CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Persaingan


__ADS_3

Bukan.Bukan Hendra.


Yang muncul di pintu gerbang sekolah ternyata Satrio.Padahal aku sedang menunggu Hendra.Aku mau bilang terimakasih sama dia.


Dengan tenang aku memandang berkeliling.Aku pura-pura nggak melihatnya.Aku bersikap seolah-olah nggak ada dia.Rambutnya yang hitam tampak berkilauan terkena matahari sore.Bajunya yang putih seakan-akan bersinar cerah.Mataku nyaris terasa perih karena silau.


Kemudian bibirnya yang merah mengembangkan senyum."Aku berhasil!Aku berhasil menemukanmu!",serunya gembira.


Ia berlari keluar gerbang.Sambil memekik riang ia akan memelukku.


DUUUKKK!!!


Aku menendang tulang keringnya.


"Aduuuhhh!",dia berteriak kesakitan."Kok kamu nendang aku?"


"Siapa suruh kamu mau meluk aku!Emang kamu siapa?Pacar bukan,saudara juga bukan!",ujarku sambil mendengus kesal.


"Ya,udah.Kalau gitu, pacaran yuk!Denger-denger kamu baru putus,kan!", ujarnya.


"Biarpun gue baru putus.Gue nggak bakalan mau sama kamu".


"Lo,kenapa?Aku udah cinta mati sama kamu.Pleaseee!", ujarnya sambil memasang muka imut dan melipat kedua telapak tangannya.


"Kan aku udah bilang.Kamu itu artis,Ibu kamu juga artis.Terus,ayah kamu.Ayah kamu Calon Gubernur.Sedangkan aku siapa?Aku hanya anak yatim-piatu yang miskin!"


"Aku..Aku nggak perduli.Aku cinta kamu.Apa itu nggak cukup?"


"Lupakan cintamu itu.Mungkin itu cinta sesaat saja!"


Kring!Kring!


Suara bel sepeda memecah percakapan kami.


"Ras! Ayo kita sama-sama pergi ke restoran!",ujar Hendra.Dia tersenyum tanpa turun dari sepedanya.


"Hendra!Ayokk!Aku memang nungguin kamu dari tadi!",kataku sambil mendaratkan pantatku ke atas boncengan sepedanya.


Aku melihat ke arah Satrio."Byee!!",ujarku sambil melambaikan tanganku.


"Laras, jangan pergiiii!",teriak Satrio.Tangannya seolah-olah ingin menggapai ku seperti film-film India.


"Ras!",teriak Hendra sambil mengayuh sepedanya dan tetap memandang ke depan.


"Apa!", jawabku.


"Aku kangen kamu!"


"Gombal kamu!!"


"Nggak.Nggak gombal.Beneran, kok!"


"Udah,aku nggak percaya!"


Aku menelan ludah.Kayaknya aku haus."Hen, berhenti dulu!"

__ADS_1


"Kenapa?", tanyanya.


"Aku haus!Aku mau minum.Bisa mampir ke kios,nggak!"


"Oke!"


Kamipun berhenti di sebuah kios pinggir jalan untuk membeli minuman dingin.


Ketika kami sedang duduk di depan kios sambil menikmati minuman kami.Berhenti sebuah mobil mewah di hadapanku.Dan Satrio turun dari dalam mobil itu.


"Kalian sedang apa?", tanyanya.


"Kamu nggak lihat?Kami sedang minum?Sana,gih.Jauh-jauh.Orang kaya kayak kamu mana pernah minum di kios pinggir jalan kayak gini!",jawab Hendra.Aku lihat sinar permusuhan dari tatapan mata mereka.Aneh,aku dengar katanya mereka tinggal serumah dan sudah lama sahabatan.


"Sori,ya",kata Satrio."Aku juga biasa minum minuman pinggir jalan!",kata Satrio sambil mengambil sebuah minuman botol dari dalam kulkas.


"Ras,kurasa lebih baik kamu naik mobilku aja daripada naik sepeda butut kayak gitu",kata Satrio.


Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah Hendra."Oh,ya,Hen! Bukannya kemaren rantai sepedamu lepas,ya?Gimana kalau nanti rantaimu lepas lagi di jalan?Atau malah putus.Gimana coba?Masak Laras kamu suruh jalan?"


"Eh,jangan ngehina sepedaku kamu,ya!Lagian Laras sendiri yang mau naik sepedaku.Kenapa kamu yang rese?",ujar Hendra setengah berteriak.Sepertinya suasana semakin memanas.


"Kalau aku mau menghina emangnya kenapa?Emang sepedamu jelek,butut, karatan!"


