
"Daddy kenapa adek nggak bangun-bangun?"tanya Arsen dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang Daddy.
"Adek habis minum obat,jadi..perlu istirahat. Sebentar lagi juga akan bangun,Abang..mau mau pulang sama aunty Sita?" tanya Kala dengan lembut pada anak leki-laki nya.
"Abang mau disini jagain adek,kalau adek sakit pasti Abang jagain,kalau adek bangun pasti cari Abang." jawab Arsen dengan wajah sedihnya
Kala sangat terharu dengan kedua anak-anak nya,mereka saling menjaga dan memang mungkin karena mereka kembar jadi lebih sensitif dengan emosional satu sama lain,perasaan mereka seperti terpaut.saat bahagia keduanya akan bahagia sama-sama dan juga kalaupun sedih mereka akan juga merasakan sedih bersama.
"Masyaallah..pinter banget sih..anak Daddy, terima kasih yaa..Abang sudah jadi anak baik,bisa jagain bunda sama adek.Daddy sayang Abang juga adek."
"Sayang bunda juga kan?"tanya Arsen dengan memandang wajah sang ayah lekat.
Pertanyaan yang di ajukan Arsen membuat Kala melihat ke arah dimana Senja duduk.
"Pasti lah, sebelum ada adek sama Abang juga Daddy sayang banget sama bunda." ucap Kala dengan senyuman manis terpancar dari bibirnya
Senja mendengar penuturan Kala malah terkesan acuh,dia hanya terus memperhatikan kondisi sang putri.
"Oh yaa...mulai sekarang Daddy janji yaa..jangan tinggalkan kita lagi,jangan sibuk-sibuknya kerja terus.Kita kan rindu.." ucap Arsen membuat para sahabat mereka pun merasakan keharuan yang tercipta oleh anak dan bapak itu.
Arsen terus saja berceloteh tentang apa saja,sampai semua orang yang ada di ruangan itu berfokus pada keduanya.
Ali dan Viana juga Naima sudah kembali lagi ke kediamannya ,setelah tahu ada yang menemani Senja menjaga Maira.Ali pun tak banyak bicara dengan apa yang tadi tersaji di depan matanya.Ada rasa lega kalau Kala sudah berada di samping Senja namun,dia tahu Senja butuh bicara berdua dengan Kala.
.
.
.
Malam hari,setelah tadi Sita dan Marvin sempat pulang untuk membawa baju ganti untuk Kala,Senja dan dua anaknya kini ketiga sahabat Kala ada di sana bersama Sita.
Kamar rawat Maira pun kini lebih luas lagi karena Kala memindahkan ke ruang VVIP Rumah Sakit itu.
"Daddy.." panggilan itu terlontar dari bibir mungil Maira yang saat ini terbaring di atas brankar Rumah Sakit.
"Iya sayang , daddy di sini..apa yang adek rasain?"tanya Kala dengan lembut.
__ADS_1
"Pusing dad.."adunya.
"Sini...Daddy pijit yaa,jangan nangis dong princess Daddy.." ucap Kala dengan duduk di atas brangkar yang di tempati Maira.
"Bundaa.." panggil Maira dengan lirih.
"Iya sayang..bunda sebentar lagi selesai siapin Abang , sebentar yaa.."ucap Senja yang masih menyuapi Arsen.
"Adek mau makan..Daddy siapin yaa?"tawar Kala.
"Nggak mau ,maunya sama bunda."tolak Maira.
"Ya sudah .. jangan nangis lagi,nanti tampah pusing."
Senja yang selesai dengan menyuapi Arsen kini beralih pada Maira.Sudah biasa situasi seperti ini jika salah satu dari mereka sakit,pasti keduanya akan berlaku manja pada Senja.
Kala melihat jelas wajah lelah Senja karena kedua anaknya tak mau melepaskan Senja,Padahal tadi sebelum Maira bangun Arsen dengan sikapnya tak semanis sekarang.
