
Devan duduk menunggu istrinya yang masih belum keluar dari kelas. Pria itu mendongak saat sepasang kaki tiba tiba berada di depannya.
"Kenapa lama sekali?" Tanyanya tanpa basa basi langsung memeluk dan memberikan ciuman pada sang istri.
"Nggak tau malu. Ini di kampus." Kesal Celin melepaskan tubuh kekar suaminya kemudian berjalan pergi.
"Yang. Kenapa ngambek begitu?" Devan tak berhenti bertanya di sepanjang perjalanan menuju parkiran.
"Yang. Jalannya hati hati. Nanti kesandung." Ucapnya menuturi sang istri.
"Bukain mobilnya." Celin tak menanggapi ingin segera pulang saja.
Sepanjang perjalanan Celin hanya diam. Sebenarnya Ia tak marah. Ia hanya mengerjai suaminya yang menyebalkan itu. Membuat Devan kewalahan merupakan hiburan tersendiri baginya.
"Jangan marah dong Sayang. Kamu mau apa aku belikan." Bujuknya berkali kali dan baru di setujui istrinya sekarang.
"Mau mie ayam sama es kelapa muda." Jawab Celin enggan menatap sang suami.
"Kan sudah dibilang jangan jajan pinggir jalan."
"Ih... Yaudah kalau nggak mau belikan."
"Yasudah aku belikan. Kamu tunggu di mobil saja." Devan trauma istrinya di goda orang tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.
"Enak banget ya?" Tanya Devan menyuapi istrinya setelah sampai di rumah. Ia makan masakan Celin dan Celin makan mie ayam yang dibelikan suaminya tadi.
__ADS_1
"Enak banget. Ini langganan aku." Jawab Celin.
"Makasih ya... Lain kali belikan lagi."
"Masa cuman terimakasih. Cium dong." Celin mengangguk kemudian segera menuruti permintaan sang suami dengan mencium singkat di pipi.
Cuaca begitu terik hari ini. Celin duduk di balkon bersama suaminya menikmati angin semilir yang bertiup.
"Besok aku ada latihan."
"Latihan apa?" Tanya Devan mengupas kepala istrinya.
"Muaythai. Besok aku ke kampusnya bawa mobil sendiri aja."
"Bareng aku. Aku antar."
"Aku kasih tugas aja ke mahasiswa. Aku tinggal bilang kalau mau antar kamu."
"Mana boleh begitu. Nggak ah. Kita berangkat sendiri sendiri. Kamu tuh mengemban tugas ya harus di laksanakan dengan baik. Ini malah mangkir pakai alasan mau antar istri segala. Malu maluin."
"Iya Sayangku. Kamu hati hati. Jangan genit. Jangan senyum sama yang lain." Devan mewanti wanti.
Celin mengurungkan niat untuk menemui kedua orang tuanya yang sedang berkunjung saat tau sang Kakak juga turut hadir.
"Dek. Kakak minta maaf." Ucap Zahra mampu menghentikan langkahnya yang hendak beranjak pergi.
__ADS_1
"Sudah cukup. Jangan temui aku lagi. Sadarkah kamu telah keterlaluan Kak? Aku selama ini diam memaafkan dan memaklumi semua yang kamu lakukan sejak aku kecil hingga sekarang. Namun yang terakhir itu tidak bisa aku lupakan. Kamu benar benar membuatku sadar jika kamu membenciku bukan pura pura. Kamu mengatakan itu dengan sungguh sungguh. Maaf jika kamu merasa semua yang seharusnya kamu miliki aku ambil. Tapi sebanyak apapun itu aku rasa tidak sebanding dengan apa yang kamu miliki selama ini. Teringat jelas saat aku masih kecil. Ingin sekali di peluk seorang kakak seperti yang lainnya. Namun sampai saat ini pun aku tak dapat. Cita cita sederhana yang tak pernah ku dapat. Dan sekarang aku tak menginginkannya lagi." Celin menangis pilu. Tangisan begitu menyayat hati yang baru pertama kali mereka saksikan. Gadis yang biasa cuek dan tegas itu kini terlihat begitu rapuh. Devan buru buru mengajak istrinya pergi untuk di tenangkan.
"Dev. Bantu aku bicara dengannya. Aku benar benar minta maaf." Ucap Zahra dengan sungguh sungguh saat iparnya kembali.
"Lain kali saja. Beri istriku waktu. Jangan membuatnya tertekan." Jawab Devan dengan wajah datar seperti biasa.
Malam hari Devan mengajak sang istri untuk menginap di rumahnya berharap suasana hati Celin akan membaik. Pria itu sudah berada di dapur untu membuatkan susu hangat. Di rumah Devan memang tidak ada asisten rumah tangga. Pria itu tidak terbiasa hidup dengan orang asing. Pekerja akan datang untuk bersih bersih kemudian kembali pulang setelah segala sesuatu beres. Hanya ada beberapa satpam yang berjaga di depan. Selebihnya Devan hanya tinggal sendiri.
"Terimakasih." Ucap Celin langsung meminum susu hangat yang di buat suaminya.
"Aku punya sesuatu untuk kamu. Harus di pakai. Aku tunggu." Devan tersenyum memberikan kotak hadiah untuk sang istri.
Celin menghampiri suaminya. Ia begitu risih memakai lingerie seperti ini namun Devan yang terus memaksa membuatnya pasrah dan menuruti.
"Kamu sangat cantik sayang." Devan tersenyum memuji istrinya. Tak banyak basa basi pria itu menarik tangan Celin membuat wanita itu terjatuh di ranjang. Ia mengungkung tubuh sang istri kemudian mencium bibir indah yang selalu menjadi candu baginya.
Devan memeluk istrinya yang masih polos terbungkus selimut setelah kegiatan panas mereka berakhir beberapa menit yang lalu. Pria itu tak berhenti mengungkapkan rasa cinta dan terimakasih pada Celina.
"Besok jadi latihan?" Tanya Devan.
"Jadi. Sudah janji sama pelatih."
"Kalau aku bilang kamu nggak boleh pergi gimana?"
"Ih.. Tadi kan sudah bang boleh. Kenapa berubah lagi?"
__ADS_1
"Iya iya. Jangan sedih." Devan tersenyum mengecup kepala sang istri.