
Devan sudah sampai di restoran. Pria itu bergegas turun dari mobil kemudian melangkah dengan tergesa gesa masuk ke dalam.
"Pak Devan." Ucap Gilang melihat kedatangan dosen sekaligus suami sahabatnya.
"Istri saya mana?" Tanya Devan sembari menelisik sekitar. Belum sempat Gilang menjawab pria itu melenggang pergi menuju ke meja tempat dua orang yang sedang duduk sambil mengobrol santai.
"Sayang." Panggil Devan lalu mengecup kening istrinya.
"Tante." Ia juga menyapa Bunda Gilang yang sedang duduk bersama Celin.
"Iya. Baru pulang?"
"Iya Tante." Jawabnya.
Devan terpaksa ikut makan karena tidak enak menolak permintaan Ibu Gilang terlebih wanita itu yang menyiapkan sendiri. Walaupun arogan dan seenaknya namun Devan juga masih punya sopan santun. Ia selalu menghormati orang yang lebih tua darinya.
"Apa yang kamu makan?" Tanya Devan memperhatikan makanan yang di makan sang istri tak sama dengannya.
"Soto betawi. Mau?" Celin iseng menawari namun siapa sangka Devan mau.
"Biar Bunda ambilkan."
"Oh tidak perlu Bunda. Sama istri saja." Jawab Pria itu membuat Bunda duduk kembali.
"Kebiasaan minta punya aku." Celin menggeser mangkuknya.
"Suapi."
"Itu kan punya tangan." Keduanya mulai berdebat sementara Bunda dan Gilang hanya bisa tersenyum memperhatikan.
"Itu kamu lagi pegang sendok sekalian suapi kenapa sih."
"Menyebalkan." Celin benar benar kesal namun juga melakukan apa yang diinginkan suaminya.
"Gimana? Enak nggak Pak?" Tanya Gilang.
"Enak." Jawab Devan.
"Tumben lidah kamu cocok sama masakan orang. Biasanya rewel."
__ADS_1
"Rewel gimana?"
"Iya Bun. Di ajak makan di mana mana juga komen mulu. Padahal menurut aku enak."
Devan menghela napas. Sudah makan, ngemil, minum es dan sekarang Celin makan es lagi dengan alasan sebagai hidangan pencuci mulut.
"Pilek kamu nanti Dek." Tegur Bunda.
"Begitu Tante. Keras kepala. Susah di kasih tau." Devan menyahuti.
"Kamu memang nggak keras kepala?" Tanya Celin menatap kesal suaminya.
"Nggak." Devan mengelak membuat sang istri berdecak.
"Ayo mandi." Ajak Devan sembari melepaskan jas dan kemejanya begitu masuk ke kamar.
"Ntar ya. Ini masih jam 2. Aku tidur sebentar ya." Celin merebahkan tubuhnya dengan nyaman di ranjang.
"Ngantuk?" Tanya Devan yang biasanya disiplin untuk mandi setelah dari luar kini ikut ikutan istrinya yang malas.
"Hm. Ngantuk." Jawab Celin mulai memejamkan mata. Devan tersenyum, Ia memeluk dengan hangat menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala sang istri sementara tangan yang satunya mengusap punggung Celin agar nyaman.
Sore hari hujan mulai turun padahal siang tadi cuaca cerah. Celin duduk santai sambil makan cemilan mengamati tetes demi tetes air yang turun lewat jendela kaca besar di kamarnya.
"Makan apa?" Tanya Devan ikut duduk bergabung setelah memberi kecupan singkat di pipi sang istri.
"Keripik kentang. Mau?" Celin menawari.
"Makan makanan kemasan terus tidak sehat. Makan salad buah atau sayur gitu."
"Itu kan kamu yang suka bukan aku."
"Bisa saja menjawab. Mulai besok nggak ada lagi belanja cemilan cemilan jenis seperti itu."
"Hm." Celin malas berdebat sekarang dengan suaminya hanya menjawab singkat saja.
"Hachu..."
"Kan begini bersin bersin. Kebanyakan minum es sih. Nggak nurut sama suami. Tunggu disini aku ambilkan obat."
__ADS_1
Devan kembali lagi duduk bersama istrinya sudah dengan membawa air putih dan obat.
"Aku nggak bisa minum obat." Celin bergidik ngeri melihat kapsul yang di bawa sang suami.
"Nggak bisa bagaimana?"
"Ya tidak bisa. Aku tidak minum obat. Pahit."
"Terus kamu kalau sakit bagaimana?"
"Istirahat. Dulu Mbok di rumah yang kasih obat. Cara minumnya nggak pakai air begini. Pakai pisang. Tapi aku nggak bisa kalau gak sama Mbok."
"Sini aku bantu." Devan meminum air kemudian memasukkan obat ke dalam mulutnya. Pria itu dengan tiba tiba mencium bibir Celin lalu menggigit karena mulut istrinya tak kunjung terbuka.
"Telan." Ucap Devan saat kapsul kecil itu sudah berpindah di mulut sang istri.
"Pahit." Celin menatap suaminya berkaca kaca.
"Maaf. Minum dulu." Ia bergegas memberikan air pada istrinya.
"Pahit. Nggak enak." Mulai menangis. Kebiasaannya dari kecil susah minum obat memang tidak bisa dihilangi. Celin selalu saja menangis seperti ini ketika harus menelan sesuatu yang dibencinya itu.
"Cup cup... Ayo makan coklat Baby koala ku sayang." Devan menggendong istrinya seperti hewan julukan yang diberikan untuk Celina. Ia tersenyum lalu memberi ciuman pada sang istri yang begitu menggemaskan.
Celin duduk di kursi pantry menunggu suaminya yang sedang pergi mengambil coklat di kulkas.
"Ayo makan dulu biar pahitnya hilang."
"Itu strawberry bukan coklat."
"Makan buah juga enak loh."
"Tadi katanya mau kasih coklat. Aku mau coklat."
"Baiklah baiklah. Baby Koalaku ini ternyata tidak bisa diajak negosiasi." Ucap Devan kini menyuapi istrinya coklat sesuai permintaan wanita itu.
"Masih pahit?"
"Tidak." Jawab Celin.
__ADS_1