
Celin dan Devan sama sama diam sejak pertengkaran mereka kemarin. Celin sebenarnya biasa saja. Namun Devan yang kesal hanya menjawab singkat apa yang istrinya tanyakan membuat gadis itu diam juga. Keduanya kini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Papa entah untuk apa Celin juga tak tau dan hanya ikut saja karena kebetulan juga tidak ada kesibukan.
"Mampir dulu ke minimarket depan." Ucap gadis itu.
"Mau ngapain?" Tanya Devan masih fokus ke jalanan.
"Beli minum haus." Jawabnya.
"Minum air putih saja. Ini ada." Celin menggeleng menanggapi suaminya.
"Nggak ah. Aku mau yang dingin dingin."
Devan menunggu istrinya yang masih membeli sesuatu. Ia sedang duduk di mobil karena Celin bersikeras untuk pergi membeli sendiri.
"Lama banget." Ucap laki laki itu melayangkan protes.
"Kasirnya antri." Celin membuka botol kemudian meneguk minuman dingin itu dengan semangat.
"Minta." Devan merebut milik istrinya segera menghabiskan tanpa sisa.
"Ini punya kamu Aku. Kamu Aku belikan sendiri. Kenapa bekas Aku kamu minum sih."
"Sudah nggak usah protes. Diminta suami saja nggak boleh. Jadi istri jangan pelit." Jawab Devan menahan tawa melihat ekspresi kesal istrinya yang begitu menggemaskan.
Sampai di rumah mertua, Devan langsung menggandeng tangan istrinya untuk diajak masuk bersama sama.
"Kita nggak lagi nyebrang kenapa gandengan." Tanya Sang Istri namun Devan memilih untuk diam tak menanggapi daripada urusan menjadi semakin panjang.
"Sayang." Mama dan Papa antusias memeluk putrinya yang begitu mereka rindukan.
"Ayo duduk. Kita ngobrol di dalam." Ajak keduanya setelah melepaskan pelukan.
Celin hanya diam dan menjawab seperlunya. Ia fokus makan tak memperdulikan mereka yang sedang mengobrol macam macam.
"Jadi kapan kita berangkatnya?" Tanya Papa kini mulai membicarakan tentang liburan bersama.
"Zahra ngikut."
__ADS_1
"Dimas juga ngikut Pa. Akhir akhir ini sedang tidak banyak kerjaan di kantor."
"Devan lagi libur semester Pa. Bulan ini longgar."
"Kalau kamu Dek?" Tanya Mama.
"Terserah. Asal jangan senin, selasa karna Aku mau camping di puncak."
"Suami kamu kasih izin?" Tanya Papa.
"Masih di pikirkan Pa." Jawab Devan belum menyetujui apa keinginan istrinya.
"Tuh. Suami kamu nggak kasih izin berarti kamu ga boleh pergi." Ucap Zahra.
"Bukan nggak tapi belum." Celin berdecak kemudian berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Devan.
"Ke depan. Mau liat motor aku berdebu atau enggak."
"Masih mulus kan. Nggak perlu khawatir. Pak Budi rawat selalu." Ucap pria humoris itu sembari duduk menikmati kopi dan kue bersama para penjaga di rumah.
"Bagus Pak. Aku bawa keliling sebentar ya." Pamitnya mulai menyalakan motor hitam metalik itu.
"Nggak pakai helm?" Tanya Pak Budi.
"Deket aja. Nggak perlu. Nanti cepat balik." Jawabnya.
"Celin mana Pak?" Tanya Mama.
"Baru keluar Bu. Katanya mau coba motor sebentar." Jawab Pak Budi.
"Anak itu ada ada aja." Ia menghela napas kemudian berpamitan untuk kembali masuk ke dalam.
Devan menatap tajam Zahra yang tak mau menyingkir dari hadapannya padahal sudah berkali kali Ia usir karena takut nanti ada orang yang melihat dan terjadi kesalahpahaman.
"Kenapa Kak Devan berubah sama Aku. Dulu sebelum kenal sama Celin Kakak nggak begini." Ucap Zahra.
__ADS_1
"Dulu belum punya istri dan dulu juga Aku belum tau sifat asli kamu yang seperti ini. Terserah kamu mau berpendapat bagaimana." Jawab Devan berbalik arah kemudian bergegas pergi.
Suara riuh dari belakang membuat Devan yang sedang mencari istrinya membelokkan langkah. Pria itu menghela napas ketika melihat Celin Voly dengan para pengawal di rumah. Devan cemburu melihat sang istri di tengah tengah para laki laki berbadan kekar nan karismatik yang tentunya juga tampan.
"Dev. Sini duduk." Ajak Dimas yang juga berada di sana menyaksikan dengan mertua. Ia mengangguk kemudian duduk di kursi kosong sebelah laki laki itu.
"Ah pak Rangga curang." Protes Celin.
"Curang bagaimana?" Tanyanya sambil tertawa melihat wajah kesal anak sang majikan.
"Tau ah. Itu tadi sudah keluar. Kenapa dihitung masuk.Keluar garis."
"Pas garis." Jawabnya tak mau kalah.
"Sudah impas. Yang menang traktir." Celin membelalakkan mata.
"Biasanya yang kalah traktir." Ucapnya.
"Kali ini beda Non." Jawab Rangga mengusap kepala Celin tak menyadari mendapat tatapan tajam dari Devan.
Semuanya sedang berkumpul menikmati pizza yang di belikan Celin. Gadis itu tampak duduk melingkar dengan pekerja di rumah. Begitu akrab tanpa memandang status sebagai anak majikan.
"Jangan banyak banyak." Devan beranjak dari duduknya menghampiri sang istri yang memang sedang duduk di bawah.
"Belum kenyang. Aku masih mau."
"Sudah makan berapa kamu?"
"Baru makan tiga." Jawab Celin melahap suapan terakhir pizza yang Ia pegang.
"Tiga sudah banyak. Tidak lagi." Devan mulai tegas karena istrinya tak makan sayur jika kebanyakan junk food takutnya akan menganggu kesehatan.
"Stop." Ia menahan tangan Celin yang hendak mengambil lagi membuat gadis itu berdecak kesal.
Devan tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur pulas dengan posisi tengkurap. Gadis itu bahkan belum bersih bersih dengan kaki menggantung keluar ranjang. Pela pelan Ia melepaskan sepatu dan kaos kaki istrinya kemudian membenarkan posisi agar nyaman. Devan menyelipkan rambut Celin ke belakang telinga. Ia mengamati wajah cantik sang istri yang tampak begitu damai dan tenang.
"Aku mencintai dan menyayangi kamu melebihi diriku sendiri. Andai cinta ini terbalas maka Aku akan menjadi orang yang paling bahagia. Namun Aku sadar jika semuanya butuh waktu. Aku akan selalu menunggu sampai kapanpun itu. I Love You istriku." Bisik Devan pelan kemudian memberikan ciuman lembut pada istrinya.
__ADS_1