
Celin baru saja selesai mengurus administrasinya untuk jenjang S2. Gadis itu kini sedang makan di kantin bersama kedua sahabatnya.
"Liburan pada kemana?" Tanya Sandra sambil memotong kecil kecil bakso Celin yang berukuran besar.
"Kalo aku ya di rumah. Kemana lagi? Atau nggak kita camping aja gimana?" Tanya Gilang memberi usul.
"Aku sih Ok. Kamu gimana Dek?" Sandra menyenggol lengan Celin yang sedaritadi sibuk dengan ponselnya.
"Nanti aku kabari." Jawabnya masih fokus menatap layar ponsel.
"Lagi ngapain sih sibuk banget?" Gilang sedikit kesal karena beberapa hari tidak bertemu harusnya mereka melepas rindu saling mengobrol namun Celin malah asik sendiri.
"Lagi balas chat klien. Katanya mereka mau pengerjaan iklan di majukan nanti malam." Celin meletakkan ponselnya di meja lalu menyantap baksonya yang sudah sedikit dingin.
"Bunda tanyain kamu Dek."
"Nanti habis ini ketemu Bunda. Bunda ada di restoran atau di rumah?"
"Di rumah. Nanti barengan aja sekalian pulang."
Celin mengangguk setuju kemudian menawari Sandra untuk ikut juga namun gadis itu menolak karena ada kesibukan.
"Punya pacar sekarang?" Tanya Celin tiba tiba membuat Sandra terdesak.
"Hati hati." Gilang membukakan botol air lalu memberikan pada temannya itu.
"Nggak. Aku mau bersih bersih kamar. Tadi pagi berantakan belum sempat di bersihkan. Nanti Ibu ngomel. Oh iya Celin. Terimakasih ya untuk keluarga kamu. Ibu bilang semua biaya dan pembangunan panti ternyata dari keluarga kamu. Aku ngga nyangka."
Celin mengernyitkan keningnya bingung.
"Aku malah baru tau." Jawabnya kembali menyantap baksonya.
Celin dan Gilang sudah sampai di rumah. Keduanya diam diam menghampiri seorang wanita yang sedang sibuk menyiram tanaman.
__ADS_1
"Bunda. Kok Celin di siram." Keluhnya tiba tiba wanita itu berbalik. Karena terkejut selang air yang di bawanya seketika menyemprot Ia dan Gilang hingga basah.
"Duh maaf. Kalian bikin kaget sih." Jawab wanita itu buru buru mengajak anak anaknya untuk masuk ke dalam.
Celin hanya memakai kaos karena hoodie yang Ia kenakan masih basah. Gadis cantik itu sekarang sedang mengobrol bersama Bunda sembari menikmati pisang goreng dan es teh.
"Bun. Kita mau camping boleh?" Tanya Gilang meminta izin.
"Camping dimana? Tidur di rumah aja nyaman kalian mau camping segala."
"Ya makannya itu Bun. Kita tuh mau cari sesuatu yang beda. Kalau tempatnya sih seperti biasa mungkin di puncak nggak terlalu jauh." Jawab Celin sambil tersenyum.
"Bunda sih Boleh. Memangnya suami kamu kasih izin?"
Celin melirik Gilang yang tampak mengangkat kedua bahunya.
"Ah itu masalah kecil Bun."
"Kamu dari mana saja?" Tanyanya berjalan menghampiri sang istri yang baru sama menutup pintu.
"Kan sudah izin dari rumah Bunda. Bunda dari kemarin minta ketemu tapi bisanya baru sekarang." Jawab Celin jujur.
"Kamu telat satu jam. Katanya mau pulang jam dua."
"Iya. Tadi mampir beli lensa kamera. Malam nanti ada kerjaan iklan untuk produk."
"Kamu nggak bisa ya nggak sibuk terus." Ucap Devan membuat istrinya berhenti melangkah.
"Dari dulu kan memang aku selalu sibuk. Lagian kamu juga yang ngomong kalau aku boleh lakukan apapun asal nggak pergi. Kalau mau istri yang nggak sibuk kenapa nggak nikah sama Zahra aja sih di kan udah nggak kerja sekarang. Lagian kalian kan yang di jodohkan." Jawab Celin membuat suaminya menghela napas. Ia harus banyak banyak bersabar menghadapi gadis yang terhitung masih remaja itu.
Celin sibuk dengan kameranya di ruang kerja sedang membuat video iklan sementara Devan juga sedang mengoreksi tugas para mahasiswa yang beberapa masih belum sempat Ia lihat. Laki laki itu berdecak saat spidol merah yang Ia gunakan habis.
"Ada apa?" Tanya Celin membuka pintu.
__ADS_1
"Kamu masih lama?"
"Enggak. Sudah selesai tinggal di edit."
"Pinjam pulpen atau spidol warna merah. Sekalian temani Aku di depan. Nggak enak sendiri." Celin tak menjawab. Gadis itu masuk ke dalam kemudian kembali lagi memberikan apa yang diinginkan suaminya.
"Sendiri aja. Aku juga lagi sibuk." Jawabnya sembari menutup pintu.
Celin hanya melirik kedatangan suaminya sekilas kemudian fokus lagi pada pekerjaan.
"Karena kamu yang nggak mau kesana jadi aku yang kesini." Ucap Devan mulai mengoreksi lagi apa yang sempat tertunda.
"Aku mau camping." Devan menghentikan kegiatannya kemudian menatap istri cantiknya yang kebetulan sedang menatapnya juga.
"Nggak." Jawab laki laki itu tegas.
"Hanya dua hari di puncak. Sebelum liburan ke paris."
"Sama siapa? Jangan bilang sama Gilang juga." Kesal Devan.
"Iya. Sama kak Sandra. Kita sudah biasa camping bertiga."
"Tetap nggak boleh."
"Aku tetap pergi. Kamu nggak bisa larang aku." Celin tak mau kalah.
"Aku suami kamu." Bentak Devan.
"Apa yang kamu harapkan sih. Pernikahan kita hanya perjodohan semata. Pernikahan di atas kertas."
Devan tak terima. Ia menghampiri istrinya lalu menatap tajam gadis itu.
"Oke kalau kamu menganggapnya begitu. Tapi pernikahan kita sudah sah secara hukum dan agama. Ingat itu baik baik." Tutur Devan menahan emosinya dengan susah payah.
__ADS_1