Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Good Rekening


__ADS_3

Devan menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan sarapan. Pria itu memeluk kemudian memberikan ciuman bertubi tubi di wajah sang istri.


"Kenapa belum mandi?" Tanya Celin melihat suaminya masih menggunakan celana boxer.


"Nanti dulu. Mau sarapan dulu." Jawab Devan kemudian duduk di kursinya.


"Nanti setelah dari kampus aku ada pemotretan prewedding klien. Pulangnya agak sorean. Kalau mau makan tinggal di panasi di microwave ya." Ucap Celin membuat suaminya menghela napas. Jujur saja Ia keberatan jika istrinya pergi pergi. Namun mengekang kebebasan Celin juga bukan hal baik karena pasti akan bertengkar lagi seperti kemarin.


"Pulang jam berapa?"


"Sekitar jam 3 mungkin kalau tidak macet sudah sampai di rumah."


"Hati hati. Jangan lupa makan dan jangan dekat dekat dengan laki laki." Pesan Devan pada istri tercinta.


Celin telah selesai mandi dan bersiap. Ia menyiapkan segala perlengkapannya mulai dari lensa, laptop, kamera dan lain lain yang menunjang pekerjaannya sebagai fotografer.


"Bantuin Yang." Ucap Devan menghampiri istrinya sembari mambawa dasi.


"Iya." Tak berlama lama Celin langsung mengikatkan dasi untuk suaminya.


"Harus banget ya kamu kerja?" Tanya Devan tak tahan lagi.


"Ini sudah pernah di bahas sebelumnya." Jawab Celin merapikan kerah kemeja sang suami kemudian memberikan kecupan singkat di bibir Devan membuat pria itu membeku di tempat di perlakukan manis seperti itu. Ini pertama kalinya Ia mendapat ciuman karena biasanya Ia yang berinisiatif.


Celin sudah sampai di kampus bersama suaminya namun dengan mobil masing masing.


"Ayo masuk." Ajak Devan.


"Duluan aja. Aku masih mau hubungi klien aku dulu."


"Yasudah aku duluan." Devan tanpa ragu mengecup kening istrinya tak malu menjadi pusat perhatian mahasiswa.


Celin dan kedua sahabatnya makan bersama di kantin kampus. Seperti biasa, mereka bercerita banyak hal karena beberapa waktu terakhir jarang bertemu.


"Pak Devan nggak kamu ajak makan Dek?"


"Mana mau. Di rewel. Kemarin di ajak makan nasi padang aja ogah. Kebiasaan makan si restoran mahal sih."


"Kamu memang nggak gitu?" Tanya Sandra.


"Kan kalian kenal aku nggak setahun dua tahun. Aku makan juga di pinggir jalan biasa. Malah enak."


"Keluarga kamu?"


"Ya kaya Pak Devan. Tapi jangan samakan aku dengan mereka plis.... Kita beda."


Siang hari yang begitu terik Celin memulai pekerjaannya. Ia memang membawa beberapa orang kru untuk membantunya melakukan pemotretan.

__ADS_1


"Jangan tegang Mbak, Mas. Yang santai saja." Ucap Celin tersenyum mengarahkan sepasang pengantin itu agar lebih natural.


"Good. Ini masih ada berapa baju lagi?" Tanyanya.


"Satu lagi sudah selesai Mbak."


"Ok."


Celin melakukan panggilan Video dengan suaminya di sela sela istirahat.


"Capek?" Tanya Devan yang terlihat sedang makan.


"Enggak."


"Sudah makan belum?"


"Sudah tadi. Nanti makan lagi sebelum pulang."


"Jangan lupa makan. Jangan panas panasan. Lihat wajah kamu merah begitu."


"Iya."


"Tapi hari ini gerah banget. Kayanya mau hujan."


"Sepertinya. Hati hati kalau pulang." Devan memberi pesan.


"Sudah kasih kabar ke suami belum? Nanti khawatir kamu nggak pulang pulang."


"Sudah Mas Ari. Lewat chat. Hujan gini nggak berani telponan aku."


"Suami kamu kayanya galak ya..."


"Iya sih. Dari tampangnya dingin begitu." Jawab Celin membenarkan membuat kedua temannya tertawa.


"Kamu nggak berhenti kerja aja? Suami kamu dah kaya."


"Nggak Mas. Ini sudah jadi impian aku. Aku kerja bukan cuman cari uang. Tapi juga menghibur diri. Kalau di rumah bosen nggak ada kegiatan."


Devan memeluk istrinya yang baru masuk. Ia begitu khawatir menantikan Celin yang belum pulang juga.


"Sini aku bantu bawakan." Ucapnya mengambil alih ransel sang istri yang ternyata berat juga.


"Isinya apa sih Yang?"


"Kamera. Hati hati taronya. Di dalam ada lensa juga." Jawab Celin sembari mewanti wanti.


"Kamu mandi dulu. Airnya sudah aku siapin." Wanita itu mengangguk kemudian segera pergi melaksanakan perintah suaminya.

__ADS_1


"Terimakasih." Ucap Celin menerima susu hangat dari Devan. Ia kini sedang sibuk mengedit foto sebelum di cetak.


"Kamu nggak pengen foto begitu?" Tanya Devan sembari mengeringkan rambut Celin dengan handuk.


"Aku nggak pernah foto sih. Jadi nggak pengen."


"Masa kamu nggak pernah foto?"


"Nggak. Kamu tiap hari cek hp aku kan nggak ada foto aku." Ucap Celin di tanggapi anggukan oleh suaminya.


"Bukannya kamu foto aku lagi tidur di buat wallpaper. Malu tau. Gimana kalau ada yang lihat?"


"Ya nggak dong Sayang. Siapa yang berani sentuh barang aku. Lagian kalau di buat wallpaper gitu kalau kangen tinggal lihat."


"Bisa bisanya." Celin berdecak pelan.


Devan duduk sembari memangku istrinya.


"Kenapa kamu sering bolos kelas aku?" Tanyanya.


"Telat bangun. Kamu tau kan kalau malam aku begadang."


"Selain telat bangun?"


"Malas. Aku malas dengan mata kuliah kamu. Tidak menarik." Jawab Celin jujur membuat suaminya cemberut.


"Dosennya ganteng begini kamu malas? Banyak mahasiswi yang nggak suka mata kuliah aku tapi tetap masuk karna aku tampan." Devan membanggakan dirinya.


"Aku bukan mereka." Celin menatap wajah suaminya.


"Lalu?" Tanya Devan sambil mengangkat sebelah alis.


"Ya aku tidak tertarik dengan yang good looking."


"Jadi istriku ini tertarik dengan lelaki yang?"


"Good rekening." Jawab Celin kemudian tertawa.


"Oh. Matre ya kamu. Nakal istriku ini ternyata." Devan dengan usil menggelitik istrinya hingga wanita itu meminta ampun.


"Bukan. Yang penting baik." Jawab Celin membenarkan.


"Kalau aku baik tidak?"


"Baik tapi galak."


"Dasar koala besarku." Devan gemas dengan wajah baby face sang istri. Ia menciumi dengan rakus membuat Celin tertawa lagi.

__ADS_1


__ADS_2