
Seorang laki laki dengan wajah datar dan dinginnya memasuki kelas. Aura menjadi tegang seketika. Mahasiswa yang tadinya mengobrol langsung diam menghadap ke depan. Julukan dosen killer sudah melekat padanya padahal baru beberapa hari mengajar di kampus ini. "Selamat pagi." Sapanya sembari meletakkan laptop dan buku di atas meja. "Pagi Pak." Jawab semuanya kompak. "Mahasiswa di bangku itu mana? Sejak kemarin saya mengajar tidak ada." Tanyanya. Lidah mereka kelu. Tak bisa menjawab. Hanya bisa mengumpati gadis pembuat onar yang lagi lagi bolos kelas. "Tidak ada yang tau?" Suara itu membuat mereka tersadar seketika. "Mungkin sedang ada keperluan Pak." Jawab Seorang gadis takut takut. "Siapa namanya?" Tanya Devan sambil meraih pena dan buku catatannya. "Celina pak." Jawabnya. Laki laki itu mengangguk setelah mencatat nama itu dalam buku dan ingatannya kemudian segera memulai kelas.
Gorden sebuah kamar mewah terbuka lebar membuat cahaya matahari yang cukup terang masuk memaksa gadis yang masih tertidur pulas itu membuka matanya. "Kamu ke kampus nggak? Sudah jam delapan ini." Kata Seorang wanita menarik selimut putrinya. "Jam berapa Ma?" Tanyanya lagi membuat sang Ibu mengulang jawabannya yang tadi. Celin mendudukkan tubuhnya dengan cepat. Ia beranjak turun dari ranjang kemudian berlari menuju kamar mandi. "Astaga anak itu." Gumam Mama Celin menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
"Celin berangkat Ma." Ucapnya menyambar susu kotak lalu memasukkan ke dalam tas beserta roti isi yang sudah disiapkan wanita cantik itu. "Hati hati." Teriak Mama Celin melihat anak gadisnya melesat pergi setelah mencium punggung tangannya.
__ADS_1
Sebuah motor sport hitam terparkir di halaman kampus. Seorang gadis membuka helmnya lalu berlari dengan tergesa gesa mengabaikan rambut coklat terangnya yang berantakan. "Permisi." Ucapnya di sepanjang perjalanan karena selalu bersenggolan dengan beberapa orang.
Celin menatap celah kaca di kelasnya. Disana sudah ada dosen yang menjelaskan materi. Ia telat telak memutuskan untuk duduk di bangku di sebelahnya sambil menunggu dosen itu keluar. Daripada masuk dan kena makian gadis itu memilih langkah aman untuk memakan sarapannya.
Pintu ruangan terbuka membuat Celin yang minum susu kotak mendongak. Tatapan dua orang terpaku sejenak. "Cantik." Batin Devan mengamati wajah sempurna bak Dewi Yunani di depannya. Rambut hanya diikat asal sedikit berantakan membuatnya sangat cantik dengan rona pipi, hidung mancung dan manik biru indah yang sempurna.
__ADS_1
"Celin. Kamu nggak papa?" Tanya Sandra memeluk sahabatnya. "Memangnya kenapa?" Tanya Celin melahap rotinya yang belum habis. "Tadi kamu diintrogasi sama Pak Devan kan?" Gadis itu mengangguk. "Ke kantin yuk. Pen makan bakso." Ajaknya berdiri meninggalkan teman temannya yang masih melongo. "Dasar. Kita yang panik dia santai saja." Gerutu Sandra mengejar sahabatnya.
Mata elang Devan mengamati segerombolan mahasiswa yang sedang asyik makan sambil bersenda gurau. Bukan mengamati semuanya. Ia hanya mengamati seorang gadis cantik yang lahap memakan bakso. Wajahnya tampak memerah sedang kepedasan. Teman temannya begitu antusias memberikan minum.
"Heh. Pak Devan lihatin kita. Kalian ngerasa nggak sih?" Tanya Sandra pada teman temannya. "Mana?" Gilang menelisik sekitar hingga manik matanya melihat wajah dingin itu menatap ke arah tempat Ia dan teman temannya berada. "Iya." Ucapnya tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Masalah orang itu apa sih? Wajahnya datar kaya triplek. Ganteng sih lumayan. Tapi dinginnya itu lo bikin beku." Ucap Sandra. "A...." Celin membuka mulutnya meminta Sandra menyuapi nugget yang sedang di makan temannya itu. "Haish...Mama kamu pasti ngomel kalau tau anaknya makan bakso pake sambel sebanyak ini. Lihat. Biji cabenya mengambang banyak banget." Celin tak peduli dengan celotehan Sandra memilih melanjutkan makannya dengan khidmat.
__ADS_1
Seorang gadis berdecak merasakan cubitan di pipinya. "Berhentilah menggangguku." Kesalnya menepis tangan Zahra kakaknya. "Kamu tidak boleh minum soda Dek." Ucapnya menegur. "Apa yang boleh aku lakukan. Semuanya kan tidak boleh." Jawab Celine pergi dari sana. "Kenapa lagi?" Tanya Papa baru datang bersama istrinya. "Biasa Pa." Jawab Zahra sambil menghela napas.
Celin duduk di kursi tempat biasa Ia menghabiskan waktu dan menghasilkan pundi pundi rupiah. Gadis itu menghela napas pelan sembari memasang headphone menunggu komputer di depannya menyala. Ia teringat di masa lalu. Hubungannya dengan sang kakak tidaklah baik. Baru 3 tahun belakangan ini sikap Zahra baik padanya. Sejak dulu Ia tak pernah di anggap adik. Perlakuannya pada Celin begitu buruk sampai Ia dikatai anak pembantu karena Zahra mengatakan itu pada teman temannya. Mama dan Papa Celin bilang jika kakaknya belum siap memiliki adik oleh karena itu bersikap demikian. Namun bagi Celin tidak ada alasan apapun untuk memakluminya. "Persetan dengan belum siap. Bilang saja tidak menginginkanku hadir." Umpat gadis itu tak sadar di dengar oleh Zahra yang berdiri di dekat pintu. "Maafkan Kakak." Gumamnya sembari membawa kembali makan siang untuk sang adik.