Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Devan Yang Menakutkan


__ADS_3

Apa yang dikatakan Devan benar benar menjadi kenyataan. Pria itu tak mengizinkan istrinya untuk keluar dari kamar bahkan ponsel dan laptop Celin juga disita agar tidak bisa berhubungan dengan siapapun. Di rumah sekarang ada pelayan dan penjaga. Tugasnya untuk mencegah Celin keluar dan mengantar makanan ke kamar karena sepasang suami istri itu akan makan disana. Celin seperti hidup dalam penjara. Suaminya begitu mengerikan. Bahkan Devan juga mengatur hal hal kecil pakaian sang istri juga Celin hanya di perbolehkan mengenakan pakaian minim minim dan bahkan lingerie transparan karena Devan berkata jika pria itu menyukai sang istri jika berpakaian demikian.


Ruang kerja Devan di pindah ke kamar. Itu juga membuat Celin semakin terbatas. Tidak ada yang bisa Ia lakukan. Mengancam pun tak bisa karena Ia tak memiliki apa apa dan tenaganya pun tak bisa menandingi Devan yang seorang pria dengan tubuh kekar dan berotot. Ya walaupun jago bela diri namun entah tubuhnya lemas karena pikiran juga sedang kacau.


"Ayo makan." Ucap Devan memangku istrinya yang tampil seksi dengan dress hanya menutupi dada sampai ke satu jengkal dari pangkal paha.


"Aku tidak nyaman begini." Keluh Celin.


"Sudah aku bilang turuti saja perintah suamimu ini." Ucap Devan meremas dada istrinya sembari mengecup leher jenjang sang istri.


"Sakit. Bisakah kau jangan seperti ini. Kau menyakitiku."


"Jadilah patuh agar aku tak menyakitimu." Jawabnya mulai menyuapi sang istri.


Devan memeluk dan mencium istrinya sebelum Ia berangkat.


"Sambut aku ketika pulang nanti." Ucapnya hanya di tanggapi anggukan oleh Celin. Jujur saja Ia takut sekarang. Takut dengan suaminya yang begitu menyeramkan. Devan seperti monster. "Aku mencintaimu." Ucap pria itu bergegas pergi karena harus memimpin meeting penting pagi ini.


Celin sedang melakukan segala cara untuk kabur. Ia mencoba membuka kunci jendela dengan jepit rambut hingga memecahkan kaca namun semuanya sia sia. Tidak ada yang berhasil. Ia benar benar terkurung di sini. Ingin menghubungi seseorang untuk meminta bantuan juga tak bisa karena tidak ada benda yang bisa Ia gunakan untuk melakukannya.


Pukul 10 pagi beberapa orang memasuki kamar. Celin yakin itu adalah pelayan yang akan mengantarkan sesuatu.


"Nyonya. Saya mengantarkan cemilan dan salad buah untuk Nyonya." Ucap mereka sembari meletakkan di atas meja.


"Terimakasih." Jawab Celin. Wanita itu berjalan mendekati pintu namun pintu sudah terkunci.


"Saya mau keluar." Ucap Celin sambil mencoba beberapa kali.


"Pintu akan terkunci otomatis Nyonya. Penjaga di depan yang mengendalikannya. Kami permisi." Ucap mereka. Celin yang melihat pintu terbuka bergegas keluar. Namun langkahnya dihentikan oleh orang orang kekar yang berjaga di depan.

__ADS_1


"Jangan mempersulit kami Nyonya. Nyawa kami dalam bahaya jika Nyonya kabur." Ucap mereka memberikan pengertian sambil menunduk tak boleh melihat tubuh indah istri bosnya.


"Apa maksudnya?"


"Tuan tak segan akan membunuh kami jika membiarkan Nyonya pergi."


Sekejam itu Devan? Celin tak menyangka. Ia bukanlah orang yang egois memilih untuk masuk kembali karena tak ingin ulahnya membawa dampak negatif untuk orang lain.


Meja sudah di penuhi oleh menu makan siang yang disiapkan beberapa pelayan. Pintu kamar terbuka. Sosok pria masuk ke dalam dengan langkah tegapnya menghampiri Celin yang berdiri.


"Begini caramu menyambut suami yang baru pulang?" Tanya Devan.


"Aku harus bagaimana?"


"Berlutut." Jawab Devan.


"Sekarang mulailah berlutut untukku." Devan mengeluarkan ancamannya akan menutup cafe istrinya sehingga mau tak mau membuat wanita itu menurut.


"Bagus sayang." Ucapnya mengusap kepala Celin kemudian memberikan ciuman lembut.


Malam hari Celin sudah mengenakan gaun tidur yang dipilihkan suaminya. Wanita itu kini sedang menonton TV untuk menghibur diri yang hampir gila.


"Ayo makan." Ucap Devan ikut duduk.


"Aku tidak lapar. Aku masih kenyang." Jawab Celin jujur.


"Aku tidak menerima penolakan."


"Aku mohon kali ini saja. Aku benar benar masih kenyang."

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Devan kali ini tak ingin memaksa.


"Sampai kapan akan seperti ini?" Tanya Celin mulai menangis.


"Jika kau tidak memulai maka aku tidak akan bertindak sejauh ini." Ucap Devan memeluk istrinya.


"Kamu benar benar membuatku takut."


"Maaf. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuatmu terus bersamaku."


"Apakah kau melakukan ini pada semua wanita?"


"Tidak. Aku hanya pernah sekali jatuh cinta dan menjalin hubungan. Dan itu denganmu." Jawab Devan penuh kejujuran.


"Bisakah aku keluar? Ke balkon. Aku hampir gila karena tak menghirup udara luar."


"Baiklah."


Devan memakaikan selimut pada istrinya yang sedang duduk di sofa sambil mengamati bintang yang hanya bersinar beberapa.


"Mau minuman hangat?" Tawarnya.


"Tidak." Jawab Celin yang berada dalam pelukan suaminya. Wanita itu berpikir bagaimana cara kabur dari Devan yang menyeramkan namun tak kunjung mendapat ide.


"Apa yang membuat kamu menyukaiku?"


"Semuanya tentangmu aku suka." Jawab Devan cepat.


"Sudah cukup. Ayo masuk nanti kamu sakit." Ucapnya bergegas menggendong istrinya masuk ke dalam karena udara semakin dingin.

__ADS_1


__ADS_2