"Abang ikut Daddy yaa..bunda berat,adek juga susah nanti tidurnya."bujuk Kala
Namun,hanya ada tatapan sedih dengan mata berkaca-kaca di tunjukkan oleh Arsen.
"Pasti kamu kerepotan mengurus mereka..,maaf..."ucap Kala dengan wajah sedih.
Mendengar ucapan Kala membuat Senja sejenak menghentikan kegiatan nya. Memandang wajah Kala yang sudah terlihat lelah.
"Kamu makan malam saja dulu,lalu istirahat..aku nggak papa,sudah biasa."ucap Senja santai dan melanjutkan menyuapi Maira.
Kala tak menjawab omongan apapun yang dilontarkan Senja ,dia mengambil alih Arsen yang terlihat sudah mengantuk dalam pangkuan Senja.
Untung saja Arsen merespon dengan baik dan mau bersama Kala , akhinya Kala membaringkan tubuh Arsen di brankar tambahan yang sengaja di minta Arsen pada pihak Rumah Sakit.
Senja meladeni Maira yang masih terlihat uring-uringan,dan sementara itu Arsen sudah terlelap dalam pelukan sang Daddy di atas brankar
Maira pun sama tak lama pun setelah meminum obat dia lama kelamaan terlelap tidur.
"Ehhhh.. mereka sudah tidur?' tanya Sita yang baru masuk ke ruangan itu bersama tiga cecunguk.
__ADS_1
"Iyaa ..biasa kalau salah satu sakit , dua-duanya manja."jawab Senja.
"Kamu ibu yang hebat Senja, dengan segala kesulitan dan juga nggak ada bantuan dari keluarga kamu bisa melewati semuanya."ucap Sita .
"Harus lah..mereka anak-anak aku Ta.."jawab Senja dengan Mandang wajah polos kedua anaknya.
"Berhubung anak dua kembar tidur,kalian makan dulu gih.."ucap Atharva
"Iya bener tuh,tenang ada kita berempat jagain duo bocil ini ."sambung Rayyan
" Yuk..Sen,ada yang mau aku omongin juga sama kamu."ajak Kala.
"Sudah sana,kalian memang butuh ngobrol berdua.biar semuanya clear.Kasian sama kedua anak kalian.Sakitnya Maira bisa jadi karena kalian yang masih seperti ini."ungkap Sita
Senja menatap Kala singkat.dan mengiyakan perkataan Sita.Semua nya merasa lega karena Senja mulai bisa kompromi.
.
.
.
Kini Kala dan Senja menyusuri koridor rumah sakit menuju kantin.Namun,sayang kantin untuk makanan berat sudah habis dan akhirnya Kala mengajak Senja keluar dari Rumah sakit,tak jauh dari sana ada semacam street food yang banyak menjajakan makanan yang buat mereka kenyang malam ini.
Kala dan Senja akhinya memutuskan untuk duduk di taman Rumah Sakit setelah membeli beberapa makanan ,ada burger, chicken dan juga ada salad.
"Makanlah ,kamu dari siang belum makan kan?" ucap Kala menyodorkan sebuah burger pada Senja.
"Hemmm.."jawab Senja dengan mengambil burger itu dari tangan Kala.
"Aku minta maaf karena kesalahan yang aku perbuat membuat anak-anak dan kamu susah.Harusnya aku jelaskan semuanya kekamu, biar kamu nggak salah paham dan ninggalin aku."
"Mau kamu jelasin apa lagi,semua sudah aku dengar waktu itu.Kamu bilang pada sahabat kamu kalau menikahi ku karena posisi CEO yang kamu inginkan."
Kala memiringkan tubuhnya menghadap Senja yang tertunduk dan terlihat jelas jika Senja mengusap air matanya yang jatuh.
Sesak rasanya saat Kala melihat Senja yang lagi-lagi menangis karena dirinya.Dirinya akui jika dia seorang pecundang yang tak bisa berkata jujur dengan apa yang sebenarnya dia rasakan dulu ,sampai sekarang tanpa Senja di sisihnya.
__ADS_1
Bersambung
Maaf jika up nya sedikit lambat karena memang harus bagi waktu