
Celin menghampiri suaminya yang sedang duduk sambil membaca sesuatu.
"Mas aku keluar sebentar ya." Pamitnya.
"Mau kemana?"
"Mau ke pasar beli pisang."
"Kenapa nggak di mall aja sih. Kotor tau."
"Nggak ada di Mall. Dah aku berangkat dulu."
"Tunggu. Aku temani." Devan bergegas pergi untuk bersiap setelah mengecup kening istrinya.
Devan sedang menyetir sembari memperhatikan Map.
"Yakin ini tempatnya?" Tanyanya saat sudah memasuki area parkir pasar. Ia sedikit keberatan. Selain khawatir terjadi sesuatu pada mobil mewahnya, Ia juga khawatir dengan istri dan juga diri sendiri jika berada di tempat kumuh seperti ini.
"Iya. Ayo turun." Ajak Celin bergegas membuka pintu.
Celin mulai berbelanja. Sementara Devan selalu menggerutu sambil menggandeng tangan istrinya. Pria itu tak berhenti mengeluh tentang tempat yang pertama kali baru Ia kunjungi itu.
"Yang aku mual." Devan menghentikan langkah Celin.
"Mual? Ayo balik aja kalo gitu." Jawab Celin.
Mobil berhenti di parkiran taman. Celin bergegas membantu sang suami turun lalu membawanya ke toilet. Ia dengan telaten memijit tengkuk Devan yang sedang muntah muntah.
"Kumur dulu." Ucapnya memberikan botol air mineral yang Ia bawa.
Keadaan Devan sudah cukup membaik. Ia kini berada di dalam mobil membiarkan istrinya menggantikan Ia baju karena basah.
"Lain kali jangan ikut lagi." Ucap Celin mengelap wajah suaminya yang berkeringat dengan tissue.
"Maaf bikin repot."
"Nggak masalah. Kita pulang sekarang." Celin mulai melajukan mobil untuk segera pulang.
Sampai di rumah Devan langsung mandi dengan air hangat yang telah di siapkan istrinya sementara Celin sibuk di dapur untuk memasak makan siang.
"Sudah selesai mandinya?" Tanya Celin merasakan pelukan dari sang suami.
"Sudah."
"Duduk dulu. Itu teh hangat kamu ada di meja."
"Iya." Jawab Devan namun enggan juga beranjak meskipun istrinya sudah mengomel.
"Mau udangnya lagi Yang." Ucap Devan yang kini sedang makan disuapi sang istri.
"Suka banget sama udang."
"Iya. Lain kali kalau mau belanja jangan ke pasar lagi."
"Kan sudah di bilang pisang yang aku mau adanya di pasar."
__ADS_1
"Pisang di swalayan ada."
"Beda. Rasanya beda. Jenisnya saja beda."
"Memangnya pisang apa?"
"Pisang kepok. Itu yang aku buat pisang goreng."
"Tau ah Yang. Pokoknya aku ga mau kamu ke pasar lagi."
Devan memangku istrinya yang sedang sibuk bermain game.
"Masih lama?" Tanyanya dengan posisi memeluk.
"Sebentar." Jawab Celin tanpa mengalihkan fokus.
"Papa suruh kita berkunjung."
"Kenapa?"
"Katanya kangen sama kamu pengen ketemu. Mama juga pengen ngomong sesuatu."
"Kita kesananya sorean aja."
"Iya."
Sore hari sepasang suami istri sedang duduk menantikan seseorang. Wajah mereka tampak berbinar saat pintu utama terbuka. Mama dan Papa langsung memeluk Celin saat anaknya memasuki rumah.
"Kangen kamu Dek. Ayo duduk." Ajak keduanya. Celin hanya mengangguk mulai mengikuti langkah kedua orang tuanya masuk ke ruang tengah.
"Sampai muntah muntah?" Tanya Papa tertawa mendengar cerita menantunya yang di ajak ke pasar tradisional pagi tadi.
"Alah lebay... Baru gitu aja udah mengeluh." Sindir Celin.
"Emang tempatnya jorok Yang. Aku nggak mau datang kesana lagi."
"Bagus. Jadi aku bisa pergi sendiri."
"Ya kamu juga nggak boleh."
"Bisa bisanya."
"Mau kemana?" Devan melihat istrinya berdiri langsung mencekal tangan wanita itu.
"Mau ke belakang. Kamu ngobrol aja jangan ikut." Jawab Celin bergegas pergi.
Ruang tengah hanya menyisakan Devan dan Papa setelah Celin undur diri.
"Gimana hubungan kalian?"
"Baik baik saja Pa. Meskipun sering bertengkar tapi kami bisa menyelesaikannya dengan baik." Jawab Devan jujur pada mertuanya.
"Ya, Kamu harus banyak banyak bersabar Dev. Celin masih belia. Dia kekanakan dan keras kepala."
"Iya Pa." Balasnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Celin sedang sibuk bermain tenis. Wanita itu enggan berhenti padahal cuaca begitu terik walaupun sudah jam 3 sore. Ia yang hanya memakai kaos dan celana pendek seakan tak kenal kata lelah dan panas hingga beberapa orang yang menjadi lawannya bergantian bermain.
"Non. Suamimu datang tuh." Ucap pak Rangga melihat Devan datang memasuki lapangan.
"Biarin." Jawab Celin tak menghiraukan.
"Ayo istirahat." Ajak Devan menggenggam pergelangan tangan sang istri.
"Belum capek. Nanti. Baru juga sebentar."
"Sebentar bagaimana? Sudah dua jam lebih. Lihat semuanya juga sudah lelah ladenin kamu. Ayo masuk."
"Nanti dulu. Ayo sama kamu kalo yang lain capek."
"Nggak mau. Panas. Ayo masuk." Tanpa mendengar penolakan Devan menggendong istrinya membuat Celin mengumpat kesal.
"Mulutnya." Tegur Devan saat sudah mendudukkan sang istri di sofa.
"Kenapa?" Tanya Celin menantang.
"Nggak baik."
"Aku sudah biasa begitu."
"Mulai sekarang jangan dibiasakan."
"Hais... Minggir aku mau..."
"Mau kemana lagi?" Potong Devan.
"Mau minum. Haus."
"Tunggu sini aku ambilkan."
"Eh kenapa ini?" Tanya Celin melihat sang suami mengikat tangan dan kakinya.
"Biar kamu nggak kabur kaburan."
Devan kembali menghampiri istrinya setelah beberapa saat pergi.
"Ih kok air mineral." Celin melayangkan protes pada suaminya.
"Mau nggak? Kalau nggak mau yasudah." Jawab Devan menggoda.
"Iya. Lepasin dulu tanganku." Devan menggeleng pelan dengan permintaan istrinya. Pria itu kemudian membuka tutup botol dan membantu Celin untuk minum.
"Habis sekaligus?"
"Kan aku sudah bilang haus. Lepasin talinya."
"Iya."
"Yaampun merah begini. Maaf Yang." Devan merasa bersalah karena pergelangan tangan dak kaki istrinya memerah bekas ikatan.
"Nanti juga hilang."
__ADS_1
"Maaf. Aku hanya bercanda tadi." Devan menciumi tangan istrinya.
"Nggak papa. Awas mau mandi dulu." Celin berlari meninggalkan suaminya sebelum pria itu mengganggunya lagi.