Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Jangan Buat Aku Marah


__ADS_3

Celin mengambil Paper bag yang ada di atas meja. Ia sudah selesai bersiap akan langsung menuju kantor suaminya untuk mengantarkan makan siang pria itu. Ya beberapa hari ini Celin memang rutin menemani suaminya ke kantor. Namun hari ini Ia malas untuk pergi pagi jadi Celin di rumah namun juga harus menyusul untuk mengantarkan makan.


"Kita berangkat sekarang Pak." Ucap Celin pada pak supir yang sedang menunggu.


"Apa Nyonya sudah meminum vitamin dan susu?" Tanya Pak David memastikan sesuai dengan perintah Tuannya.


"Sudah Pak." Jawab Celin sambil tersenyum.


Setengah jam perjalanan Celin telah sampai. Wanita itu berjalan santai memasuki kantor suaminya. "Selamat datang Nyonya." Ucap para karyawan ramah menyambut kedatangan Celin.


"Terimakasih." Ucap Celin tersenyum ramah membalas mereka semua.


"Nyonya mau kami antar?" Tanyanya menawari.


"Tidak terimakasih. Saya pergi sendiri saja." Jawab Celin.


"Sayang." Devan berhambur memeluk istrinya saat wanita itu memasuki ruangan.


"Makan siang kamu." Celin mengangkat paper bag yang Ia bawa.


"Iya. Ayo duduk dulu." Devan menggandeng tangan sang istri untuk diajak duduk di sofa.


Celin tersenyum menyuapi suaminya yang makan begitu lahap.


"Pulang nanti mampir dulu buat belanja ya." Ucapnya membuat Devan berhenti mengunyah. Pria itu tak habis pikir. Ia sudah mendatangkan banyak orang untuk melayani semua kebutuhan namun istrinya tak tinggal diam. Ini itu Celin biasa curi curi kesempatan untuk mengerjakan sendiri. Apa susahnya jadi nyonya hanya duduk cantik tinggal memerintah? Devan benar benar tak habis pikir.


"Apa gunanya aku punya pembantu kalau kamu juga harus belanja."


"Ya sekalian pulang kan melewati swalayan."


"Suruh orang saja kamu nggak perlu capek capek belanja."


"Ih bosen. Masa keluar nggak boleh mau belanja juga nggak boleh."


"Yasudah iya." Devan pasrah menuruti keinginan istrinya.


"Wih... Makan nggak ajak ajak." Rendi menerobos masuk ke ruangan bosnya lalu ikut duduk.

__ADS_1


"Buat aku nggak ada Cel?" Tanyanya.


"Ada. Masih satu kotak itu Om makan saja."


"Itu punya istri aku. Beli makan siang sendiri saja sana."


"Nggak papa Om. Makan aja. Aku masih kenyang kok. Tadi sebelum berangkat makan puding."


"Makasih ya." Jawab Rendi langsung mengambil kotak makan di meja lalu mulai memakannya.


"Kamu masak sendiri?"


"Iya Om. Nggak enak ya?"


"Enak kok. Enak banget. Lain kali bawa lagi."


"Bisa bisanya nggak tau diri begitu. Dia istri aku kamu suruh suruh. Minta sama istri kamu sana."


"Mau jadi mantan. Mana pernah dia masak. Pulang saja jarang. Ke dapur nggak pernah. Anak aku malah pernah tanya. Mama masih hidup kan Pa? Gitu saking parahnya."


"Dia jadi model. Sukanya kelayapan entah kemana. Aku sudah ajukan gugatan cerai. Lagian dia ketahuan selingkuh sih. Kalau masalah ga pulang atau nggak bertanggung jawab masih bisa di maafkan. Lah ini selingkuh pula. Ya aku nggak bisa mentolerir. Mana selingkuhnya berkali kali. Bodohnya aku."


"Kamu memang bodoh kenapa baru bilang sekarang. Lalu hak asuh anak jatuh ke siapa?" Tanya Devan.


"Ya pasti aku. Mana mau dia sama Mamanya."


"Om menghadapi begitu santai banget."


"Ya mau bagaimana lagi. Aku udah pasrah dan ikhlas. Tinggal jalani apa yang tuhan kasih." Devan menepuk punggung sahabatnya untuk memberikan kekuatan. Ia turut prihatin dengan kisah kehidupan Rendi yang begitu rumit. Bukan hanya sekali ini istri pria itu selingkuh. Namun berkali kali dan Rendi masih memaafkan karena kasihan pada anaknya ketika orang tua berpisah. Entah bagaimana kesabaran pria itu akhirnya habis dan memilih jalan pisah untuk mengatasi semua.


Seperti yang telah di sepakati kini Devan menemani istrinya yang sedang belanja di salah satu pusat perbelanjaan dekat kantor. Pria itu mendorong troli mengikuti istrinya yang sedang memilih segala kebutuhan.


"Beli buah sama sayur jangan lupa." Ucapnya mengingatkan.


"Iya." Jawab Celin memasukkan beberapa brokoli, selada dan wortel yang merupakan sayur kesukaan suaminya. Ia sendiri heran tiap hari Ansel harus makan salad buah ataupun sayur. Apa pria itu tidak merasa bosan atau eneg sama sekali? Celin yang membayangkan saja mual.


"Mau apa itu?" Tegur Devan melihat istrinya ke bagian snack.

__ADS_1


"Mau keripik kentang. Sudah lama nggak makan."


"Nggak. Sudah aku belikan cemilan sehat khusus untuk kamu. Jangan makan sembarangan lagi."


"Itu nggak ada rasanya. Bosan tiap hari makan begitu."


"Demi kebaikan kamu juga sayang. Nurut saja kenapa sih. Ayo pulang. Nggak ada lagi makanan yang mengandung msg." Devan mengecup kening istrinya lalu mengajak wanita itu untuk berjalan kembali.


"Ayo mandi Yang." Devan menghampiri istrinya yang tiduran nyaman di ranjang. Pria itu ikut berbaring sembari memeluk sang istri dengan hangat.


"Nanti dulu masih malas." Jawab Celin.


"Dengar, Bunda malas mandi tuh." Devan mengadu pada anaknya yang masih dalam kandungan. Ia mengusap perut istrinya dengan lembut lalu mengecup beberapa kali.


"Mas."


"Ya Sayang." Devan kembali ke posisi memeluk istrinya.


"Bisa nggak kamu jangan berlebihan."


"Berlebihan bagaimana hm?" Tanya Devan mengusap wajah cantik sang istri.


"Ya kamu jangan kurung aku di rumah seperti ini."


"Kamu maunya bagaimana?"


"Aku mau kerja kaya dulu. Di cafe dan toko kalau foto kan aku sudah tidak bisa lagi hamil begini."


"Kalau itu aku tidak mengizinkan."


"Mas."


"Jangan buat aku marah. Kamu itu istri harus ada untuk suami. Kalau kamu kerja aku bagaimana?"


"Aku kan bisa membagi waktu."


"Apapun alasannya aku tidak mengizinkan." Ucap Devan dengan tegas menolak keinginan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2