CINTA ITU LUKA

CINTA ITU LUKA
Marah


__ADS_3

"Kamu kenapa,Ras?",tanya Galih.Dia heran melihat aku terengah-engah, seperti orang ketakutan.


"Aku..Aku..",belum sempat aku berbicara,Teettttt!,bel tanda istirahat selesai telah berbunyi dan Pak Farel memasuki ruangan kelas.Pak Farel lumayan tampan dan bertubuh atletis.Wajar,lah.Dia kan guru olahraga.


"Anak-anak!Buka LKS kalian.Kerjakan mulai dari halaman lima hingga halaman tujuh".


"Yaaaa,Paakkk!",jawab kami hampir serempak.


Tok..Tok..Tokk


"Permisi,Pak", muncul Bu Hanifah di depan pintu.


"Oh,Bu Hanifah.Ada apa Bu?",tanya Pak Farel.


"Begini,Pak.Siswi atas nama Ni Ketut Larasati dipanggil ke ruang Kepala Sekolah,Pak!"


"Ohh..Gitu..".Kemudian Pak Farel menyapu pandangannya ke seluruh kelas.


"Ada di sini siswi atas nama Ni Ketut Larasati?"


Aku terkejut mendengar namaku dipanggil.Dengan perlahan-lahan kuangkat tangan kananku."Saya,Pak!",ujarku.


"Kamu silahkan keluar.Kamu dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah", perintah Pak Farel.


--


Setelah tiba di ruang Kepala Sekolah,aku segera mengetuk pintu.


"Masuk!!", terdengar suara dari dalam ruangan Kepala Sekolah.


Untuk beberapa lama Pak Sunar diam,dia sibuk menulis di atas sebuah kertas.Setelah beberapa lama,Pak Sunar mendongak."Loh,kok kamu belum duduk?Duduk..Duduk!"


"Iya,Pak". Gimana mau duduk,orang nggak disuruh duduk dari tadi.


"Hmmmm",ujar Pak Sunar sambil menggigit sepotong roti.Mau?Kalau mau ambil aja!",kata Pak Sunar sambil menunjuk ke sepotong roti yang tergeletak di atas meja.


Aku menggeleng."Nggak,Pak.Nggak usah!"


"Aku benar-benar kesal hari ini.Kamu benar-benar sukses membuat onar!Baru selesai diskors.Baru hari pertama masuk,sudah merusak properti sekolah.Merusak kaca dan pintu kelas XIPA1"


"MA..Maaf,Pak!",sahutku gelagapan.Aku menunduk.Aku tidak sanggup memandang wajah Pak Sunar.


Sambil tersenyum Pak Sunar menatapku.Sehingga aku jadi heran.Kok, bukannya marah malah Pak Sunar tersenyum.Senyumnya mirip bintang iklan minuman Floridino yang sedang kehausan karena berada di padang pasir.


"Kamu heran,ya!Kenapa saya kok malah tersenyum?"


Aku mengangguk.


"Tadi Bapak lihat di Instargram kalau kamu menang lomba di NLT Festival yang diadakan Poltek Bina Sehat Palembang"


"Hahhh,iya,Pak.Beneran,Pak?"

__ADS_1


"Iya, untuk itu kamu nggak usah kuatir tentang biaya penggantian kaca dan pintu kelas XIPA1.Kan kalau kamu menang lomba, dapat beasiswa free SPP tiga bulan.Nah,uang beasiswamu dipakai untuk biaya perbaikan.Jadi kamu tetap bayar SPP,ya! Sekarang kamu boleh keluar, kembali ke kelas"


"Iya,Pak.Saya pamit"


Pak Sunar mengangguk dan kembali ke meja kerjanya.


--


Aku berlari-lari mengejar angkot yang menuju ke Blok M.Sambil menenteng tas sekolahku,aku berlari menuju ke angkot.Aku naik angkot nomor 15.Karena terburu-buru, kepalaku terantuk atap angkot.


"Aduh",teriakku.


Semua orang melihatku."Makanya ati-ati,Neng!"


Aku cuma tersenyum sambil menahan rasa sakit di dahiku.


Sepanjang perjalanan,aku menatap ke jalanan.Di jalan,aku lihat ada anjing yang berlarian.Karena terlalu fokus melihat ke jalanan,aku agak terlewat."Pak,Stop..Stop!"


Setelah membayar ongkos,aku berjalan meninggalkan angkot.Karena tergesa-gesa,aku menabrak tiang lampu.Refleks,aku mundur.Karena mundur,aku menginjak kaki orang yang ada di belakangku.


"Aduhhh!",teriaknya.


