
Kala dengan cepat menggendong tubuh Maira menuju mobil dimana Marvin ada di balik kemudi mobil itu.
"Kamu masuk dulu Sen.."ujar Kala pada Senja.
Tanpa mengucapkan sepatah kata Senja menuruti omongan Kala.Setelah terlihat Senja duduk di bangku penumpang dengan Sita disampingnya memangku Arsen akhirnya Kala menyerahkan Maira ke pangkuan Senja lalu langsung menutup pintu mobil dan dia masuk ke dalam mobil,duduk di samping supir.
Kala menginginkan kedua sahabat nya yang masih berdiri diluar rumah.
"Kalian tunggu dirumah.."ucap Kala singkat dan memberi kode Marvin untuk melajukan mobilnya.
Dengan cepat Marvin menancap gas dan mobil mulai bergerak meninggalkan rumah Senja.
"Bunda,Maira.." ucap Arsen lirih
"Adek nggak papa nak,doain yaa..semoga Maira cepet sembuh." ucap Senja dengan mendekap Maira ,dan menghapus air mata Arsen.
" Aku takut Bun.."ucap Arsen dengan memegang tangan sang bunda.
"Arsen mau sama daddy?"tanya Kala dengan menpleh pada anaknya seperti ketakutan.
Arsen mengangguk cepat.Dan dengan perlahan Arsen pindah ke bangku depan duduk di pangkuan Kala.
"Yaa..Allah sembuhkanlah anakku.." batin Senja mencium kening Maira bertubi-tubi
"Istighfar Senja, Insyaallah Maira nggak kenapa-napa." ucap Sita menenangkan sahabatnya dan diangguki Senja
Sampai di Lobby Rumah Sakit,Kala lebih dulu keluar bersama Arsen.
"Abang turun dulu yaa..nanti di gendong Om Marvin,Daddy tolong bunda gendong adek..kasihan bunda keberatan."bujuk Kala pada Arsen.
Arsen pun akhirnya mengangguk mengiyakan perkataan sang Daddy.
Kala dengan cepat mengambil alih tubuh Maira dalam gendongan nya dan langsung melangkah masuk dalam Rumah Sakit dan tubuh Arsen dengan sigap di gendong oleh Sita.
"Abang sama Aunty dulu yaa.." ucap Sita.
"Iya aunty..adek kasihan." ucap Arsen lirih.
"Doain adek cepet sembuh yaa.." pinta Sita dan ditanggapi Arsen dengan mengangguk.
__ADS_1
Kala membawa Maira ke IGD dan Dokter pun sigap menanganinya.
Kala menunggu dengan cemas mondar mandir di depan pintu ruangan IGD namun, pandangannya jatuh pada Senja yang bersandar di tembok dengan pandangan kosong.Kala dengan perlahan menghampiri Senja dan segera menarik tangan Senja sampai tubuh mereka pun saling berdekatan.Kala memeluk tubuh Senja,enath keberanian dari mana Kala melakukan hal itu,karena sebelumnya dia masih takut dengan respon Senja jika dia menyentuh Senja.Namun, tak disangka Senja pun membalas pelukan Kala.Sita dan Marvin saling pandang melihat kedua sahabat mereka saling menguatkan. Tak lama Kala merasakan jika tubuh Senja bergetar.Senja menumpahkan tangisnya dalam rengkuhan Kala.
"Sabar..tenang yaa..ada aku..kamu nggak sendiri."ucap Kala lirih dengan mencium pucuk kepala Senja bertubi-tubi.
Entahlah apa yang mereka rasakan saat ini,yang jelas keduanya sebagai orang tua tentu saja merasa khawatir dengan keadaan sang putri yang biasanya cerewet sekarang tiba-tiba sakit tak ada kata yang terucap dari bibir cerewet nya itu.
"Aku nggak bisa jaga Maira ..aku gagal.." ucap Senja lirih..
"Sssttttt...kamu jangan bilang begitu,kamu bunda nya yang hebat.Buktinya kamu sudah melewati enam tahun bersama mereka tanpa aku..Maaf..pasti susah banget ngurus mereka berdua tanpa ada aku di samping kamu."ucap Kala dengan masih mendekap tubuh Senja.
Hanya anggukan kecil yang bisa Senja lakukan,terasa nyaman untuk dia cepat tersadar . Ada rasa tak rela untuk melepaskan pelukan hangat itu.
"Daddy,bunda..hiks..hiks.."
