
Setelah kejadian itu,aku mengurung diri di kamar.Sepertinya kejadian itu membuatku syok berat.Apalagi sejak kejadian itu,Satrio tidak bisa dihubungi sama sekali.Jangankan dihubungi.Bayangannya saja tidak pernah nampak.
Hingga suatu hari di bulan November.Langit mendung yang terbentang di atas kota membuat suasana serba kelabu.Pemandangan khas musim hujan di kota Jakarta.Dan tak lama kemudian turun hujan deras dari atas langit kota metropolitan ini.
Taman di depan sekolah nampak sudah basah oleh air hujan.Pohon-pohon pun telah basah oleh air hujan.Angin dingin sepoi-sepoi menerpa wajah kami di dalam kelas, murid-murid pun mulai mengantuk.
Sekarang adalah jam keenam,dan perhatian terhadap pelajaran sudah jauh berkurang.Terutama diantara anak-anak XIPA2.
Pak Karto,guru Biologi kami, berdiri di hadapan murid-muridnya yang setengah mengantuk dan berkata,
"Minggu depan kita akan membahas binatang yang tidur di siang hari dan beraktivitas di malam hari,seperti kelelawar.Tema yang menarik,kan?Karena kalian juga mempunyai sifat yang serupa".
Beberapa anak nampak nyengir.Dari bangku paling belakang terdengar suara tertawa keras."Hahahaha!".Suasana kelas menjadi riuh.Hingga mereka tidak mengantuk lagi.Sementara aku..Aku dari tadi tidak mengantuk.Tapi pikiranku melayang ke sosok Satrio.
Sudah lima bulan..Sudah lima bulan Satrio menghilang.Bukannya aku nggak pernah berusaha mencarinya.Aku sudah mati-matian mencarinya.Aku ke rumahnya.Rumahnya selalu tertutup rapat.Aku tanya Hendra,dia bilang tidak tahu.Aku WA,pesanku cuma centang satu.Aku DM nggak bisa.Akunnya diprivate.Hdhhh..Aku sampai frustasi.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan Bu Marni melangkah masuk.Bu Marni adalah sekretaris Kepala Sekolah.
"Pak Karto",ia berkata."Anda diminta datang ke kantor Kepala Sekolah.Ada sesuatu yang beliau mau bicarakan".
Kemudian ia meninggalkan kelas kami."Saya akan pergi sebentar",kata Pak Karto."Tetapi saya harap kalian jangan ribut selama saya tidak ada,mengerti?Galih,kamu jaga ketertiban kelas,ya!"
Anak itu dari tadi bertopang dagu.Kini ia menegakkan badan dan mengangguk.Namun anggukannya tak terlalu bersemangat.Galih tidak suka disuruh mengawasi teman-temannya.Sebab dia takut disangka cari muka.Namun mau gimana lagi.Dia kan Ketua Kelas di kelas ini.
Pak Karto bergegas keluar dan menutup pintu kelas.Seketika, anak-anak menutup buku-buku mereka secara berbarengan.Seperti diperintah saja.Setelah itu suasana kelas menjadi ribut.Macam-macam yang mereka lakukan.Yah,namanya juga jamkos.Tapi nggak semuanya ribut, sebagian anak yang lain memanfaatkan jamkos ini untuk tidur.
Namun tidak semuanya bersikap seperti itu.Apalagi Galih.
Namanya sebenarnya adalah Mark Scott Swinzberg.Dia adalah anak blasteran.Ayahnya dari Jerman,sedangkan Ibunya orang Sunda.Karena namanya susah, jarang sekali ada yang memanggilnya dengan nama itu.Ia lebih dikenal dengan nama Galih.Entah siapa dan bagaimana dia dipanggil dengan nama itu,aku tak tahu.Mungkin karena dia anak satu-satunya dengan logat Sunda di kelasku,makanya ia dipanggil Galih.Sampek guru-guru juga memanggilnya dengan nama Galih.
Galih berbadan jangkung dan tegap.Kalau wajah,jangan ditanya,lah.Sebagai anak blasteran, wajahnya super duper tampan.Selain itu,ia juga merupakan atlet yang gemilang,ia terutama menonjol dalam cabang olahraga bola voli.Rambutnya ikal dan berwarna gelap.Kulitnya putih.Anaknya pemberani,dan seakan-akan dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin.Orang boleh bangga kalau bisa berteman akrab dengannya.
__ADS_1
Kecuali olahraga,mata pelajaran lain yang disukai Galih adalah Matematika.Pelajaran itu sudah menjadi salah satu hobby-nya.
