CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Hendra


__ADS_3

"Mau apa,kau?",tanyaku.Satrio sekarang berada di depanku.


Ia melangkah maju sambil tersenyum.Aku terpaksa mundur sampai membentur dinding.


"M...Mau apa kau?",tanyaku tergagap-gagap.


"Aku mau mengantarmu pulang, kalau kau tidak keberatan!",katanya seperti menggeram.


"Aku nggak mau!"


"Ayolah,sekali ini saja!"


"Aku sudah bilang.Aku nggak mau!",seruku.


Aku menuruni tangga restoran tanpa menoleh.Tapi mata hitamnya terus terbayang-bayang dalam pikiranku.


Aku menunggu beberapa waktu.Baru setelah ada angkot lewat, aku pergi masuk ke dalam angkot.


Kerja di restoran hari ini ternyata cukup melelahkan.Kakiku masih agak gemetaran karena dari tadi berdiri dan lari-larian.Soalnya hari ini banyak sekali pengunjung yang datang.Aku baru perhatikan, suasananya agak seram juga.Soalnya tidak ada siapa-siapa selain aku di dalam angkot ini.


Tak lama angkot berjalan, angkot ini berhenti.Naiklah seorang pria memakai hoodie berwarna merah.Syukurlah,aku nggak sendirian lagi di dalam angkot.


"Baru pulang kerja,Mbak?",tanya pria itu.Tiba-tiba aku merasa takut.Jangan-jangan dia orang jahat.Jadi aku tak menjawabnya.


Kemudian pria itu membuka tudung Hoodienya.


"Uhhh, ternyata kamu!",ujarku.Kutatap Satrio yang lagi senyum cengar-cengir."Kenapa kamu selalu mengikutiku?"


"Aku sedang menggodamu",jawabnya.


"Apa? Menggodaku?Kenapa?"


"Yah,karena aku menyukaimu!"


"Hmmm...Itu hak kamu,sih untuk menyukaiku.Tapi aku mulai terganggu tau!"


"Yah,gimana lagi?Aku sangat menyukaimu.Jadi butuh usaha,lah.Aku akan terus mengejarmu sampai kamu juga suka sama aku".


"Dasar nggak tau diri!"


"Kenapa?"


"Aku nggak menyukaimu.Aku sudah punya pacar!"


"Lah,kan nggak ada hubungannya"


"Apa?"


"Punya pacar dan menyukai orang lain.Emang kalau punya pacar,nggak boleh menyukai orang lain?"


"Ya,udah! Pokoknya aku nggak suka kamu.Aku udah punya pacar.Titik!Aku malas berdebat lagi!"


Kemudian aku terdiam.Aku nggak menjawab pertanyaannya lagi.Terserahlah.Aku capek..


Sisa perjalanan aku habiskan dengan diam dan melamun.Hingga aku sampai di rumah.


Setelah turun,aku menoleh ke belakang.Untung Satrio nggak ikut turun.Tapi dia melambaikan tangannya dan tersenyum kepadaku.Huhh,dasar muka badak!


Sesampainya aku di depan rumah,aku kaget.Azril sudah menungguku di teras rumah.


Kepalaku langsung tertunduk.Aku tau dia pasti marah sekali sama aku karena foto kemarin.


"Az..", kataku.

__ADS_1


"Stop!Aku nggak mau dengar penjelasanmu!",kata Azril memotong perkataanku.Sebenarnya banyak hal yang ingin kusampaikan padanya.


"Tapi.."


"Sudah,anggap saja tidak terjadi apa-apa.Yang penting kita tidak putus.Aku tidak bisa kehilangan kamu,Ras!"


"Justru itu aku yang mau bahas,Zril.Aku mau putus sama kamu!"


"Apa?Kenapa?Apa karena kamu menyukainya?"


"Siapa?"


"Itu.Si artis itu!"


"Nggak.Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan dia.Bukan karena itu.Sudah lama aku nggak cinta lagi sama kamu.Aku juga merasa kamu nggak cinta lagi sama aku.Itu tercermin dari sikapmu.Kamu udah berubah,Zril.Kamu udah nggak kayak dulu.Hubungan kita hanya terasa seperti formalitas saja!"


"Kalau kamu bilang aku nggak cinta lagi sama kamu.Terus apa ini?Apa rasa sakit ini?Kenapa sesakit ini?"


"Mungkin karena kita sudah lama bersama.Sebelum pacaran,kita udah lama sahabatan dari SD.Mungkin kamu nggak mau kehilangan aku sebagai sahabat".