"Brengsek kamu!", sepertinya Hendra sudah kehilangan kesabarannya.


Buukkk!


Hendra memukul wajah Satrio.Darah mengalir dari sudut bibirnya.


"Stopppp!!!",seruku.Tapi mereka tak mengindahkanku.Mereka tetap saja berkelahi.


"Berhenti!Berhenti kataku!",teriakku sambil berusaha melerai mereka dan masuk diantara mereka.


Bakkkkk!!!


Hendra tanpa sengaja memukulku.Kepalaku jadi pusing.


"Hendra!! Kenapa kamu memukul Laras!", sayup-sayup kudengar suara teriakan Satrio.


Pet.


Pandanganku gelap.Aku tak sadarkan diri.


---


Aku membuka mataku.


"Dimana?Dimana aku?"


Aku meraih pegangan tempat tidurku berusaha untuk duduk.Tapi kepalaku pusing sekali.


"Jangan,Ras!Tidur aja dulu!",aku menoleh ke asal suara.Ternyata suara dari Satrio.


"Eh,kamu,Sat.Dimana aku?"

__ADS_1


"Kamu di Rumah Sakit"


"Kok aku bisa di Rumah Sakit?"


"Ini karena Hendra.Hendra memukulmu!"


"Hendra?".


Tiba-tiba kepalaku terasa sakit.


"Udah kamu istirahat aja dulu"


Aku berusaha untuk duduk dan turun tempat tidur.


"Laras,jangan bandel,ya!", hardiknya."Istirahat aja dulu"


"Aku tidak bandel.Aku mau pulang.Aku nggak ada uang untuk bayar biaya Rumah Sakit.Apalagi kamu bawa aku ke Rumah Sakit mahal kayak gini."


"Sssttt.Sudah!",kata Satrio sambil merebahkan badanku ke atas tempat tidur."Kamu nggak usah mikirin biaya Rumah Sakit.Biaya Rumah Sakit biar semua aku yang tanggung"


"Nggak.Aku nggak mau.Aku nggak mau hutang budi sama kamu"


"Nggak,papa.Kamu nggak usah berpikir kayak gitu.Aku ikhlas,kok,nolong kamu".Satrio mendekatkan kepalanya kepadaku dan dia membelai rambutku.


Kok jantungku deg-degan lagi,sih? Kenapa?Apakah aku memang sudah jatuh cinta padanya?Nggak,aku nggak mau!Aku nggak boleh jatuh cinta pada Satrio.Dia dan aku beda banget perbedaannya.Aku dan dia nggak mungkin bersatu.


Kuhabiskan malam itu dengan Satrio.Satrio ternyata anaknya kicak banget.Dia suka buat candaan yang konyol.Membuatku terpingkal-pingkal.


---


Keesokan harinya setelah Dokter memeriksaku,dia menyatakan aku sudah sehat dan boleh pulang.


"Kamu kok baru datang?",ujar Tante Ayu."Kamu mulai belajar jadi anak nakal seperti Ibumu,ya?",ujar Tante Ayu dengan nada tinggi.


"Tante.Tante boleh hina aku sepuasnya.Tapi jangan pernah hina Ibuku!",bentakku.


"Eh,anak kurang ajar!Ibumu masih punya banyak hutang padaku,ya! Beraninya kamu ngomong kayak gitu!".Suaranya sampai gemetaran karena luapan emosi.


"Kenapa?Kenapaaa!!Yang berhutang itu Ibuku,kenapa harus aku yang harus membayarnya.Bukan aku yang berhutang!Dan apakah Tante ingat.Ibuku adalah kakak Tante.Dan aku juga masih keponakan Tante!", kataku tak kalah emosi.


Kemudian aku berlari menuju ke arah pintu.


BRAAKKK!!!


Aku membanting pintu dengan keras dan berlari keluar.Tak kudengar lagi omelan Tante Ayu.


Aku berhenti di sebuah bangku taman.Dan aku menangis sejadi-jadinya.


"Nenekk!!",aku teringat dengan nenekku.Kalau lagi begini, biasanya nenekku yang menenangkan aku.Tapi sekarang nenekku lagi di Rumah Sakit.Dia sudah lama berada di sana.Dia terkena stroke.


Tiba-tiba ada tangan yang memegang pundakku.Akupun mendongak sebentar dengan air mata masih bergelantungan di pelupuk mataku.


"Hendra?",ujarku.


Kemudian ia duduk di sampingku.Refleks aku memeluknya.Kubenamkan kepalaku ke dada bidangnya.Dan aku kembali menangis sekencang-kencangnya..

__ADS_1


__ADS_2