
Celin sedang berada di cafenya melayani pelanggan yang terus berdatangan. "Oh. Kalian sudah datang." Ucap gadis itu melihat Gilang dan Sandra tiba tiba sudah berada di depannya. "Iya. Kita berangkat sekarang?" Tanya Gilang langsung di jawab anggukan.
Tiga orang itu kini sudah ada di mall. Celin kemarin berjanji akan mengajak dua orang itu untuk jalan jalan. "Horor atau action?" Tanya Celin meminta pendapat. "Komedi saja nggak ngeri." Jawab Sandra. "Nggak seru. Horor saja." Usul Gilang sambil menaik turunkan alisnya. "Ayok. Kalian tunggu sini biar aku yang beli tiket." Gilang mencekal tangan Celin. "Aku yang traktir." Ucapnya. "Nggak. Di kasih kartu sama pak Devan nih. Percuma nggak di pake. Hari ini aku traktir kalian sepuasnya." Sandra menghela napas melihat kepergian sahabatnya. "Astaga. Miris punya istri begitu." Gumamnya masih bisa di dengar oleh Gilang.
Devan sedang berada di rumah mertuanya untuk makan siang bersama. "Belum di angkat juga?" Tanya Papa melihat menantunya berkali kali menghubungi Celin. "Belum Pa." Jawab Devan sembari menghela napas lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Nanti kami akan datang ke apartemen Celin. Untuk memberi tahu dia pernikahan Zahra." Kata Papa hanya di tanggapi anggukan oleh menantunya. "Tidak usah diadakan pesta. Aku tidak menginginkannya." Ucap Zahra terkesan datar. "Kenapa?" Tanya Mama. "Tidak ingin saja." Jawab gadis itu singkat kemudian meninggalkan meja makan.
Sore hari Devan baru sampai di apartemen. Pria itu langsung masuk ke kamar. Ia tersenyum mendapati sang istri sedang fokus di depan layar komputer. Memainkan game yang sama sekali tak pernah di mainkannya. Devan mendekat kemudian mengecup pipi Celina lalu menarik kursi dan segera duduk di samping gadis itu "Kemana saja kamu di cari di cafe nggak ada. Di telfon nggak di angkat." Cerocos Devan namun tak mendapat jawaban. Merasa kesal di abaikan Ia melepas headphone yang di pakai istirnya. "Ada apa?" Tanya Celin. "Kamu kemana saja di hubungi nggak bisa?" Devan balik bertanya. "Jalan jalan. Tadi pagi kan sudah bilang." Jawabnya sembari menyandarkan punggung karena permainan sudah berakhir.
__ADS_1
Suara notifikasi dari ponsel Devan terdengar. Ia langsung membuka pesan yang baru saja masuk. Laporan penggunaan kartu yang Ia berikan pada Celin kemarin. Hanya digunakan untuk nonton dan membeli makan. Tidak habis banyak. "Kamu tadi nonton?" Tanya Devan. "Iya. Sama kak Gilang sama Kak Sandra juga." Jawabnya. "Malam ini Papa sama Mama mau datang. Kita harus siapkan makan malam." Devan memberi tahu. "Harus banget ya?" Tanya Celin langsung di jawab anggukan.
Dengan perasaan malas Celin mengeluarkan bahan bahan dari untuk segera di masak. "Aku bantu." Devan mengambil pisau segera membantu memotong kentang yang sudah di kupas istrinya. "Bapak mending cuci aja deh daripada malah rusuh." Sarannya. "Makannya kalau suami nggak bisa itu di ajari bukan di omeli. Satu lagi. Aku suami kamu. Jangan panggil begitu." Jawab Devan membuat Celin berdecak. Gadis itu memegang kedua tangan Devan dan mengarahkannya. "Potong jadi tiga dulu. Lalu dua dan potong jadi beberapa bagian begini." Jelasnya. Devan tersenyum merasakan kenyamanan dan kehangatan dalam momen ini.
"Kamu masak sendiri Dek?" Tanya Mama. "Di bantu itu." Jawab Celin menolehkan kepalanya ke samping. "Kamu bantu apa Dev?" Tanya Papa. "Potong potong saja Pa. Itu juga masih diajari." Jawabnya sambil tersenyum. "Sering sering masak bersama. Itu bisa menambah keharmonisan hubungan." Saran Mama membuat Celin seakan mau muntah.
"Aku itu suami kamu. Kenapa kamu nggak menghargai aku sama sekali. Kenapa apa apa nggak minta izin atau bilang dulu." Ucap Devan setelah kedua mertuanya pulang. "Sekarang minta izin nih." Jawab Celin. "Aku nggak kasih izin." Tegas Devan. "Nah. Makannya kan aku nggak minta izin." Ucapnya. "Jangan pergi ke mana mana." Devan memeluk istrinya dengan erat. "Ini kan sudah jadi cita cita aku." Jawab Celin. "Sekarang keadaannya sudah berbeda. Kamu sudah jadi tanggung jawab aku." Kata laki laki itu serius.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Devan melihat istrinya keluar kamar. "Mau ke minimarket." Jawab gadis itu memakai sendalnya. "Aku antar." Ia menghampiri Celin. "Nggak usah. Cuman sebentar." Tidak peduli dengan penolakan istrinya Devan langsung menggandeng tangan Celin.
Devan mengikuti istrinya sembari membawa keranjang belanja. "Jangan beli minuman bersoda." Tegurnya. "Sudah terlanjur di pegang. Kasian kalau nggak jadi di beli." Jawabnya kemudian memasukkan beberapa botol besar dan minuman kaleng juga. "Nah. Ini untuk kamu." Lanjutnya meletakkan jus jeruk dan mangga ke dalam keranjang.
"Jangan tatap istri saya seperti itu." Tegur Devan melihat kasir laki laki itu memandangi Celin yang sedang duduk tak jauh dari sana. "Maaf Mas." Jawabnya takut takut. Tanpa menjawab Devan langsung membawa belanjaannya untuk segera pergi.
"Ayo masuk. Ini sudah jam 9 malam." Ucap Devan melihat istrinya berhenti dan duduk di bangku taman. "Baru jam 9. Aku mau minum dulu. Haus." Ia mengambil minum dari kantong kresek yang di jinjing Devan dan meminumnya. "Minum di dalam kan bisa. Udara dingin. Nanti kamu sakit." Celin menghela napas kemudian segera mengikuti kemauan suaminya sebelum laki laki itu mengomel panjang lebar.
__ADS_1