
Arimbi mendekati Nick dan berkata dengan suara pelan. "Jangan bilang siapa-siapa, Rafael dan aku berselingkuh dibelakang Rachel. Saat hari ulang tahun Rafael, cewek manja itu datang ke apartemen untuk memberikan kejutan. Tapi dia sendiri yang kaget saat melihat aku sedang bercinta dengan Rafael."
Nick menarik napas dalam, tabir rahasia penyebab awal adiknya meninggal mulai terbuka. Dia tidak akan memaafkan wanita ini karena Arimbi dan Rafael lah penyebab adiknya dibunuh.
Dengan menahan emosi, Nick kembali bertanya. Dia harus tahu semua kejadian sebelum akhirnya Rachel di bunuh.
"Apa itu berarti Rafael tidak mencintai Rachel?" tanya Nick lagi.
Arimbi memandangi wajah Nick dengan intens. Dia menggelengkan kepalanya sebelum berucap, "Aku bicara apa? Kenapa kamu bertanya tentang Rachel terus? Apa sebenarnya kamu adalah keluarga wanita itu?" tanya Arimbi.
Mungkin kesadarannya mulai kembali. Dia mengambil air mineral dan meneguknya hingga kandas.
"Rafael itu mencintai Rachel. Denganku hanya sebagai teman ranjang. Aku yang menggodanya, karena aku tahu kedua orang tuanya lebih menyayangi Rafael dari pada Rangga. Harta lebih banyak atas nama Rafael!" ucap Arimbi sebelum akhirnya dia tertidur.
Nick meninju sofa, melepaskan semua amarahnya. Dia tidak akan melakukan kekerasan. Lagi pula keterangan dari Arimbi belum sepenuhnya dia dapatkan.
Dengan bantuan satpam, tubuh Arimbi digendong menuju mobil. Nick tidak mau menggendongnya karena masih geram dengan pengakuan Arimbi yang mengatakan pada malam kejadian itu, adiknya Rachel melihat dia sedang bercinta dengan Rafael.
Nick dapat membayangkan betapa sakit dan kecewa yang Rachel rasakan saat melihat pria yang dia cintai sedang bercinta. Kejutan ulang tahun yang ingin dia berikan berakhir dengan meninggalnya dia.
Sampai di depan apartemen milik Arimbi, pria itu meminta bantuan satpam untuk menggendong Arimbi ke tempat unitnya. Dia lalu pulang setelah memberikan sejumlah uang pada kepala keamanan itu.
Sampai di rumah orang tuanya, Nick langsung mandi dan tidur. Dia tidak ingin mama mencium bau alkohol di tubuhnya.
Pagi harinya saat Cinta membuat sarapan, Nick yang telah berpakaian rapi duduk di meja sambil memperhatikan wanita itu masak. Cinta memang sering membuat sarapan untuk mereka.
__ADS_1
Cinta yang menyadari ada orang memperhatikan dirinya, menghentikan kegiatan saat ini. Melihat Nick yang duduk di meja wanita itu tersenyum.
"Apa Abang ada masalah?" tanya Cinta. Dia melihat wajah Nick yang muram.
"Apa Rafael itu jahat dan kasar seperti Rangga?" tanya Nick.
Cinta memandangi wajah Nick dengan dahi berkerut. Pertanyaan Nick yang tiba-tiba membuat Cinta heran.
"Kenapa Abang tiba-tiba tanyakan itu?" tanya Cinta.
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, Cinta," ucap Nick dengan penuh penekanan.
Cinta tersenyum mendengar jawaban dari Nick. Dia menarik kursi untuk duduk.
"Selama aku mengenal Rafael, dia pria yang baik dan ramah. Dua bulan di desa, dia tidak pernah melakukan kesalahan. Dia juga rajin menolong warga," jawab Cinta.
Cinta meraih tangan Nick. Dia melihat wajah abang angkatnya itu sedih. Pasti memikirkan tentang Rachel.
"Bang, aku bisa merasakan kesedihan yang Abang rasakan setelah kehilangan Rachel. Apa lagi dia meninggal tidak wajar. Tapi, hidup terus berjalan. Aku mau Abang juga memikirkan diri sendiri. Cobalah berdamai dengan keadaan. Berdoa saja Allah memberikan keadilan bagi Rachel dan orang-orang jahat itu mendapat balasannya," ucap Cinta dengan hati-hati.
Pastinya tidak mudah menerima kenyataan adik yang kita sayangi direnggut nyawanya secara paksa dan tragis. Namun, kita juga tidak mungkin selalu larut dalam kesedihan.
Dari sudut mata Nick tampak menetes air mata. Pasti dia sangat menyayangi Rachel sehingga belum bisa menerima kenyataan. Cinta berdiri dari duduknya dan mendekati Nick. Dia menyayangi pria itu seperti abangnya.
Cinta memeluk Nick. Mencoba memberikan kekuatan pada pria itu. Mungkin selama ini yang paling dibutuhkannya adalah tempat berbagi. Jika berbagi kesedihan dengan mama, Nick takut mamanya itu makin terpuruk.
__ADS_1
Nick memeluk pinggang Cinta. Tangis pria itu akhirnya pecah. Jika seorang pria menangis, sudah dapat dipastikan jika dia memang sangat terluka.
"Jangan pergi, kamu adalah pengganti Rachel bagiku," ucap Nick dengan terbata.
Cinta mengusap punggung pria itu. Dia juga menyayangi Nick dan Mama Merlin, kalau pada akhirnya dia kembali pada Rangga, tidak akan pernah melupakan keluarga di sini.
Cukup lama Nick menumpahkan tangisnya. Setelah merasa sedikit lega, dia baru melepaskan pelukannya pada tubuh Cinta.
"Menangislah, Bang. Jangan di pendam. Ketika keadaan mengharuskan untuk menangis, tak usah berpura-pura, menangislah. Karena tak semua air mata berarti lemah. Orang yang tulus mencintai takkan mudah melepaskan, takkan mudah pergi, takkan mudah merelakan, namun mudah meneteskan air mata."
"Terima kasih, Cinta. Kehadiran kamu mengobati kerinduan ini pada Rachel. Kamu lembut sepertinya. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kamu," ucap Nick dengan tulus.
"Sekarang sarapan. Mama tadi titip pesan, jika tiga hari ini harus pergi ke luar kota. Jadi kita berdua saja sarapan," ucap Cinta.
Cinta menyajikan sarapan yang tadi dia masak. Mereka berdua menyantapnya dengan lahap.
"Bang, mungkin nanti aku pergi dengan Mas Rangga. Apa boleh?" tanya Cinta. Dia meminta izin pada pria itu karena telah menganggap Nick seperti abangnya.
"Kenapa minta izin dengan abang?" tanya Nick. Dia bicara sambil tersenyum.
"Karena kamu adalah Abangku," jawab Cinta dengan penuh penekanan.
Nick kembali tersenyum. Dia berpikir, mungkin Tuhan memang mengirimkan Cinta sebagai pengganti Rachel. Wanita itu mampu mencuri hati dia dan mama.
"Silakan saja pergi. Tapi tetap waspada dan jaga diri. Abang tidak mungkin mengikuti kamu. Tapi menurut penglihatan, Rangga itu sebenarnya pria yang baik. Emosi dan kemarahannya karena terlalu menyayangi adiknya," ucap Nick.
__ADS_1
Cinta mengangguk setuju dengan ucapan Nick. Dia juga masih ingin melihat kesungguhan Rangga untuk kembali padanya.
...----------------...