Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Sakit


__ADS_3

Devan tidak berangkat bekerja hari ini karena menemani istrinya yang sedang sakit. Ia sudah memasang plester demam serta meminumkan obat cair dengan rasa manis yang di pesan dari dokter pribadinya. Celin kini sudah bisa tidur pulas membuat Ia lega setelah dari semalam terjaga.


Helaan napas kabur dari mulut Devan. Ia sebenarnya tak ingin menyakiti istrinya namun rasa takut kehilangan membuatnya harus melakukan ini. Cintanya begitu besar hingga membuat Ia melakukan segala cara untuk membuat sang istri selalu berada di sisinya. "Um.." Celin menggeliat.


"Kamu bangun sayang." Ucap Devan.


"Mau sesuatu?" Lanjutnya menawari.


"Minum." Jawab Celin. Devan mengangguk segera membantu istrinya untuk duduk lalu memberi air putih.


"Masih panas nggak. Coba cek dulu." Ucapnya menggunakan termometer digital untuk mengecek suhu tubuh sang istri.


"Masih 39." Lirih Devan ternyata panas istrinya belum turun juga. Ia akan komplain mengenai obatnya nanti. Jika perlu Ia juga akan memarahi dokter itu karena sejak semalam istrinya belum ada perubahan juga.


"Mau nonton." Pinta Celin.


"Tidur lagi saja. Kamu lagi sakit."


"Iya tiduran sambil nonton." Jawab Celin.


"Baiklah." Devan mulai menyalakan TV nya.


"Mas." Celin mendongak menatap suaminya.


"Ya sayang." Jawab Devan merespon cepat.


"Mau macaron."


"Iya. Tunggu sebentar aku suruh orang untuk beli." Devan meraih ponselnya kemudian menghubungi seseorang untu memesan apa yang diinginkan istrinya.


"Mau apalagi?" Tawarnya sebelum mengakhiri panggilan.


"Sudah itu saja." Jawab Celin.

__ADS_1


"Itu saja. Saya ingin cepat." Ucap Devan memberi perintah.


Devan membantu istrinya berpakaian setelah memandikan dengan air hangat. Padahal Ia tadi sudah melarang namun Celin mengeluh jika tidak nyaman memilih untuk menuruti saja.


"Sudah selesai. Ayo kembali. Macaron kamu sudah siap."


"Aku mau jalan sendiri." Ucap Celin saat Devan hendak menggendongnya.


"Iya hati hati." Jawabnya lembut sembari membantu sang istri untuk berdiri.


Celin mulai makan macaronnya dengan begitu bersemangat.


"Enak banget ya?" Tanya Devan mengecup bibir istrinya yang menggemaskan.


"Enak." Jawab Celin agak tidak jelas karena mulutnya sedang penuh.


"Mas. Izinkan aku keluar. Setidaknya jangan kurung aku di kamar. Aku begitu tersiksa seperti ini."


Devan tampak diam memikirkan permintaan sang istri. Jujur Ia tak tega namun di sisi lain juga takut akan di tinggal istrinya. Celin sudah seminggu ini tak keluar kamar. Itu juga yang memicu dirinya sakit seperti ini.


Seperti yang sudah di janjikan Devan memperbolehkan istrinya untuk keluar kamar. Kini pria itu sedang berada di dapur bersama sang istri untuk membuat sesuatu.


"Minum obatnya dulu baru boleh makan." Ucap Devan meletakkan sepiring spaghetti di depan istrinya.


"Aku sudah baikan. Tidak perlu minum obat." Jawab Celin yang sejujurnya malas untuk minum cairan yang kata suaminya manis namun masih berbau obat itu.


"Belum. Tadi cek suhu masih sama. Ayo sekarang minum obatnya dulu." Devan mulai menuangkan di sendok takar bersiap menyuapi istrinya namun wanita itu enggan untuk membuka mulut.


"Kalau tidak minum di kamar terus." Ancam Devan sukses membuat istrinya patuh. Celin tidak mau terkurung lagi. Terlebih harus melayani suaminya tanpa henti. Ia memutuskan untuk meminum obatnya saja daripada hal itu terjadi lagi.


Devan menyuapi istrinya makan spaghetti yang tadi Ia buat.


"Sudah kenyang." Ucap Celin baru makan tiga suap.

__ADS_1


"Ini masih banyak."


"Tapi aku benar benar sudah kenyang."


"Baiklah. Kita kembali ke kamar." Jawab Devan lembut.


Celin membaringkan tubuhnya di ranjang. Entah kenapa Ia merasa begitu lemas memilih untuk tiduran saja.


"Mau makan sesuatu?" Tanya Devan yang kini ikut berbaring memeluk istrinya.


"Tidak."


"Kembalikan ponselku boleh?"


"Tidak ada ponsel." Jawab Devan menanggapi istrinya cepat.


"Lalu bagaimana jika karyawanku menghubungi?"


"Itu biar aku yang urus."


"Kamu egois."


"Jangan mulai lagi. Jangan buat aku marah saat kamu sakit begini."


"Aku akan bicara jujur padamu."


"Katakan."


"Aku benar benar tidak tahan lagi. Hidup seperti ini sama sekali bukan aku. Aku itu bebas dan kamu mengurungku seperti tahanan. Bisa kau bayangkan betapa tersiksanya aku. Sepertinya memang kita tidaklah cocok. Apa tidak sebaiknya kita berpisah saja. Ceraikan aku."


Devan mencengkram dagu istrinya mengabaikan Celin yang mengeluh kesakitan.


"Katakan sekali lagi makan lebih baik kita mati bersama." Ucap Devan begitu dingin melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

__ADS_1


"Shut.... Jangan menangis. Kamu hanya milikku sayang. Sejauh apapun kau berusaha untuk menjauh maka aku akan selalu mendapatkanmu kembali. Jangan sia siakan tenagamu yang melemah itu." Ucap Devan memeluk istrinya lagi.


__ADS_2