Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Sugar Baby?


__ADS_3

Celin sedang sibuk di tokonya. Gadis itu di bantu karyawan mengemas seluruh pesanan yang akan segera di kirim. Penjualan membeludak dan Celin sangat bersyukur. Oleh karena itu Ia memproduksi berkali kali lipat lebih banyak agar tidak kehabisan stok seperti saat ditinggal liburan kemarin.


"Sudah beres. Makan dulu yuk." Ajak Celin setelah melakban kardus terakhir.


"Iya Mbak." Jawab mereka kompak.


Semuanya duduk melingkar. Menikmati nasi dengan ayam geprek ditemani es teh manis sebagai pelengkap nikmatnya makan sama sama. Celin terbiasa makan dengan karyawan. Mereka sudah dianggap sebagai keluarga sendiri jadi begitu akrab.


"Mbak Celin nanti langsung pulang?" Tanya Salah satu dari mereka.


"Iya. Barangnya langsung di kirim ya. Aku nggak bisa ikut. Masih ada keperluan lain."


"Iya Mbak. Makasih ya sudah baik banget sama kita." Mereka mengungkit lagi segala pertolongan yang diberikan Celin hingga mendapat penghidupan layak seperti sekarang.


"Santai saja." Jawabnya singkat dan mereka sudah terbiasa.


Devan mengehela napas melihat kamar yang begitu berantakan. Jaket, sepatu dan kaos kaki selalu berceceran saat istrinya pulang. Ia baru saja dari rumah mertua mengambil barang buru buru pulang untuk menemui istri tercinta namun sepertinya harus mengomel dulu.


"Sudah pulang?" Tanya Celin dengan santai berjalan sambil mengeringkan rambut yang masih basah dengan handuk.


"Sudah. Bereskan." Jawab Devan sekaligus memerintah. Ia akan membiasakan istrinya menjadi orang yang rapi dan bersih.


"Iya sebentar aku keringkan rambut dulu."


"Aku bilang sekarang." Devan seperti biasa begitu menyebalkan. Celin sembari menahan kesal memunguti barang barangnya kemudian meletakkan di tempat yang seharunya.


"Begitu kan bagus. Masa aku harus mengomel setiap hari biar kamu rapi."


"Kalau mau cari yang rapi bukan aku orangnya. Sana cari saja orang lain. Nanti juga aku bersihkan. Aku juga baru pulang. Capek." Celin tak terima. Ia tau maksud suaminya itu baik. Namun, bisakah Devan memberikannya waktu untuk istirahat sejenak. Ia baru pulang dan mandi tentu sangat lelah. Andai saja laki laki bisa mengerti namun sayangnya tidak. Semuanya sama saja. Apalagi Devan yang langsung memerintah dan harus di laksanakan saat itu juga. Tegas di luar batas. Kadang juga membentak. Bukan kadang namun sering dan Celin sudah terbiasa.

__ADS_1


"Maaf." Devan memeluk istrinya yang sedang tiduran di ranjang.


"Memangnya kamu pernah salah?" Tanya gadis itu menyindir.


"Ya. Aku tidak memahami kamu dan sudah bernada tinggi tadi. Aku minta maaf." Ucapnya.


Tak menjawab Celin memilih untuk memejamkan mata karena benar benar mengantuk dan lelah hari ini banyak pekerjaan yang dilakukan.


Seorang gadis berdecak. Ia mengamati dirinya dari cermin. Suaminya hari ini ada acara reuni dan Ia diminta untuk menemani. Parahnya lagi Celin di paksa untuk mengenakan Dress dan di dandani. Meskipun hanya dengan bedak dan lipstik tipis karena tidak terbiasa baginya itu berlebihan.


"Ayo berangkat." Ajak Devan memeluk istrinya dari belakang.


"Harua banget ya pakai begini. Aku nggak nyaman." Protesnya.


"Hanya sebentar." Jawabnya.


"Awas mata kalian." Ancamnya melihat teman laki laki menatap sang istri dengan intens.


"Maaf. Istrimu sangat cantik." Jawab mereka jujur.


"Namanya siapa?" Tanya orang yang duduk tepat di depan Celin.


"Celin." Gadis itu tersenyum cantik membuat Devan berdecak.


Acara reuni di awali dengan makan malam bersama. Celin sedikit terganggu dengan perempuan yang baru datang dan duduk bergabung satu meja dengannya. Sebenarnya bukan hanya dia. Semua orang di sana juga terganggu karena sikap cerewet dan sombong orang yang diketahui bernama Shella itu.


"Umurmu terlihat sangat muda. Masih kuliah?" Tanyanya.


"Umurnya baru 17. Sekarang sedang S2 di kampus jawab Miller." Devan menjawab dengan bangga.

__ADS_1


"Belum kerja dong? Belum tau sulitnya cari uang sudah menikah. Enak ya.." Celotehnya.


"Apalagi kamu cantik. Yang good looking begini gampang dapat duit. Jadi sugar baby Devan ya.." Celin kali ini benar benar tak tahan. Ia sudah menahan emosinya sedaritadi namun perempuan di depannya selalu menghina dengan halus. Celin berdiri menatap tajam Shella yang juga sedang menatapnya.


"Saya sudah kerja. Saya punya cafe dan bisnis online dengan kerja keras saya sendiri sebagai gamer. Saya bukan sugar baby asal anda tau. Pendidikan anda tinggi namun mulut tidak bisa berkata dengan baik. Jika anda mengira saya sugar Baby anda salah. Saya tidak pernah mengemis uang pada laki laki atau bahkan orang tua saya. Jika tidak percaya tanyakan sendiri pada suami saya. Permisi. Maaf atas ketidaknyamanannya." Ucap Celin penuh penekanan kemudian pergi.


"Dia...." Teman teman Devan terkejut.


"Ya. Istriku. Anak bungsu keluarga Miller." Jawab Devan bergegas menyusul istrinya.


"Maaf Kamu tidak nyaman. Tapi aku sangat bangga karena kamu sangat tegas." Ucap Devan selalu sama karena belum mendapat jawaban sang istri.


"Punya teman mulutnya pedas. Bisa bisanya begitu." Gerutu Celin kesal.


"Jangan merajuk. Kita beli eskrim mau?"


"Ya. Tapi kita makan dulu karna aku belum sempat makan tadi."


Devan tidak nyaman di ajak makan di pinggir jalan seperti ini. Namun demi menuruti keinginan sang istri Ia rela saja.


"Kenapa nggak makan?" Tanya Celin melahap dengan semangat bakso yang begitu di elu elukan enak.


"Iya." Devan mulai makan dan ternyata rasanya lumayan.


"Enak kan?"


"Enak."


"Makannya jangan tau menu restoran mahal aja." Ucap gadis itu membuat suaminya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2