Azril terdiam.Dia terduduk di tangga teras dalam waktu yang lama.


"Boleh..Boleh aku memelukmu sekali saja sebagai seorang pacar? Untuk yang terakhir kalinya"


Aku mengangguk.Kemudian Azril memelukku dengan erat.Air matanya tumpah dan membasahi bahuku.Kutepuk-tepuk punggungnya untuk menenangkannya.


"Aku pergi,ya!", ujarnya setelah merasa tenang.


Aku mengangguk.


Diapun menaiki motornya dan berlalu pergi.


---


Setelah mandi dan sarapan,akupun pergi ke sekolah.


"Hai",sapa Hendra yang sudah berdiri di depan pintu.


"Kenapa kamu kesini lagi?"


"Aku mau mengantarmu ke sekolah lagi"


"Ogah"


Aku pun berjalan menuju ke sekolah.Melihatku berjalan,Hendra menuntun sepedanya dan berjalan di sampingku.


"Ngapain kamu ngikutin aku?"


"Yah, namanya juga usaha.Hehe",jawabnya sambil tersenyum.


"Huh,kamu sama aja dengan cowok itu!", kataku ketus.


"Cowok itu?Siapa?"


"Itu,model itu!"


"Siapa?Satrio?"


Aku mengangguk.


"Jadi Satrio juga mendekatimu?",tanyanya untuk meyakinkan diri.


"He..eh!",jawabku tanpa memalingkan muka.

__ADS_1


"Hmm...Kalau gitu aku mundur,deh!"


"Kenapa?"


"Aku beda banget sama dia.Aku pasti kalah,deh!"


"Maksudnya?"


"Aku kan miskin.Aku cuma anak pembantu di rumahnya Satrio"


"Oh,ya.Iya.Waktu itu asisten rumah tangga Satrio memang pernah cerita kalau punya anak di SMA Proklamasi namanya Hendra.Jadi itu kamu?"


"Iya.Eh,eh.Berarti kamu pernah ketemu Ibuku,dong?"


"Iya.Kamu tenang aja.Aku nggak lihat orang dari hartanya,kok!Aku lebih parah dari kamu"


"Lebih parah?"


"Iya.Kalau kamu kan cuma miskin.Kalau aku selain miskin,yatim piatu lagi"


"Ohh.Maaf..Maaf.Aku nggak tau"


"Nggak papa kali.Biasa aja"


Aku melihat ke depan.Di gerbang telah berdiri Pak Sunar,guru BP,dan Guru Olahraga,dan ketua OSIS.


"Haduhhhh!!!"


"Kenapa,Ras?Kamu kenapa?Kamu sakit?"


"Nggak.Ada Pak Sunar itu.Aku lupa membawa dasi!Dasiku ketinggalan.Aku baru nyadar!", kataku panik.


"Tenang,pakai ini!", Hendra melepas dasinya dan memberikannya kepadaku.


Aku memegang dasi itu di tanganku."Terus kamu gimana?"


"Biar saja.Nggak usah pikirkan aku".


---


Pelajaran sudah dimulai.Pak Irvan Charles sedang menulis soal di papan.


Sambil melamun aku melihat ke luar.Kebetulan aku duduk di dekat jendela.Dan..Hahhh...Hendra sedang berlari mengelilingi lapangan basket.Huu..Kasihan.Gara-gara aku jadi dia yang dihukum.Harusnya aku yang dihukum.


"Laras!!",panggil Pak Charles.


"Iya,Pak!"


"Kerjakan soal di papan!Kamu ini Bapak lihat dari tadi bengong terus!Ayo maju ke depan!"


"Ya,Pak!"


Akupun maju ke depan.Bukannya sombong,sih.Soal kayak gitu,mah,kecil.Soalnya aku udah pinter dari lahir.Bawaan orok.Haha.


"Wah,hebat kamu.Padahal dari tadi bengong.Tapi bisa ngerjain soal dengan cepat dan benar!",puji Pak Irvan.


"Hehe..Iya,Pak.Bapak bisa aja!"


"Ya,udah.Duduk kamu!Jangan diulangi lagi,ya.Walaupun kamu pintar, tapi kamu nggak boleh bengong di kelas".


"Iya,Pak"


Aduhhh.. Gara-gara Hendra,nih.Aku jadi dimarahin Pak Irvan.Ngapain,sih tadi aku ngelihatin dia.Kan,bukan aku yang salah.Kan dia sendiri yang bersedia dihukum demi aku.Dan aku juga tau,yang dia lakukan itu modus untuk mendekatiku.

__ADS_1


__ADS_2