Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Seenaknya


__ADS_3

Celin dan suami saat ini sedang singgah di salah satu restoran setelah mengunjungi beberapa tempat wisata. Wanita itu menyiapkan bekal suaminya karena Devan bilang tak cocok dengan makanan luar sementara Celin dan supir makan makanan yang sudah di pesan.


"Enak nggak pak?" Tanya Celin.


"Enak Nyonya."


"Bapak sudah berapa kali ke Bali?"


"Sudah lima kali ini Nyonya."


"Oh. Lumayan sering ya."


Devan kesal melihat sang istri mengobrol bersama supirnya. Wanita itu tak berhenti berceloteh sambil sesekali tertawa ketika mendengar cerita lucu dari Pak David.


"Yang." Panggil Devan menghentikan obrolan keduanya.


"Ya."


"Mau minum." Ucap pria itu manja padahal minuman sudah di depan mata. Celin yang tau maksud suaminya langsung membantu Devan untuk minum.


Selesai dari restoran Celin singgah di salah satu pusat oleh oleh. Wanita itu sedang sibuk berbelanja tiba tiba saja di kejutkan dengan pelukan suaminya.

__ADS_1


"Ada apa lagi?" Celin benar benar kesal karena seharian ini Devan tak berhenti mengusiknya. Pria itu sangat rewel, banyak mau dan menyebalkan. Bayangkan saja di beberapa tempat wisata tadi suaminya tiba tiba mengajak pulang padahal baru seperempat jam. Celin belum puas untuk melihat lihat terpaksa menuruti. Ali alih liburan ini jadi seperti main jauh tapi tidak mendapat apa apa. Kosong sama sekali kosong. Beberapa hari merawat Devan sakit dan Celin tentu di rumah saja. Namun saat ada kesempatan jalan jalan Devan tiba tiba mengajak pulang. Benar benar menyebalkan.


"Ayo pulang." Tuh kumat lagi padahal Celin masih butuh banyak waktu untuk berbelanja oleh oleh.


"Kenapa?"


"Aku nggak nyaman." Jawab Devan karena tempatnya begitu ramai dengan orang asing.


"Kamu tunggu di mobil saja biar aku dan pak David belanja sebentar."


"Nggak mau." Devan tak rela istri jalan tanpa pengawasannya.


"Kali ini jangan buat aku kesal Mas. Aku cuman sebentar."


"Kamu lama." Devan melayangkan protes saat istrinya baru masuk ke dalam mobil.


"Memangnya mau bayar tidak pakai antri. Lagian aku juga hamil kamu suruh lari lari biar cepat?"


"Maaf." Ucap Devan merasa bersalah karena mengacaukan liburan.


Sampai di rumah Celin langsung mengemas oleh oleh ke dalam koper.

__ADS_1


"Sayang aku minta maaf." Devan memeluk istrinya karena sedaritadi Celin tak kunjung menjawab.


"Jangan ganggu aku."


"Aku minta maaf sudah kacaukan liburan kamu."


"Hm iya. Tapi minggir dulu aku mau beres beres."


"Aku bantu."


Semuanya sudah beres. Sepasang suami istri itu memutuskan untuk beristirahat di kamar. Devan memeluk istrinya yang sedang berbaring. Pria itu mengusap lengan Celin dengan lembut.


"Kenapa belum tidur, ada yang dipikirkan?" Tanya Devan melihat sang istri masih belum memejamkan mata.


"Nggak. Memang belum ngantuk aja."


"Nanti sore kita pulang ya." Ucap Devan membuat istrinya membulatkan mata. Ia tak habis pikir. Di tempat wisata tadi masih bisa Ia maklumi. Namun sekarang pulang ke Jakarta dan mendadak baru bilang entah apa masalah pria itu Celin juga tak paham.


"Kenapa mendadak? Kamu jangan aneh aneh Mas."


"Aku nggak aneh aneh. Aku nggak betah. Kita pulang ya. Aku sudah siapkan semuanya."

__ADS_1


"Kenapa sih kalau mau apa apa nggak di bicarakan dulu. Serba mendadak. Berangkat mendadak pulang juga mendadak. Kamu tuh kebiasaan deh semaunya sendiri nggak memikirkan orang lain." Kesal Celin lalu memunggungi suaminya.


"Maaf Sayang. Aku beneran nggak betah. Rasanya di rumah sama disini beda. Kamu jangan marah dong." Devan terus membujuk namun istrinya tak menanggapi.


__ADS_2