Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Kamu Tidak Bisa Pergi


__ADS_3

Rendi menatap bosnya yang akhir akhir ini sering melamun.


"Sebenarnya kamu kenapa Dev?" Tanyanya berharap pria itu mengaku dan berbagi cerita.


"Tidak ada." Jawab Devan kembali mengecek berkasnya.


"Yakin kamu sedang tidak ada masalah? Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kita sahabatan sudah lama Dev. Bukan setahun dua tahun tapi puluhan tahun. Jadi aku tau kamu sekarang sedang ada sesuatu yang dipikirkan."


Devan menghela napas. Ia berdiri dari kursinya kemudian berjalan ke arah dinding kaca untuk melihat pemandangan kota dari ketinggian. Devan mulai menceritakan semuanya mulai dari pertengkarannya dengan sang istri hingga sekarang mengurung wanita itu di dalam rumah.


"Apa itu tidak keterlaluan Dev?"


"Aku terpaksa melakukannya. Aku takut kehilangan dia."


"Tapi dengan sikapmu yang begini bukannya dia malah membencimu. Bukannya bermaksud ikut campur tentang rumah tangga kalian. Tapi Dev, Istrimu itu masih sangat muda jadi wajar jika banyak kemauan. Masa mudanya seakan terenggut karna harus tiba tiba menikah. Banyak impian yang belum Ia capai. Terlebih kamu membatasinya seperti ini malah membuat Dia semakin yakin jika pernikahan kalian adalah sebuah beban." Rendi mencoba membuka pemikiran sahabatnya yang memang sejak dulu bertindak sesuka hati tanpa memikirkan orang lain. Devan adalah orang yang pemaksa. Apa apa harus sesuai dengan kemauannya. Sejak dulu memang begitu dan sekarang sikapnya tak kunjung berubah juga.


"Apa? Bagaimana bisa?" Devan memukul meja di depannya saat sedang bertelponan dengan seseorang.


"Aku tidak mau tau. Cari sekarang."


"Ada apa Dev?" Tanya Rendi sesaat setelah sahabatnya memasukkan ponsel di saku jas.


"Istriku kabur. Pengawal bodoh." Ucapnya bergegas pergi.


"Tanganmu." Rendi mengejar temannya yang terluka.


"Biarkan."


Devan sudah sampai di rumah. Pria itu kini sedang menghajar para pengawalnya yang ceroboh.


"Bagaimana bisa keluar?"


"Nyonya melewati kolong pagar Tuan. Tadi nyonya ingin ke taman dan kami menjaganya dari jauh."


"Bodoh." Devan memberi bogeman lagi pada mereka.


"Cari lagi sampai dapat. Jika tidak jangan kembali."


"Baik Tuan." Jawab Mereka langsung membubarkan diri.


Rendi membantu sahabatnya untuk mencari sang istri. Mereka telah ke cafe, studio hingga toko namun Celin belum juga ditemukan.


"Di rumah Mamanya mungkin. Kita cari kesana Dev?"


"Tidak mungkin ada disana."

__ADS_1


"Di rumah temannya. Kamu ada yang tau?"


"Di rumah Gilang. Ayo kesana." Jawab Devan bergegas menyuruh Rendi untuk putar balik.


"Pak Devan." Gilang dan Bunda terkejut melihat kedatangan suami Celina.


"Istri saya disini?" Tanyanya to the point.


"Tidak Pak. Seminggu lebih Celin tidak kemari."


"Iya. Tidak mau angkat telpon dari Bunda juga. Memangnya ada apa?"


"Tidak Tante. Tadi dia ngambek terus pergi sampai sekarang belum pulang." Jawab Devan menutupi kejadian sebenarnya.


"Oh begitu. Bunda ikut cari ya."


"Tidak perlu Tente. Mungkin sekarang di rumah Papa. Devan kesana dulu. Permisi."


"Kalau ada apa apa kasih kabar ya."


"Baik Tante."


Devan memasuki mobilnya.


"Gimana?" Tanya Rendi yang sedaritadi menunggu.


"Tidak ada."


Rendi mengangguk segera melajukan mobilnya.


Hingga menjelang petang namun masih belum ada kabar. Devan mondar mandi gelisah tak karuan memikirkan istrinya.


"Duduklah Dev."


"Bagaimana bisa aku duduk tenang sementara istriku entah kemana."


"Tunggulah. Pasti ada kabar. Jangan ragukan orang orang yang aku rekomendasikan." Ucap Devan menenangkan.


"Apa mertuamu tau semua ini?" Lanjutnya bertanya.


"Tidak."


Beberapa orang pria tergesa gesa menghampiri Devan dan Rendi yang masih dalam posisi yang sama.


"Bagaimana? Kau menemukannya?"

__ADS_1


"Nyonya sedang ada di bandara Tuan." Jawab mereka.


"Bagus. Bawa aku kesana." Devan bergegas menarik tangan Rendi yang masih duduk.


Celin berjalan cepat menuju ke toilet saat melihat mobil suaminya berhenti. Ia tak mau pelariannya sia sia dan berakhir di tangan pria kejam itu lagi. Belum sempat menutup pintu tangan kekar seseorang menahannya.


"Mau kabur kemana kamu?" Tanya seseorang yang Ia tau betul itu suara suaminya.


"Brak..." Suara pintu terdorong kencang membuat Celin terjatuh. Sosok pria berjalan ke arahnya dan mencengkram dagu Celin dengan kuat.


"Mau kemana kamu?" Tanya Devan dengan nada yang tidak bersahabat.


"Mau pergi darimu. Itu yang aku mau."


"Sudah aku bilang sekeras apapun kamu berusaha pasti tidak bisa. Karna kamu adalah milikku." Devan menarik tangan istrinya hingga wanita itu berdiri.


"Mas perutku sakit." Ucap Celin mengimbangi langkah suaminya namun Devan tak peduli.


"Dev. Perut istrimu sakit." Rendi merasa Iba akhirnya angkat bicara jika biasanya hanya diam saat Devan sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Biarkan."


"Devan perutku sakit." Celin mulai melemah. Wajahnya pucat hingga beberapa saat Ia pingsan dalan pelukan suaminya yang begitu cepat menangkap tubuh ringan itu sebelum menyentuh lantai.


Devan sedang menunggu istrinya yang masih di periksa dokter.


"Bagaimana dok?" Tanya Pria itu berhenti mondar mandir saat beberapa dokter keluar dari ruangan.


"Nyonya sedang mengandung dua bulan. Kandungannya lemah dan untung saja tidak terjadi sesuatu pada janinnya. Usahakan jangan sampai merasa tertekan dan stress. Juga ada baiknya untuk bed rest. Saya akan resepkan obat penguat kandungan dan vitamin."


"Ya." Jawab Devan tersenyum licik. Akhirnya apa yang telah direncakan terwujud. Dengan begini Celin tak akan kabur lagi darinya.


Devan menemani istrinya yang belum juga siuman padahal Celin saat ini sudah berada di rumah setelah mendapatkan serangkaian pemeriksaan oleg dokter kandungan.


"Um..." Celin menggeliat kemudian membuka matanya.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Devan.


"Pusing."


"Mau minum?" Tawarnya di jawab anggukan oleh sang istri.


"Kita akan menjadi orang tua." Ucap Devan mengelus perut istrinya.


"Maksudmu?" Celin meminta kejelasan.

__ADS_1


"Kamu sedang mengandung. Dan itu artinya kamu tidak bisa pergi dariku." Ucap Devan dengan senyumnya kemudian mengecup bibir sang istri yang diam menatap lurus ke depan.


__ADS_2