Ucapan Arsen menyadarkan kedua orang yang sedang menyelami rasa rindu yang membuncah.
"Iya sayang..maafin bunda.." jawab Senja dan mengambil tubuh Arsen dari gendongan Sita.
"Maira nggak papa kan?" tanya Arsen..
Sebelum Kala atau Senja menjawab pertanyaan sang putra ternyata pintu ruangan IGD terbuka.Disana menampakkan seorang dokter yang baru saja menangani Maira.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok..?"tanya Kala saat melihat kehadiran sang dokter.
"Keadaan nya lumayan baik,kami sudah memberikan obat penurun panas dan dia demam karena kelelahan sepertinya dia tertekan juga." terang sang dokter
"Tertekan maksudnya?"tanya Senja
"Kemungkinan ada yang anak anda pikirkan,bisa jadi dia korban bullying..dia sempat meracau..."Maira punya Daddy,Daddy Maira ada." itu yang dia ucapkan.Jadi saya harap,jangan biarkan dia stres." terang Dokter itu.
"Lalu sekarang apa boleh kami lihat anak kami?" tanya Kala pada sang dokter
"Bisa tuan,tapi.. setelah kami tempatkan di ruang rawat.Karena Nona Maira perlu perawatan satu sampai dua hari."ucap sang dokter
"Baik dok, terima kasih atas bantuannya."ucap Kala dengan wajah serius
"Sama-sama pak,itu sudah menjadi bagian tugas saya.Kalau begitu saya permisi.."ucap Dokter dan Kala menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
Kala dan Senja serta Sita dan Marvin melangkah menuju kamar rawat Maira.
Arsen yang masih setia dengan tubuhnya di dalam gendongan Senja.
Mereka masuk dalam kamar rawat Maira,terlihat Maira yang tidur dengan wajah pucatnya.serta di tangannya terpasang selang infus .
"Princess Daddy cepet sembuh yaa..nanti kita main sama Abang juga." ucap Kala dengan mencium tangan sang putri.
"Bunda aku mau duduk di sana." ucap Arsen menunjuk brankar Maira.
Senja dengan perlahan mendudukkan tubuh Arsen di brankar yang sudah ada tubuh Maira terbaring disana.
"Maafin bunda ya..nak,karena bunda kamu sakit..bunda nggak bermaksud ingin melihat kamu sedih ,tapi..bunda egois nak..maafin bunda ..hiks hiks hiks.." ucap Senja dengan mencium pucuk kepala Maira dan sudah tak tertahankan lagi air matanya mengalir dari mata indahnya.
"Senja ,ini bukan salah kamu...semua ini awalnya dari aku,kamu jangan pernah salahkan di kamu sendiri."ucap Kala dengan membelai lembut kepala Senja yang masih terbalut hijab.
Senja menatap Kala dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Seperti nya kalian butuh waktu untuk kalian bicara,setelah Maira bangun aku harap kalian punya waktu untuk saling bicara.Ini bukan demi kalian tapi,demi anak kalian.."ucap Sita tiba-tiba
Senja menatap sahabatnya dengan lekat.
Wajah yang cantik,polos tanpa riasan menampakkan kekhawatiran juga ketakutan.
"Senja ,jangan pernah menyimpulkan apapun sebelum kamu tahu kebenaran nya.Dulu kamu orang yang bijak,jadi kembali lah pada dirimu sebenarnya."tutur Sita..
Tok tok tok..
Mendengar pintu ruangan di ketuk Marvin dengan cepat membukanya dengan lebar dan nampak Ali,Viana juga Naima di depan pintu.
"Senja,ada apa dengan Maira?"tanya Ali yang terlihat cemas.
"Demam kak.."jawab Senja dengan singkat.
"Maaf ya Sen..aku nggak kerumah-rumah dari kemarin."ucap Viana dengan wajah bersalah.
"Nggak papa Vi... Maira kecapean aja ,suruh istirahat satu sampe dua hari."ujar Senja
Ali menatap wajah orang yang ada di kamar rawat itu ada rasa terkejut saat melihat Sita dan Kala berada di ruangan itu,ternyata mereka sudah bergerak sejauh ini,namun..ada rasa lega di hati Ali melihat interaksi Arsen dengan Kala yang terlihat manja.Anak yang selama ini terlihat dingin dan datar saat ini berubah jadi bocah kecil yang manja.
__ADS_1
Bersambung