
Celin berdecak kesal. "Kenapa sih paksa aku pakai daster begini." Keluhnya. "Kamu pakai begini hanya boleh kalau di rumah saja. Di depan aku. Sekali lagi. Ini bukan daster. Ini dress." Jawab Devan tersenyum melihat istrinya begitu cantik dan sekseh dengan dress di atas lutut yang Ia belikan kemarin. "Tau ah." Kesalnya bergegas pergi ke dapur untuk memasak makan siang.
"Kenapa Hm?" Tanya Devan memeluk istrinya yang sedang berdiri di depan kulkas. "Lupa nggak belanja. Habis semua tinggal telur sama roti aja. Kamu sudah kelaparan ya? Kalo belanja dulu gimana?" Tanyanya sembari membalikkan badan. "Ayo. Tapi ganti baju dulu." Jawab Devan membuat istrinya kesal. "Baru beberapa menit aku ganti baju kamu suruh ganti lagi. Ogah." Laki laki itu menghela napas. "Kan tadi aku sudah bilang Yang, kalau kamu hanya boleh pakai seperti ini kalau di rumah." Jelasnya namun Celin tak peduli.
Devan berkali kali berdecak saat sampai di swalayan. Istrinya menjadi pusat perhatian orang orang di sekitar. Tak jarang beberapa pria menatap dengan tatapan menggoda. "Mau di makan siang pakai apa?" Tanya Celin memilih belanjaan. "Apa aja. Yang penting cepat pulang." Jawabnya singkat. "Kamu sih pakai pakaian seperti ini." Lanjut Devan. "Yang suruh aku, yang beliin aku, yang daritadi merengek minta aku pakai baju ini siapa?" Tanyanya sembari bersedekap dada. "Iya Yang, tapi kan kalau di rumah saja." Celin mendengus. "Jangan banyak protes." Kata gadis itu segera melanjutkan belanjanya.
__ADS_1
Sampai di rumah Celin langsung memasak setelah menata semua belanjaannya di kulkas. "Ini di apakan?" Tanya Devan melihat Ayam yang masih di rendam di bumbu. "Biarkan saja. Masih di marinasi." Jawab Celin. "Kamu pinter masak. Belajar darimana?" Gadis itu mengehela napas menanggapi suaminya yang banyak tanya. "Dari Bibi. Dia sudah kaya Ibu. Ajarin aku banyak hal. Termasuk masak juga." Jelasnya membuat Devan mengangguk.
Sepasang suami istri itu makan bersama. Duduk di bawah dekat jendela apartemen sembari menikmati pemandangan kota dari ketinggian. "Suapi." Kata Devan melihat istrinya begitu lahap makan dengan tangan kosong. "Makan sendiri." Jawab Celin. Devan cemberut kemudian menarik piring istrinya. "Suapi." Ucapnya. "Semakin hari semakin menyebalkan. Kemarikan." Gadis itu mulai kesal. "Suapi baru aku kembalikan." Dengan terpaksa Celin mengangguk membuat Devan tersenyum. Laki laki itu mulai makan di suapi istrinya.
"Belum kenyang Yang." Kata Devan saat nasi di piring sudah habis. "Kamu sudah makan banyak masa belum kenyang?" Tanyanya heran. "Belum. Makan di suapi kamu pakai tangan begini enak." Jawab Devan. Celin mengambil nasi lagi dan lauk pauk kemudian menyuapi suaminya. "Kamu nggak makan lagi?" Tanya Devan. "Sudah kenyang."
__ADS_1
Celin sedang duduk di bandara. Gadis itu mengamati tiket penerbangan dan paspor yang sedang di pegang. Hembusan napas kabur dari bibir mungilnya yang ranum. Ia bimbang. Namun mimpinya sudah di depan mata dan tak mungkin Ia abaikan begitu saja. Ini sudah menjadi cita cita nya. Menempuh pendidikan di negeri orang. Sebuah kesempatan emas untuk menuntaskan gelar pendidikan tertingginya yang tinggal selangkah lagi. S2 di sini tidaklah masalah. Ia mati matian mengikuti akselerasi agar bisa lulus di usia muda dan mengejar gelar doktornya di universitas impian.
Devan masih setia menunggu istrinya pulang. Ini sudah jam 5 sore namun belum ada tanda tanda kedatangan Celina. Beberapa kali laki laki itu mencoba menghubungi namun tidak juga diangkat.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Devan langsung berhambur memeluk istrinya. "Kamu dari mana saja sih?" Tanyanya begitu khawatir. "Beli burger." Jawabnya sambil mengangkat paper bag yang Ia bawa. "Kan bisa pedan saja." Ucap Devan. "Tadi sekalian mau cek cafe." Celin melepaskan pelukan suaminya kemudian berjalan dan duduk di sofa.
__ADS_1
Malam hari seperti biasa hujan turun bahkan lebih lebat dari kemarin. Celin duduk di sofa mengamati air yang berjatuhan dari langit yang gelap. Tak jaran beberapa kali kilatan juga terlihat membuat suasana semakin mencekam. "Ini diminum." Kata Devan ikut duduk sembari memberikan coklat panas untuk istrinya. "Terimakasih." Ucap Gadis itu sambil tersenyum. Devan memeluk memeluk istrinya dengan hangat. "Kamu sakit?" Tanyanya heran melihat Celin sedari pulang tadi tidak banyak bicara. "Tidak." Jawabnya sambil menggeleng. "Ada yang sedang di pikirkan. Kalau iya, kamu bisa cerita. Siapa tau aku bisa membantu. Kita suami istri. Beban kamu adalah beban aku juga." Ucap Devan mencoba memahami sang istri. "Aku tidak papa." Ucap Celin.