya tetap memaksa, bisa kita ancam pria itu. Bukankah dia memaksa menggugurkan kandungan Cinta. Kita akan adukan itu ke polisi," ucap Nick.
"Semoga suaminya Cinta tidak mengenal dia lagi. Mama sengaja mengubah penampilannya agar tidak dikenali," ucap Mama Merlin.
"Tapi aku minta Mama jangan terlalu berharap jika dia akan tinggal di sini selamanya. Suatu saat dia bisa saja memutuskan pergi. Mama harus siap kehilangan Cinta, karena dia bukan siapa-siapa Mama!" ucap Nick.
Dia sengaja mengingatkan Mama Merlin agar wanita itu jangan terlalu mencurahkan kasih sayangnya. Jika nanti Cinta pergi tidak terlalu sakit.
Di tempat lain, Rangga tampak termenung. Dia juga sedang mengingat Cinta.
"Wanita yang aku lihat tadi di restoran mirip dengan Cinta. Tapi penampilan mereka sangat berbeda," ucap Rangga dalam hatinya.
Rangga menarik napas dalam, mengingat tentang istrinya itu. "Apakah masih ada maaf darimu untukku Cinta?" tanya Rangga.
...----------------...
__ADS_1