Galih mengeluarkan buku tulis dan mulai mengerjakan PR-nya.Sebab jika selesai sekarang,maka ia bisa punya banyak waktu luang untuk berlatih voli bersama teman-temannya.
Aku,yang duduk di sampingnya,tidak tertarik untuk meniru perbuatannya.Namanya PR kan Pekerjaan Rumah.Yah, dikerjakannya nanti aja waktu di rumah.Aku adalah teman sebangku sekaligus sahabat Galih.Mungkin aku satu-satunya sahabatnya.Kalau dia bukan satu-satunya sahabatku.Karena aku punya tiga sahabat lagi,yaitu Dinda,Alfisa,dan Riyanti.
Galih merogoh tas sekolahnya dan mengeluarkan sekeping coklat silverking kepadaku.
"Apa ini?",tanyaku.
"Kata orang,coklat adalah mood booster terbaik",jawab Galih.
Sambil nyengir,aku mematahkan sepotong coklat.Kemudian aku mengunyahnya dengan tenang sambil melipat tangan di depan perutku yang mulai menggendut.Mungkin,karena stress aku melampiaskannya ke makanan.Hasilnya perutku mulai membesar.
"Kamu masih stress mikirin Satrio,ya?",tanya Galih.
Sambil tetap mengunyah coklat,aku mengangguk.
"Apa?",tanyaku dengan penasaran.
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu si Gendut!Hahaha!",katanya sambil tertawa.
"Hahh!Aku nggak terlalu gendut kali!Jika dibandingkan dengan si Ifa,anak kelas sebelah!",ujarku sambil mencubit lengannya.
"Iyaa,tapi dikit lagi kalau kamu nggak merubah pola makanmu.Kamu bakalan kayak Ifa.Hahaha!"
Aku mencubitnya lagi."Jahat kamu!",kataku.
"Gendut..Gendut..Genduttt!!",ledek Galih lagi.
Kemudian aku bertubi-tubi mendaratkan cubitanku ke badannya.Entah berapa kali.
__ADS_1
"Sudah..sudah..Ampun..Ampun,Ras!",kata Galih sambil terengah-engah.
"Makanya jangan suka ngeledekin orang!",cibirku.
"Sekali-sekali kamu ketawa,dong!Udah lama kamu nggak ketawa lepas!Padahal aku sangat suka sekali dengan ketawamu itu!".Galih berusaha membujukku, walaupun dia tahu kalau sahabatnya ini masih sulit untuk melakukannya.
"Terimakasih,tapi aku tidak bisa",jawabku.
"Terserah,deh!Ini sekedar saran,ya.Kalau Satrio tidak mau dihubungi,berarti dia ingin kamu melupakannya.Mungkin dia sudah dengan yang lain.Ini sudah lima bulan,loh!Mau sampek kapan kamu galau-galauan terus kayak gini!"
"Haaahhh!",aku menarik nafas panjang sambil menelungkupkan kepalaku ke atas meja."Kamu bener juga,sih.Tapi aku harus gimana coba? Bayangannya saja selalu ada di otakku!Gimana coba!!Gimana caranya?Hiks..hiks",air mataku mulai membasahi mejaku.
Galih menepuk-nepuk bahuku."Sudah..sudah..Maksud aku kamu harus move-on,Ras!"
Melihatku menangis membuat Dinda,Alfisa,dan Riyanti mendatangi mejaku.
"Kamu apain Laras,hah?",hardik Dinda.
"Ehh..Ngg..nggak,kok!Aku cuma nasehatin dia supaya move-on.Tiba-tiba aja dia nangis!",jawab Galih.
"Kamu itu kok nggak peka,sih.Laras itu masih sedih.Jangan dipaksa-paksa untuk move-on!",ujar Riyanti.
"Udah..Udah! Kalian nggak usah berantem.Ini bukan salah Galih.Dia benar.Aku memang harus move-on!",aku duduk tegap dan membusungkan dada."Mulai sekarang sudah muncul Laras yang baru.Tidak ada nangis-nangisan lagi!Tidak ada galau-galauan lagi!Aku berjanji kepada kalian!"
"Ya,gitu,dong!Gini baru Laras yang aku kenal!",ujar Galih.
Dinda,Alfisa,dan Riyanti memelukku.
"Terimakasih ya, teman-teman.Kalian selalu mendukungku!"
Tiba-tiba Galih juga datang sambil merentangkan tangan ingin ikut pelukan juga.Tapi dihentikan oleh Dinda."Eitssss,bukan muhrim!!"
__ADS_1
"Hahahaha".Kamipun tertawa bersama-sama.