"Ma..Maaf",kataku kepadanya.Dia adalah seorang cowok yang pendek dan jauh dari kata tampan.


"Iya..Nggak papa!",katanya.Kemudian dia memperhatikan aku."Tu..tunggu.Kamu adiknya Jojo,kan?"


Aku mengangguk.


Aku menjabat tangannya."Oh,salam kenal.Aku Laras.Eh,iya.Aku masuk ke sana dulu,ya.Aku buru-buru"


"Oh,oke.Kamu ngapain ke sana?Mau makan steak,ya?"


"Eh,nggak kok!Aku kerja di sana.Sekali lagi maaf,ya!",kataku sambil berlari meninggalkannya.


Candra tersenyum dan melambaikan tangannya.


--


"Loh,jidatmu kenapa,Ras?",tanya Hendra begitu aku sampai di restoran.


"Kejedot tadi!"


"Loh,kok bisa?"


"Tunggu",kata Hendra sambil melangkah pergi menuju rest room karyawan.


Tak lama dia muncul dengan membawa salep anti bengkak."Mana sini jidatmu".Kemudian dia mengoleskan salep itu di dahiku.


Jantungku berdegup kencang karena aku belum pernah sedekat ini dengan cowok.


"Eh!Udah!",ujarku."Itu bos udah datang!"

__ADS_1


Hendra menurunkan tangannya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa."Selamat siang,Pak!"


"Iya,siang.Kalian lagi ngapain? Seharusnya kan kalian kerja",ujar Pak Darsana.


"I..Iya,Pak",kata kami hampir serempak.


Pak Darsana membelai kucing Oren yang dia beri nama Rizki di tangannya.Dulu aku sempet nanya.Kok kucing diberi nama kayak namanya manusia.Tapi Pak Darsana bilang,kucing itu dia beri nama Rizki karena kucing itu sudah memberikan rejeki padanya.Dulu restorannya sepi.Tapi semenjak dia memelihara Rizki, restoran nya jadi rame banget.Sampek semua karyawannya kewalahan..


"Gorden-gorden itu dibuka aja.Biar sinar matahari masuk!", perintahnya.


"Iya,Pak!",jawabku seraya membuka gorden-gorden.


Sambil membawa kucing itu,Pak Darsana berjalan menuju ke meja kasir.


Klinting!


"Selamat datang di BBC Steak and Bowl!", teriakku.


Pintu terbuka.Dan betapa kagetnya aku.Ternyata Satrio dan Mas Pardi yang masuk.


"Permisi mau pesan apa?",kataku sambil menyerahkan buku menu.Aku berpura-pura tak mengenalnya.Kenapa,sih.Cowok ini harus datang kemari.


"Saya pesan dua steak and bowl"


"Mm..Minumnya apa,Pak?"


"Es Americano aja dua"


"Oke,baik.Ditunggu pesanannya ya,Mas!".Akupun mau berbalik pergi.Tapi tiba-tiba tanganku dipegang olehnya.


"Kok kamu pura-pura nggak kenal aku gitu?",katanya sambil tersenyum.


Hdddhhh...Amarahku sudah sampai di ubun-ubun.Tapi aku harus menahannya.Karena ini di tempat kerja.Di semua restoran berlaku hukum pembeli adalah raja.Aku nggak mau dipecat gara-gara dia.


"Maaf,Mas.Saya bukan pacar Anda",kataku sambil menarik tanganku.


"Loh,kan kita udah pernah ciuman.Berarti kita pacaran,kan?",katanya lagi.


Aku mulai merasa gelisah.Semua mata pengunjung restoran seakan-akan menatapku.Bahkan ada beberapa dari mereka yang merekam ku dengan ponsel mereka.


"Maaf,Mas.Silahkan ditunggu pesanannya",ujarku sambil buru-buru pergi menuju ke arah dapur.


Sudah beberapa lama mereka terlihat asyik mengobrol.Bahkan sudah menghabiskan kopi sampai tiga gelas.Kok mereka nggak pergi-pergi,sih?


"Maaf,Mas.Kami sudah mau tutup!",kataku setelah menghampiri mereka.


"Oke,aku antar,ya.Aku tunggu di depan",katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ti...Eh!",belum sempat aku menolak.Satrio sudah berdiri dan menuju ke meja kasir.Setelah membayar, dia tampak bercakap-cakap dengan Pak Darsana.Mereka terlihat akrab.Sadar aku perhatikan,dia memandangku dan melambaikan tangannya kepadaku.


Aku memalingkan wajahku.Seolah-olah tak melihatnya..

__ADS_1


__ADS_2