
Devan terbangun dari tidurnya segera duduk untuk mengumpulkan nyawa. Laki laki itu menghela napas melihat Celin tertidur dengan PC yang masih menyala. Ia lupa semalam ketiduran saat istrinya masih bermain game. Devan beranjak dari ranjang menghampiri sang istri. Dengan gerakan pelan Ia memindahkan gadis cantik itu ke ranjang agar nyaman kemudian memberikan kecupan lembut sebelum pergi.
Hari ini Devan mulai mengisi kelas pukul 10 jadi Ia memiliki waktu untuk menyiapkan sarapan karena tak ingin membangunkan istrinya yang masih sangat mengantuk. Devan hanya menyiapkan sarapan sebisanya. membuat sandwich dan susu sebanyak dua porsi untuknya dan sang istri. Laki laki itu sangat telaten memotong selada, membuat telur dan sosis lalu menatanya di piring. Untuk hal seperti ini Devan bisa. Namun untuk masakan masakan yang sulit di buat Ia butuh belajar dulu agar paham.
"Sudah bangun." Ucap Devan menghampiri istrinya sembari mengikat dasi. Gadis itu masih berbaring tengkurap sembari memainkan ponsel.
"Sarapan yuk." Ajaknya dengan nada lembut sembari mengecup kepala Celin berkali kali.
"Iya tunggu dulu aku masak dulu." Jawabnya meletakkan ponsel kemudian segera duduk.
"Aku sudah siapkan sarapan. Kamu tidak perlu masak."
Setelah cuci muka dan gosok gigi Celin duduk menunggu suaminya mengambil makanan di dapur.
"Ini kamu yang buat?" Tanya gadis itu melihat sandwich yang sudah tersaji di depannya. Devan mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian ikut duduk memakan sarapannya sendiri.
"Enak?" Tanya Devan setelah istrinya mencoba.
"Enak."
"Kamu jadi lanjutin S2? Nanti aku bantu urus administrasinya."
Celin menatap suaminya. Di hati kecilnya ingin sekali meneruskan pendidikan di luar negeri. Namun apa daya jika semua menentang. Terlebih lagi keluarganya begitu kejam. Jika mereka bilang tidak maka apapun bisa dilakukan untuk mencegahnya pergi.
"Jadi. Terpaksa. Hanya boleh lanjut di sini kan." Jawabnya kesal.
"Maaf." Devan menggenggam tangan istrinya berharap Celin akan mengerti betapa Ia benar benar tak ingin terpisah.
Celin baru selesai mandi. Gadis itu menghampiri suaminya yang masih duduk santai sembari memainkan ponsel.
"Kenapa belum berangkat juga?" Tanyanya karena Devan sudah berpakaian rapi sedari tadi namun belum juga beranjak.
__ADS_1
"Tunggu kamu selesai. Mau pamitan." Jawabnya kemudian berdiri memeluk sang istri.
"Kamu nggak pergi kan?" Celin menggeleng. Ia mengatakan jika hari ini di rumah saja.
"Baiklah. Nanti aku pulang jam satu." Devan memberikan kecupan kemudian segera pergi setelah berpamitan.
"Pak Devan." Panggil Sandra mengejar suami sahabatnya itu setelah keluar dari kelas.
"Ada apa?"
"Celin jadi lanjutkan studinya ke Inggris?"
"Tidak. Dia lanjutkan di sini. Tidak ada yang mengizinkan untuk pergi ke sana termasuk saya." Jawab Devan buru buru pergi.
Tak terasa matahari sudah tepat berada di atas. Celin masih sibuk menyiapkan makan siang karena teman temannya akan datang untuk mengerjakan tugas.
"Itu pasti mereka." Gumamnya saat mendengar bel kemudian buru buru berlari ke depan untuk membuka pintu.
"Apaan sih. Biasa aja. Jangan begitu. Seperti orang lain saja. Ayo makan." Ajaknya.
"Pak Devan belum pulang?"
Celin menggeleng menanggapi Sandra karena mulutnya sedang penuh.
"Katanya mau pulang jam 1." Jawabnya setelah menelan makanan yang memenuhi mulut.
Devan baru sampai. Pria itu sedikit terkejut saat melewati ruang tengah karena keberadaan dua teman istrinya yang tampak sibuk mengerjakan sesuatu.
"Pak Devan." Sapa Sandra dan Gilang agak sungkan.
"Hm. Lanjutkan saja. Saya masuk dulu." Pamitnya.
__ADS_1
Celin sedikit terkejut saat tiba tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Sudah makan?" Tanyanya.
"Belum." Jawab Devan meletakkan dagunya di pundak sang istri.
"Makanannya sudah siap di meja makan. Aku mau ke depan dulu." Pamitnya namun Devan enggan melepaskan pelukan.
"Ini sudah di print." Ucap Celin menghampiri dua sahabatnya yang sedang duduk memakan cemilan.
"Thank." Jawab Sandra sambil mengecek kembali tugasnya.
"Kita nggak masalah kan disini?" Tanya Gilang lagi.
"Enggak. Tanya itu mulu. Oh iya lupa. Ini kasihkan ke Bunda ya Kak. Teh hijau sama dark chocolate. Celin belum bisa kesana. Besok deh kayanya bakal ke rumah Bunda."
"Makasih. Nanti Kakak sampaikan." Gilang menerima paper bag pemberian adiknya.
Devan menghampiri istrinya yang sedang bermalas malasan di sofa setelah teman temannya pulang.
"Mereka sudah pulang?" Tanyanya basa basi sambil duduk.
"Sudah barusan."
"Kita di suruh ke rumah Papa." Devan menyampaikan pesan mertuanya saat mereka saling telponan tadi.
"Kamu aja yang pergi. Aku mau disini aja." Jawab Celin malas.
"Papa mintanya kamu juga datang." Devan mencoba membujuk.
"Kamu aja. Aku ngantuk. Mau tidur." Celin memejamkan mata dengan nyaman tak peduli dengan suaminya yang masih berbicara.
__ADS_1