Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Pergi


__ADS_3

Suasana ruang keluarga begitu hening setelah semua teman teman Celin pulang. "Memangnya ini rumah kamu seenaknya bawa teman teman kamu yang urakan dan tidak berpendidikan itu." Kata Zahra menghampiri adiknya. "Kenapa menghina temanku. Mereka baik." Jawab Celin tak terima. "Banyak bergaul sama orang jalanan ya begini kelakuan kamu. Ikut balapan motor segala. Bikin malu keluarga tau nggak. Kamu memang pantas dengan mereka. Tidak pernah pantas menjadi bagian dari kami." Semua orang yang ada disana diam terkejut termasuk Devan. Ia baru tau sikap Zahra sangat dominan, kasar dan seenaknya. "Cukup. Tidak ada yang tau aku bagian dari keluarga ini. Tidak perlu kalian merasa malu." Celin pergi sembari menahan emosinya yang sudah memuncak. "Keterlaluan kamu." Kata Papa lalu menyusul putri bungsunya.


"Dek. Kamu mau kemana?" Tanya Mereka panik melihat Celin mengemasi barang barangnya di koper. "Mau tinggal sendiri. Kalian malu kan punya anak kaya aku. Tenang saja. Setelah ini kalian nggak akan malu lagi." Papa menelan ludahnya susah payah. "Dek jangan begini." Mama berusaha mencegah. "Bela terus anak kalian itu. Dia berani ngomong begitu nggak ada yang tegur kan. Nggak ada yang protes. Dari dulu memang begitu. Yang dia lakukan selalu benar dan aku selalu salah. Sudah muak dengan semua ini. Jangan pernah temui aku lagi." Celin menyeret kopernya berjalan meninggalkan kamar. "Pak Diman. Nanti kosongkan kamar aku. Antar semua barang barang yang aku beli sendiri ke apartemen." Ucapnya saat menuruni tangga. "Baik Nduk." Jawabnya tanpa banyak bertanya.

__ADS_1


Gilang sampai di rumah Celin bertepatan dengan gadis itu yang keluar sambil menyeret kopernya. "Ada apa?" Tanyanya sembari memberi pelukan hangat. "Antar aku ke apartemen." Jawab Celin. "Dek jangan begini." Ucap Mama menangis. "Ayo." Tak menghiraukan Ia langsung masuk ke dalam mobil setelah kopernya di masukkan oleh Gilang ke dalam bagasi. "Permisi Om. Tante." Ia berpamitan sebentar.


"Puas kamu." Bentak Papa pada Zahra. Gadis itu hanya menundukkan kepala. "Kamu keterlaluan Zahra." Mama Sangat kecewa. Putri yang selalu di maja sejak kecil dan di beri kasih sayang yang berlimpah mampu bersikap seperti itu pada saudara kandungnya. "Kenapa bisa sejahat ini? Dia tidak pernah mengusikmu Za." Ucap Devan ikutan kecewa.

__ADS_1


Celin menceritakan semuanya pada Gilang. "Tenanglah. Kakak disini." Ucapnya sambil memeluk untuk menenangkan. "Terimakasih Kak." Ia merasa lega karena di setiap kesulitannya selalu ada Gilang yang menemani. "Sekarang minum obat dan istirahat. Kakak jemput Bunda untuk diajak ajak kesini." Celin mengangguk patuh langsung meminum obatnya.


Bunda menatap prihatin Celin yang sedang tertidur pulas. Ia tak menyangka kehidupan Celin begitu malang. "Ada apa di luar Lang?" Tanya Bunda pelan melihat kedatangan anak laki lakinya. "Orang antar barang Bun." Jawabnya ikut duduk di pinggiran ranjang. "Bunda Kalau mau pulang pulang saja. Nanti Gilang telpon Sandra buat temani." Wanita itu menggeleng. "Bunda akan temani." Jawabnya Ia tak akan membiarkan Celin sendiri, sedih dan kesepian. Sebagai seorang Ibu Ia akan selalu menemani putrinya.

__ADS_1


Malam hari di ruang tamu apartemen Celin tampak duduk tiga orang. "Celin tetap tidak mau keluar." Kata Bunda menghampiri keluarga Miller. "Pa." Mama menitihkan air matanya lagi yang sudah tak terbendung. "Pak, Bu. Sepertinya memberikan waktu Celin untuk sendiri akan lebih baik. Biarkan dia tenang dulu. Setelah itu baru bicara. Jika masih ada emosi maka akan percuma saja. Tidak akan menemukan titik terang. Dan kalau boleh saya sarankan tolong di jaga kata katanya. Saya paham betul apa yang di katakan nak Zahra sangat melukai hati. Terlebih bapak dan Ibu diam saat dia di lukai oleh saudaranya sendiri. Tidak mendapat kasih sayang yang sama sedari kecil merupakan beban mental yang luar biasa. Lalu dengan di tambah kejadian seperti ini maka akan memperdalam luka." Jelas Bunda panjang lebar.


"Sudah kenyang Kak." Ucap Celin karena Gilang terus menyuapinya. "Berhentilah Lang. Nanti perutnya sakit." Bunda baru datang menghampiri keduanya. "Bunda sudah makan?" Tanya Celin. "Sudah. Kamu tidur tadi Bunda makan." Jawab wanita itu tersenyum kemudian mengecup kening putrinya dengan lembut. "makasih ya Bun." Ucap Celin tiba tiba. "Tidak perlu. Kamu Putri Bunda. Bunda sayang sama kamu. Apapun Bunda lakukan untuk kamu." Jawabnya penuh ketulusan.

__ADS_1


__ADS_2